Pemilu dan Investasi

55

   BAGI  sebagian oerang Indonesia, Pemilu 2019 merupakan pemilu yang paling krusial, melelahkan, dan ingar bingar politik yang nyaris kheos. Namun bagi orang luar negeri, Pemilu Indonesia 2019 merupakan temilu terhebat di dunia. Indonesia mampu menyelengarakan pemilu setrentak hanya dalam waktu satu hari. Padahal, Indonesia meruapakan negara kepulauan yang sangat luas dengan penduduk dan kebudayaan yang sangat beragam.Di Negara lain, pemilihan presiden saja bisa berlanjut berhari-hari.     Ternyata pujian itu bukan sekladar pemanis bibir. Bukan sekadar basa-basi diplomatik positif saja. Justru keadaan kondusif pada penmilu itu menjadi jaminan, usaha mereka di Indonesia aman dan makin menjanjikan. Hal itu terbukti, cukup banyak ionvestor mancanegara yang berbondong masuk dan menanamkan modalnya di Indonesia. Percaya atau tidak, menurut Menteri Perindustrian, Airlangga Hartato,  seusai Pemilu 2019, akan masuk investasi ke Indonesia seniali Rp 79 triliun.

     Para investor itu akan membuka usaha dalam bidang makanan-minuman (mamin), tekstil-produk tekstil, serta alas kaki. Menurut Airlaggga, investasi pada bidang mamin mencapai Rp 63 triliun.Investasi  bidang TPT Rp 14 trikliun, dan industri alas kaki Rp 2,8 T. Investasi mamin dan alas kaki, naik 11 persenm dibanding tahun 2018. Sedangkan investasi pada usaha TPT, naik hampir dua kali lipat.

     Seperti dimuat PR(22/4), pemerintah akan terus menggenjot investasi, khususnya pada industri  orientasi ekspor. Industr padat karya seperti TPT, mamin, dan alas kaki merupakan industri padat karya. Selain dapat mendorong ekspor, industri itu punya nilai tambah sebagai pembuka lapangan kerja yang cukup luas. Investasi yang berdatangan ke Indoneskia itu bukan hanya pada industri sekelas mamin dan alas kaki tetapu juga pada bidang industri manufaktur.  Pada sektor itu investasi terus meningkat.   Tahun 2014 investasi pada bidang industri manufaktur mencapai Rp 195,74 triliun. Tahun 2016 meningkat sampai Rp 222,3 tiliun.

     Investasi tumbuh pula pada sektor industri petrokimia. Secara khusus, Arab Saudi akan berinvestasi Rp 84,31 triliun. Negara itu memprerdiksi Indonesia akan menjadi lahan industri petrokimia terkemuka di Asia Tenggara. Diprediksi, industri petro kimia dari hulu sampai hilir akan menghasilkan berbagai produk bahan baku industri.

      Kita tentu saja mengapresiasi masuknya investasi cukup besar itu. Kita berharap kepercayaan global terhadap Indonesia bukan sekadar angin surga. Investasi yang besar itu tidak justru menjadi penghambat tumbuhnya sumber daya manusia dan sumber daya modal dalam negeri. Investasi itu justru dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang juga menjadi inspirasi bagi pemodal dan para ahli dalam negeri. Pertumbuhan investasi jangan justru semua sektor dan sumber alam Indonesia berada dalam genggaman asing. Mereka hanya memanfaatkan kelemahan permodalan dan kreativitas bangsa bagi keuntungan mereka . Kita tridak ingin, mereka mengeruk keuntungan yang sangat besar sedangkan kita hanya mendapat warisan lingklungan yang rusak. Air dan udara yang tercemar limbah industri.

     Bangsa ini tidak ingin mengulang lagi kerusakan Sungai Citarum dan hampir semua sungai di Jawa,. Pembersihan Citarum dari limbah industri itu membutuhkan biaya dan tenaga sangat besar. Kita lengah ketika investor membanguin industri di sepanjang DAS Citarum. Yang sdilihat pemerintah kala itu, hanya pertumbuhan industri tanpa memperhitungkan dampaknya dan tanpa membuat kisi-kisi baik secara regulasi maupun teknis.

    Silakan investor menanamkan modalnya di Indonesia karena investasi itu penting bagi pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan. Akan tetapi kita haruis siap dengan regulasi yang jelas dan tindakan hukum yang jelas dan tegas pula. Sebaliknya, pemerintah juga harus terus mendorong swasta nasional dan BUMN dapat berkioprah dalam mengelola sumber daya alam Indonesia secara mandiri. Swsata dan BUMN didoriong menjadi investor di Negara lain.***