Lingga Jadi Landmark Sumedang Sebuah Simbol Peradaban Dunia

98

BISNIS BANDUNG – 100 tahun , Lingga (monumen) dibangun di sebuah area terbuka oleh Gubernur Jendral Hindia-Belanda  sekitar tahun 1919 sebagai penghargaan kepada Bupati Sumedang  Pangeran Aria Soeriaatmadja atau dikenal juga dengan nama Pangeran Mekkah.
Kini selain dijadikan landmark Kota Sumedang,  Lingga  dijadikan lambang  Kabupaten Sumedang. Dalam rangkaian  memperingati hari jadi Sumedang  ke – 441, Pemerintah Kabupaten Sumedang , Kamis (25/4/19)menggelar milangkala 100 tahun Lingga yang dihadiri unsur Pemkab Sumedang , para tokoh adat dan masyarakat yang sekaligus menyaksikan upacara ngumbah  ( membersihkan) Lingga menggunakan air yang diambil dari tujuh mata air.

Menurut  Sekretaris Rukun Wargi Sumedang (RWS) Rd Penanjung WD, Lingga merupakan sebuah simbol atau landmark peradaban dunia yang diresmikan pada tahun 22 Juli 1922, setelah Bupati Sumedang , Pangeran Aria Suriaatmadja wafat  saat menunaikan ibadah haji di Mekkah, 1 Juni 1921.

“Meski diketahui banyak orang, bahwa Lingga merupakan sebuah penghargaan kepada Regent Bupati Sumedang dari Kolonial Belanda. Namun pembangunan Lingga merupakan hasil kesepakatan  para tokoh. Hanya saja kebetulan, pada saat itu penguasanya orang Belanda ,yakni Gubernur Jendral Mr. Dirk Fock,” tutur Rd Pananjung  kepada wartawan  menjelaskan mengenai pembangunan Lingga .

Pada kesempatan kegiatan acara milangkala 100 tahun Lingga, Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir mengajak  seluruh elemen masyarakat Sumedang  agar bersatu padu meneladani para leluhur Sumedang yang telah berhasil menata pemerintahan di Sumedang pada masa itu.
“Kita sebagai orang Sumedang  punya kewajiban untuk  meneruskan jejak langkah dalam memajukan dan mensejahterakan Sumedang.  Oleh sebab itu di usianya ke – 441 tahun , kita tingkatkan partisipasi masyarakat dan berikan kontribusi positif dalam membangun Kabupaten Sumedang,” ujar Dony  menyampaiklan harapannya.

Dony juga menyebut, makna filosofis Kabupaten Sumedang,  yakni Insun Medal Isnun Medangan yang  artinya aku lahir untuk menerangi.

“Menerangi dalam  pendidikan, menerangi dalam  mensejahterakan masyarakat, menerangi dalam i memberikan kemanfaatan. Sebab itu,  kita harus memaknai pesan dari leluhur kita  dengan baik, salah satunya bisa menjadi bagian solusi di tengah masyarakat, bukan menjadi bagian masalah,”ungkap.

Dikemukakan lebih lanjut, untuk  melestarikan Lingga sebagai landmark Kabupaten Sumedang, Dony berrencana merenovasi Alun-alun Sumedang dalam waktu dekat, Lingga akan dikelilingi  air mancur supaya memancarkanke indahan.Pagar yang sebelumnya membentengi Lingga akan diganti oleh air mancur.

“Insyaallah seperti yang telah saya sampaikan sebelumnya, rencana penataan Alun-alun sepenuhnya ada di Provinsi, desainnya juga dari Pa Gubernur sebagai apresiasi kepada kampung halamannya. Lingga  akan menjadi landmark Kabupaten Sumedang,” tambah Dony.
Turut hadir selain tokoh adat Sumedang , juga sederet pegiat budaya Sunda dari sejumlah  kota, antara lain dari Garut, Majalengka, Cirebon , Jakarta dan Bikers Brotherhood. (E-10) ***