Dekatkan BUMDes ke Jalur Mudik

37

   DIJANJIKAN, Jalan Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) akan dapat digunakan pada musim mudik tahun ini. Dengan demikian jarak tempuh Bandung-Dawuan dan setersnya akan lebih cepat. Tentu saja hal itu merupakan berita yang sangat mengembirakan para pemudik bermobil. Mereka yang biasa mengguankan jalur tengah, yakniBandung-Sumedang melalui Cadas Pangeran, nanti tidak usah repot-repot mengemudi pada jalan berliku dan terancam longsor dan macet. Pengguna jalan lama hanyalagh pemudik bersepeda motor.

   Pada satu sisi jalyur tol Cisaumdawu itu membantu para penggunanya menghindari macet, longsor, dan kemacetan. Pada sisi lain, masa depan Sumedang patut dipertanyakan. Para pemudik jalur tol, akan memacu kendaraannya karena ingin cepat sampai ke tujuan. Rata-rata pemyudik pengguna Jalan Tol Cisumdawu itu orang Majalengka, Kuningan, Brebes dan sekitarnya. Orang yang berasal dari Jawa Tengah bagian tengah sampai Jatim, diperkirakan akan menggunakan Jalan Tol Cipali. Mereka yang tinggal di  Bandung, Purwakarta, dan sekitarnya, akan memilih mudik melewati Purwakarta masuk Tol Cipali langsung ke jalur Trans Jawa. Orang Sumedang tidak dapat berharap para pemudik jalaur Cipali itu singgah ke Sumedang.

     Apakah pemudik yang menggunakan Tol Cisumdawu masih mau singgah barang sebentar ke Sumedang sekadar membeli tahu? Pertanyaan itui sdah muncuil pada saat terbit perencanaan pembangunan Jalan Tol Cisumdawu 8 – 10 tahun lalu. Mwereka khawatir, Sumedang sebagai kota transito, akan sepi. Restoran yang jumlahnya cukup banyak akan kehilangan pembeli. Metreka akan mengalami nasib yang sama seperti para pedagang di sepanjang jalan arteri Bandung-Purwakarta.

    Pemerintah punya kewajiban menepis kekhawatiran warga Sumedang itu. Pemerintah dan pengelola Tol Cisumdawu harus punya komitmen, tertap menghidupkan para pengusaha dan masyarakat Sumerdang. Salah satu cara yang dapat ditempuih, ialah mendekatkan para pengusaha kuliner, khususnya tahu sumedang ke jalur mudik. Pemeruintah membangun rest area (peristitrahatan) yang menarik bagi para pengguna tol. Mereka mau singgah barang sebengtar, beristirahat sambil menikmati atau memebli tahu dan makanan khas Sumdedang, seperti opak oded, jeruk Cikoneng, oncom Cireungit, hui Cilembu, salak dan rambutan Legok,  sebagai oleh-oleh. Para perajin juga dapat berkiprah di  peristirahatan jalan tol , seperti patung dan pernak-pernik Cibeusi, keramik Legok. Di rest area itu pula, Pemkab Sumedang dapat berpromosi kepariwisataan Sumedang, misalnya Jatigede, Situs Makam Cut Nyak Dien, Museum  Sumedang Larang, kuda renggong, ngek-ngek (tarawangsa) dari Rancakalong,  dan sebagainya.

    Mari kita bangun optimisme masyarakat Sumedang agar daerah kaya peninggalan sejarah itu tetap eksis bahkan lebih maju setelah adanya Jalan Tol Cisumdawu. Buanmglah stigma bahwa kelak Sumedang  makin suram. Dalam uga Sunda disebutkan, Bandung heurin ku tangtung, Cianjur katalanjuran, Sukapura ngadaun ngora, Sumedang ngarangrangan. (Sumedang makin meranggas). Amit-amit,  Palias! Palias!. Palias ngarangrangan. Justru Sumedang akan tandang, akan bangkit. Namun harus dilakukan perubahan dari kota transit ke kota tujuan, tujuan perdagangan, tujuan penelitian sejarah, dan tujuan pariwisata ***