Membangun Ekosistem Green Fashion

49

PERKEMBANGAN industri fesyen ramah lingkungan semakin pesat di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Bagaimanapun, sebagian besar pelakunya masih didominasi oleh pelaku bisnis fesyen skala kecil dan menengah. Sayangnya, ekosistem fesyen ramah lingkungan di Tanah Air juga belum terbangun secara mumpuni.Perkembangan industri fesyen ramah lingkungan semakin pesat di berbagai penjuru dunia, termasuk di Indonesia. Bagaimanapun, sebagian besar pelakunya masih didominasi oleh pelaku bisnis fesyen skala kecil dan menengah.

Ekosistem fesyen ramah lingkungan di Tanah Air juga belum terbangun secara mumpuni. Salah satu penyebabnya adalah citra bahwa material green/eco fashion cenderung mahal dan sulit didapatkan, serta pasarnya belum terbangun dengan kuat.

Akan tetapi, di beberapa kota, pergerakan untuk memperkuat industri fesyen ramah lingkungan mulai digagas. Salah satunya adalah di Bandung, yang merupakan kota ‘pusat mode’ dan garmen paling terkenal di Indonesia.

Di Bandung, saat ini telah dirintis ekosistem dunia fesyen ramah lingkungan yang terintegrasi di dalam satu areal. Ekosistem tersebut terdapat di The Green Kosambi Sourcing Mall (GSM) yang berlokasi di bilangan Lengkong, Kota Bandung, Jawa Barat.

CEO Green Kosambi Francis Dina Kartantya menjelaskan bahwa ekosistem fesyen tersebut dibuka untuk mengikuti perkembangan tren fesyen yang terus berubah. Bandung dipilih karena merupakan kota tekstil dan garmen paling berpengaruh di Indonesia.

“Dalam hitungan bulan, selalu muncul mode fesyen baru. Hal ini tak lepas dari produktivitas para desainer lokal yang inovatif merancang baju-baju model baru, dan munculnya generasi muda kreatif yang antusias dengan industri fesyen,” ujarnya.

Menurutnya, saat ini masyarakat semakin cerdas dan berselera tinggi dalam memilih produk fesyen. Sayangnya, di sisi lain, subsektor ini masih menghadapi banyak tantangan.

“Produk fesyen lokal masih menjadi anak tiri. Pasar masih memprioritaskan ruangnya untuk produk-produk fesyen impor, sehingga produk fesyen lokal kurang mendapatkan tempat di pasar dalam negeri,” tuturnya.

Tantangan lain yang tak kalah penting adalah renggangnya sinergi industri hulu ke hilir; mulai dari pabrik tekstil/garmen, perancang busana, hingga ke urusan pasar.

“Oleh karena itu, kami menciptakan ekosistem fesyen di mana produsen mesin, bahan kimia, pabrik tekstil/garmen, perancang busana, sampai ke market place dan lembaga pendidikan, fotograf, periklanan, hukum, HKI, dan lembaga pembiayaan/perbankan dapat berinteraksi dan bersinergi,” ujarnya.

Tujuannya adalah agar pengembangan pasar produk fesyen lokal khususnya busana santun (modest wear) dan denim dapat dibuka lebih luas. Selain itu, agar pengembangan teknologi produksi lokal dapat bersaing di pasar dalam negeri dan global.

Ramah Lingkungan

Di GSM, para pelaku UKM dan startup fesyen lokal juga ditanamkan untuk mempraktikkan sistem produksi yang ramah lingkungan dengan menggunakan mesin-mesin berteknologi mutakhir. Misalnya saja teknologi laser untuk mencetak pola, atau teknik pencucian tanpa air.

Di sana disediakan mesin-mesin baru seperti Jeanologia Laser, Optimum Digital Ultra Wide direct to fabric printing, CAD/CAM pola, mesin-mesin jahit, obras, dan mesin garmen lainnya yang harganya cukup signifikan.

“Kami berharap dapat membantu para pelaku UKM dan startup yang ingin mendapatkan akses atau belajar terhadap mesin-mesin tersebut tanpa harus mengeluarkan modal untuk membelinya,” kata Francis.

Salah satu yang paling mencuri perhatian di GSM adalah mesin cetak laser dari Jeanologia. Perusahaan asal Spanyol ini memboyong teknologi untuk menciptakan denim tanpa merusak lingkungan dengan penggunaan listrik, air, dan bahan kimia seminimal mungkin.

Umumnya, produksi sehelai celana jin membutuhkan 70 liter air, listrik berkapasitas 2,5 kwh, dan 150 gram bahan kimia.

Areal Manager Jeanologia Fernando Perez menjelaskan, jumlah itu merupakan salah satu bentuk pemborosan yang paling sering terjadi di industri fesyen.

“Industri fesyen banyak melakukan pemborosan di tengah semakin langkanya jumlah air bersih dan kian tingginya permintaan karena ledakan jumlah penduduk bumi. Emisi bahan kimia dari pabrik tekstil juga banyak mencemari lingkungan,” paparnya.

Itulah sebabnya, para pelaku industri fesyen Indonesia sangat perlu menerapkan teknologi dan inovasi untuk proses produksi. Sebab, produk fesyen sekarang bukan lagi sekadar bagaimana modelnya, tetapi bagaimana proses pembuatannya.

Dengan menggunakan mesin cuci berbasis ozon, misalnya, pelaku industri garmen dapat menghemat 95% air, 50% bahan kimia, dan 79% listrik. Pasalnya, mesin tersebut tidak membutuhkan air untuk proses mencuci, tetapi memanfaatkan udara.

“Saat ini proses produksi produk fesyen ramah lingkungan global baru 25%, tetapi dalam waktu dekat jumlahnya bisa menembus 50%. Sebab, teknologi ramah lingkungan adalah masa depan fesyen. Oleh karena itu, sangat penting membangun ekosistemnya dari sekarang.”

Selain mendidik pelaku UKM dan startup fesyen untuk menggunakan teknologi dalam produksi dan sourcing bahan, ekosistem yang dibangun GSM juga memberikan pendampingan dalam proses branding, promosi, pemasaran, dan hukum.

Tujuannya adalah agar industri fesyen lokal ramah lingkungan bisa semakin tumbuh dan berkelanjutan usahanya, sehingga mereka kelak bisa menjadi pilar yang kuat untuk mendukung perekonomian daerah dan nasional. (C-003)***