Sate Blater Berbumbu Rahasia Tahan Disimpan Tiga Hari

112

            Sate merupakan salah satu  kuliner yang sangat familiar yang memiliki citarasa serta kekhasan dalam mengolahnyadi masing-masing daerah, di antaranya seperti sate madura , sate maranggi, sate buntel dan lainnya. Di Purbalingga ada sate Blater ,  karena asal muasal sate ini dari Desa Blater, Kecamatan Kalimanah. Meski berbahan daging ayam, sate Blater sedikit berbeda dengan sate madura atau sate ayam lainnya. Perbedaannya terletak pada cara memasaknya. Umumnya proses pembuatan sate dibakar saat daging masih mentah, berebeda dengan sate Blater,  sebelum dibakar  direndam dalam bumbu  racikan khas warga Desa Blater. Mulai dari perebusan di air mendidih , direndam dalam bumbu khas Blater agar bumbu meresap ke dalam daging dengan sempurna. Saat sate dibakarpun  berkali-kali dilumuri bumbu yang sama, hingga saat disantap memiliki citarasa yang terasa lezat .Proses memasak yang berbeda,  sate ini  kuat disimpan hingga tiga hari. Dimakan panas-panas maupun sudah dingin dengan rasa manis gurih , memberi sensasi pada mulut penikmatnya , ditambah irisan lontong. Keawetan sate Blater bukan karena tambahan pengawet, tapi dalam proses pengolahan dari mulai  daging mentah sampai jadi tusukan sate cukup lama. Itulah sebabnya kenapa daging ayam untuk sate Blater menggunakan bibit ayam yang sudah cukup umur. Tujuannya agar penyusutan daging tidak terlalu banyak. Proses yang lama dalam pembuatan sate ini  agar sate ayam Blater  awet dan kuat hingga tiga hari.

Selama ini ada semacam pakem, pedagang sate Blater tidak boleh berjualan di luar Desa Blater. Untuk penusuknya, bukanlah dari bambu seperti umumnya penusuk sate dari bambu, tapi dari lidi pohon kelapa. Meski menjadi ciri khas, namun banyak pedagang yang menyadari bahwa pakem , sedikit menghambat perkembangan sate ayam dengan resep turun-temurun ini. Indra, adalah salah satu pedagang sate yang menyadari hambatan dari berlakunya pakem ini memberanikan diri berdagang di luar Desa Blater, yakni di wilayah kota . Keberanian Indra ini  ditentang oleh para sesepuh dan sesama pedagang sate Blater. Mereka khawatir keaslian sate Blater akan  pudar. Namun, keberadaan warung sate Blater Indra di tengah kota yang mudah dijangkau, telah mengobati kerinduan pecintanya yang tak sempat bertandang ke Desa Blater. Sejak itu, banyak pedagang sate Blater yang mengikuti jejak Indra berjualan di luar desanya.

(E-001)***