Sukses Usaha Berawal Dari Otak-Atik Komputer Bekas

163

KEGEMARAN mengotak-atik komputer sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) telah mengantarkan Donny Kris Puriyono menjadi pengusaha sukses di bidang teknologi informasi (TI). Terutama, dalam penyediaan laboratorium bahasa dan software edukasi.Selain fokus di kedua bidang tersebut, PT WinnerTech Lintas Nusa, milik pria kelahiran Malang ini juga mendistribusikan berbagai perangkat pendidikan berbasis teknologi untuk mendukung produk-produk yang dia produksi. Misalnya, interactive whiteboard, interactive voting, serta robotika.

Sayangnya, Donny menolak buka-bukaan soal omzet. Yang jelas, sejak WinnerTech berdiri pada 2004 lalu, produk-produknya telah digunakan di ribuan sekolah di Indonesia, termasuk di pelosok-pelosok desa.

Bukan cuma di dalam negeri, produk-produk buatan perusahaannya juga sudah dipakai di sekolah-sekolah luar negeri, seperti di Malaysia dan Arab Saudi.

Semua sukses itu berawal ketika sang ayah membelikan Donny sebuah komputer bekas. “Dari situ, saya tertarik otak-atik komputer, juga banyak baca tentang komputer,” kisah lelaki yang lahir pada 20 April 1982 ini.

Berbekal kemampuan tersebut, Donny yang kala itu masih berstatus pelajar sekolah menengah atas (SMA) menawarkan jasa servis komputer dan pembuatan desain untuk brosur. “Pas mau ujian akhir, ada tetangga yang minta bantuan saya bikin perangkat untuk wartel (warung telepon),” ujarnya.

Meski tidak punya pengalaman sedikit pun, dia menyanggupi permintaan tersebut. Hasilnya, Donny memang berhasil merampungkan pekerjaan membuat wartel dalam tempo empat hari. “Keuntungannya lumayan, saya lupa persisnya, tapi lebih tinggi daripada gaji karyawan,” ungkapnya.

Sejak itu, Donny makin mantap mengambil jurusan teknik informatika saat kuliah. Ia pun kuliah di Sekolah Tinggi Informatika dan Komputer Indonesia (STIKI), Malang.

Saat kuliah, keinginannya untuk berbisnis di bidang komputer tetap ada. Maka, bersama tiga teman kampusnya, Donny membuka toko komputer. Karena modal yang mini, tidak sampai Rp 1 juta, maka hanya satu komputer yang mejeng di tokonya. Alhasil, enggak ada calon pelanggan yang melirik.

Demi menarik pelanggan, dia lantas memajang kardus bekas central processing unit (CPU), motherboard, processor, keyboard, dan mouse. “Akhirnya toko jadi ramai, ada yang minta rakit komputer, pengetikan, print, desain. Kami siap semua,” kata Donny yang ketika itu juga membuka kursus komputer untuk anak-anak SMP.

Tapi, kongsi dengan tiga temannya bubar di tengah jalan gara-gara tidak satu visi lagi. Donny akhirnya meneruskan usaha toko komputer seorang diri, sambil tetap kuliah dan memberi les komputer.

Lantaran sering mengajari komputer ke anak-anak SMP, ia terinspirasi untuk membuat tutorial panduan belajar dasar-dasar komputer bagi pemula dalam bentuk cakram padat (CD). “Kan, waktu saya terbatas, sementara banyak yang minta diajarkan,” ucapnya.

Keinginan itu terwujud setelah Donny lulus kuliah pada 2004. Untuk berbisnis CD tutorial itu, ia mengibarkan bendera usaha dengan nama Simply and Smart Interactive. Modal awal senilai belasan juta rupiah dia dapatkan dari meminjam ke orangtua.

Sejatinya, orangtuanya tak setuju Donny membuka usaha di bidang komputer. Mereka lebih sreg anaknya mengikuti jejak sang ayah menjadi karyawan perusahaan. “Tapi, saya enggak mau, sampai saya baru ambil ijazah setelah empat tahun lulus,” imbuh dia.

Bisnis toko oleh-oleh

Ternyata, CD tutorial komputer buatan Donny dapat respons bagus. “Mungkin karena produk saya inovatif dan tutorialnya mudah bagi yang awam untuk mahir komputer, jadi banyak yang suka,” ucap Donny.

Bukan cuma pelajar, banyak juga sekolah yang tertarik pada CD tutorial besutan Donny. Berangkat dari antusiasme  itu, ia menciptakan berbagai macam perangkat lunak alias software untuk kebutuhan pendidikan. Mulai software laboratorium bahasa, perpustakaan, hingga manajemen sekolah yang membantu pengaturan akademis.

Usahanya terus berkembang. Pada 2007, dia pun membentuk perseroan terbatas (PT) dengan nama WinnerTech Lintas Nusa.

Bahkan, produknya berhasil menembus pasar ekspor. Hingga saat ini, WinnerTech telah mengantongi puluhan paten di bidang pendidikan.

Pada 2009, untuk pertama kali Doddy mengekspor produknya ke Arab Saudi. Ini tak lepas dari jaringan yang ia rajut dengan rajin ikut seminar dan forum bisnis. Dia juga kerap mengikuti pameran pendidikan internasional di Jakarta.

Seiring permintaan yang semakin banyak, termasuk dari wilayah Barat Indonesia, Donny lantas membuka kantor cabang di Jakarta pada 2012 lalu. Sementara bengkel kerja (workshop) dan gudang ada di Malang. Total karyawannya sekarang sekitar 100 orang.

Saat ini, kliennya lebih banyak sekolah, mulai sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Untuk pemasaran, dia menggandeng perusahaan-perusahaan distributor alat peraga, baik skala nasional maupun internasional. Jumlah mitra WinnerTech kini ada ratusan.

Pada 2012 pula, Donny kepikiran untuk melebarkan sayap bisnis dengan membuka toko oleh-oleh khas Malang. Ide datang saat dia menggarap proyek di Padang.

Di ibu kota Sumatra Barat, ia menemukan sebuah toko oleh-oleh besar, namun pemiliknya orang Malaysia. “Karena saya orang Malang asli, tinggal di Malang, jangan sampai itu kejadian di Malang. Apalagi sedang booming pariwisata di Malang,” jelasnya.

Akhirnya, Donny mengajak pengusaha oleh-oleh Denni Delyandri dan aktor Teuku Wisnu mendirikan toko oleh-oleh khas Malang. Pada Desember 2014, dengan mengusung nama Malang Strudel, toko oleh-olehnya berdiri.

Sesuai namanya, tokonya menjual strudel. Sejatinya, strudel yang merupakan kue lapis berisi buah-buahan, berasal dari Austria. “Kami ingin bikin sesuatu yang beda, tapi bahan bakunya khas Malang,” ungkap Donny yang mengincar pasar menengah atas.

Sejak awal, ia tidak hanya mempromosikan Malang Strudel, juga pariwisata kota apel. Secara serius, dia membuat video yang mengangkat pariwisata Malang.

“Lalu, kami tampilkan di akun media sosial Malang Strudel, mulai Instagram, Facebook, hingga YouTube,” kata peraih penghargaan The Most Creative Digital Activation for City Branding dari Kementerian Pariwisata 2018 ini.

Berawal dari satu gerai berukuran hanya 2×5 meter, kini Malang Strudel berbiak menjadi delapan outlet. Semua gerai ada di Malang, dengan jumlah karyawan mencapai 300 orang.

Gerai-gerai ini tidak hanya menjual strudel, tapi juga oleh-oleh khas Malang lainnya, termasuk aneka kerajinan buatan usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) yang jadi mitra Malang Strudel. “Ada lebih dari 1.000 UMKM yang bermitra dengan kami, dengan lebih dari 2.000 produk,” rinci Donny.

Kena tipu berulang kali

Meski sukses, bukan berarti bisnisnya berjalan mulus-mulus saja. Donny berulang kali merugi. Bahkan, waktu awal merintis bisnis CD tutorial komputer, ia kena tipu belasan juta rupiah.  Sebagian besar modal awalnya dibawa kabur orang.

Setelah bisnis bergulir, dia juga beberapa kali jadi korban penipuan. Pembeli tidak kunjung membayar padahal produk sudah mereka terima. Hitung punya hitung, nilai kerugiannya puluhan juta rupiah.

Masalah kembali muncul saat usahanya berjalan dua tahun. Gara-gara telat membayar gaji, Donny ditinggal seluruh karyawannya yang ketika itu berjumlah 10 orang. “Kan, saya juga harus bayar utang ke bank, penjualan belum seberapa, pernah ditipu juga,” bebernya.

Walau banyak cobaan, ia tak patah arang. Apalagi, dunia TI sudah jadi passion-nya. Dan, dia ingin membuktikan ke orangtua, dengan usaha dirinya bisa sukses. “Karena kebutuhan dan terpaksa, harus bangkit. Prinsipnya, kalau mau jadi pengusaha harus terus mau belajar, cari ilmu,” ujarnya.

Ke depan, Donny bakal terus berinovasi. Untuk WinnerTech, tentu ada produk baru yang inovatif, dan juga pembaharuan dari edisi sebelumnya.

Sedang untuk Malang Strudel, dia berencana membangun gerai baru yang lebih luas dari outlet-outlet sebelumnya. Ia akan menggabungkan gerai anyar itu dengan taman rekreasi mini tematik (mini theme park).

“Jadi, wisatawan datang bukan sekadar beli oleh-oleh, tapi juga ada permainan yang berhubungan dengan Malang, termasuk kegiatan memetik apel di kebun,” katanya. (C-003/Bbs)***