Optimisme Jelang Ramadan

50

MENJELANG  Ramadan dan Idulfitri tahun ini para pengusaha memprerdiksi, penjualan di sektor ril, tetap akan tumbuh. Optimisme itu tampak pada subsektor makanan-minuman dan fesyen termasuk alas kaki. Menurut KOMPAS yang mengutip keterangan Ketua Himpunan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (Hippindo), Budihardjo Idansjah, saat Ramadan dan Lebatran 2019, penjualan naik dibanding tahun 2018. Pada  Lebaran tahun lalu, pertumbuhan belanja mencapai 20 persen. Sedangkan tahun ini diptrredisksi naik menjadi 30 persen dibanding bulan-bulan lain.   Hasil survey konsumen Bank Indonesia tingat kepercayaan atau indeks keyakinan konsumen (IKK), relatif tetap. Tahun 2018 IKK jelang Ramadan, Mei 2018 berkisar pada angka 122,2 – 125,1. Sedangkan tahun ini (Februari – Maret)  sekitar 125,1 – 124, 5. Sedangkan menurut prediksi Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), kinerja sektor ritel secara bulanan akan tumbuh antara 2 – 3 kali lipat dibanding buan lain.

    Menurut prakiraan Aprindo, para peritel tidak terlalu antusias meningkatkan stok barang. Biasanya, jelang Ramadan dan Lebaran,  para peritel mulai menyediakan stok lima bulan sebelumnya. Tahun ini tampaknya para peritel tidak terlalu agresif menyediakan barang, baik busana maupun makanan dan minuman. Namun Aprindo tetap optimistis, pada Ramadann-Lebaran tahun ini, omzet sektor ritel akn tumbuh 8-10 persen dibanding tahun lalu yang mencapau sekira Rp 250 triliun.

    Sikap para peritel yang tidak terlalu agresif menyediakan barang jelang Ramadan-Lebaran, karena beberapa hal. Pertama, kondisi perekonomian global yang masih labil. Kemudian, makin maraknya pasar berbasis digital.Sedikitnya perilaku berbelanja konsumen secara berjaringan, akan mengurangi transaksi secara ritel. Ketiga, situasi dalam negeri pasca-pemilu. Masyarakat seperti dihinggapi rasa was-was yang berlebihan. Mereka sangat berhati-hati membelanjakan uangnya secara agresif.

    Rasa was-was itu wajar hinggap pada masyarakat karena kontestasi pemilu tahuin ini, sangat ketat. Hiruk-pikuk politik yang terus memanas membuat masyarakat memilih berbelanja secara online. Mereka enggan pergi ke luar rumah. Takut terjadi bentrok fisik antar-pendukung calon. Mereka merasa trauma dengan terjadinya demo besar-besaran. Ikutan dari demo besar-beasran itu biasanya sampai ke pusat-pusat perdagangan, ritel, bahkan ke warung-warung tradisional. Para oknum pedemo, banyak yang menumpang unjuk rasa untuk melalukan penjarahan, perusakan, dan pemerasan.

     Para pelaku usaha, baik peritel, pemasok, maupun konsumen beharap adanya jaminan keamanan. Masyarakat dapat melakukan ibadah saum dan idulfitri dengan  aman, tenang, dan nyaman. Ibadah saum umat Islam yang agung itu, tidak ingin terganggu dengan ingar bingar politik. Para pendukung calon yang begitu bersemangat bergerak demi kesejahteraan rakyat, justru pada pelaksanaannya mengganggu ketentraman masyarakat. Rasa takut dan traumatis bisa berakibat masyarakat apatis. Mereka menarik diri dari kegiatan sosial, ekonomi, dan politik padahal kegiatan politik membutuhkan partisipasi masyarakat sebesar-besarnya.

     Pengaruh pemilu serentak tahun ini, sangat besar terhadap kehiduoan sosial dan perekonomian. Pertuimbuhan ekonomi dan masuknya investasi, membtuhkan situasi kondusif,aman, tentram, Stabilitas nasional meruapakan prasarat pertumbuhan ekonomi. ***