Stabilitas Politik, Perijinan dan Tata Ruang Pengaruhi Iklim Investasi

40

BINIS BANDUNG– Anggota Delegasi Republik Indonesia di Persidangan ASEAN Regional Forum (ARF), Dr.Teuku Rezasyah mengatakan, minat investasi asing  dari negara Asia Pasifik dan Eropa  ke Indonesia cukup kuat. Namun karena faktor stabilitas politik, perijinan dan tata ruang, mereka lebih condong ke Singapura, Malaysia, Vietnam dan Thailand.Menurut Dr.Teuku Rezasyah, pemerintah perlu menarik manfaat dari perang dagang antara AS dan RRC dengan menjadikan Indonesia sebagai sasaran realokasi investasi mereka. Pembenahan jangka pendek, menengah dan panjang harus dilakukan secara terus menerus . Sehingga menjadi komitmen nasional yang berkelanjutan. Seperti , membangun infrastruktur pelabuhan darat, laut dan udara sebagai basis perdagangan langsung, tanpa perlu transit di negara ketiga. Pemberlakuan transaksi dan pemberkasan elektronik sebelum komoditas yang diperdagangkan tersebut meninggalkan tempat asalnya. Menjamin keamanan arus barang sebelum tiba dan meninggalkan Indonesia.  Menjamin tidak ada lagi ekonomi biaya tinggi dalam seluruh proses administrasi perdagangan. ”Jika hal-hal serupa itu tercapai, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi dunia nomor 7 di tahun 2030, setelah RRC, Amerika Serikat, Jepang, Uni Eropa, Rusia, India,”ungkap Teuku.

Dalam kaitan ini diakui Teuku , diplomasi paling  penting adalah diplomasi ekonomi. Indonesia sudah melakukan berbagai upaya , indikatornya terlihat dari dirampungkannya berbagai kerjasama regional, dipermudahnya aturan berinvestasi serta dirampingkannya berbagai perundang-undangan dan peraturan yang tidak fleksibel. Juga didorong faktor yang mempengaruhinya , antara lain menguatnya kesadaran bangsa Indonesia untuk menjadi pelaku aktif dalam ekonomi internasional dengan bergerak di berbagai sektor unggulan, diluar sektor migas.

Dosen Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Padjadjaran ini menegaskan kembali , bahwa investasi asing dari Asia Pasifik dan Eropa sudah kuat di Indonesia. Namun karena faktor stabilitas politik, perijinan dan tata ruang, mereka lebih condong ke Singapura, Malaysia, Vietnam dan Thailand. “Jika hubungan ekonomi berjalan optimal, akan terjadi nilai tambah yang luar biasa bagi Indonesia. Antara lain , penyebaran investasi asing ke luar Jawa yang disesuaikan dengan keunggulan wilayah. Perkuatan UMKM dengan teknologi tepat guna, sehingga berpotensi ekspor.  Alih teknologi dan manajemen pada bidang jasa dan manufaktur.

Selain itu menurut Teuku Rezasyah, pemerintah perlu mempersiapkan profesionalisme dan koordinasi dengan  Mahkamah Agung, Kehakiman, Kejaksaan dan Kepolisian, sehingga mampu menjalankan tugas pokok sesuai prinsip-prinsip tata kelola yang baik.  Memperbanyak keahlian, kepakaran dan sertifikasi yang berbasis Hukum dan Perdagangan Internasional. Memperkuat kemahiran Bahasa Inggeris,  Perancis, Arab dan Mandarin di tingkat teknis , hukum diplomatik, kewilayahan, lingkungan hidup dan sengketa pajak perusahaan multinasional. “Optimalisasinya adalah konsistensi dalam pembangunan nasional serta optimalisasi pembangunan wilayah yang berbasis keunggulan geografis dan kekhasan penduduknya,”ujar Teuku kepada BB, baru-baru ini. Mengulas mengenai diplomasi, Teuku menyebutkan diplomasi adalah praktik dalam berhubungan dengan kalangan luar Indonesia, dilakukan oleh pemerintah bersama berbagai kalangan di luar negeri, untuk menjawab kepentingan nasional di berbagai bidang yang  terselenggara dalam berbagai program dan kegiatan.

Diplomasi yang paling menonjol dipertegas Teuku,  adalah diplomasi ekonomi. Indikatornya  terlihat dari dirampungkannya berbagai kerjasama regional, dipermudahnya aturan berinvestasi di Indonesia, dan dirampingkannya berbagai perundang-undangan dan peraturan yang tidak fleksibel. Faktor yang mempengaruhinya adalah menguatnya kesadaran masyarakat Indonesia untuk menjadi pelaku aktif dalam ekonomi internasional dengan bergerak di berbagai sektor unggulan. (E-018)***