Vihara Sian Djin Ku Poh Dibangun Pedagang Cina Yang Bermukim di Karawang

125

Masih di Karawang sebagai salah satu kota pelabuhan penting yang banyak di datangi pedagang asing , di antaranya dari Cina.  Para pedagang dari Cina dalam perkembangannya banyak yang bermukim di Karawang yang membangun tempat ibadah bagi mereka.  Salah satunya  , Vihara yang pertama didirikan di Karawang adalah Vihara Sian Djin Kupoh. Vihara ini terletak di Kampung Benteng, Kelurahan Tanjungpura, Kecamatan Karawang Barat. Vihara Sian Djin Kupoh merupakan tempat ibadah bagi  pemeluk Buddha Mahayana. Selain sebagai tempat sembahyang,  juga sebagai tempat tinggal Rochaniwan Buddha Mahayana (Bhiksu) dan tempat mendidik calon Bhiksu. Awalnya vihara dibangun mirip  gubug menghadap ke matahari terbenam. Namun sejak ahli Hong Sui berkunjung ke perkampungan ini, arah tersebut diubah sebagai altar persembahyangan Mak Ku Poh ke arah matahari terbit. Komplek vihara menghadap ke arah timur berada pada lahan seluas  5000 m2. Di depan komplek vihara terdapat halaman parkir yang cukup luas. Gerbang masuk ke komplek vihara berwarna sangat khas , yaitu merah dengan atap berbentuk pelana  dua susun.

Mengenai sejarah pembangunan vihara ini tidak banyak diketahui. Konon pada sekitar tahun 1700 pedagang dari marga Elan,   Kho dan Ciau datang ke Karawang yang kemudian membangun vihara. Mula-mula menghadap ke arah sungai (barat). Tahun 1800-an terjadi kebakaran. Dibangun lagi dengan mengikuti kaidah hong shui , arahnya menghadap ke timur (arah kehidupan). Menurut Suhu Vihara, tempat ibadah  ini dibangun oleh tiga marga dan sudah mengalami renovasi. Renovasi ini terjadi karena vihara yang dimaksud dekat dengan sungai Citarum yang memisahkan antara Karawang dan Bekasi.Dari sekian banyak renovasi yang terjadi, salah satu alat yang tak pernah dubah atau dibuang adalah Hiolo , tempat penyimpanan jenazah yang dibawa oleh ketiga marga tersebut. Sampai sekarang keberadaan alat ini masih terawat dan berada di altar Sian Djin Ku Poh .

Setelah memasuki gerbang , ada halaman yang di tengahnya terdapat altar Thian Seng yaitu altar untuk persembahyangan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pada sudut barat laut dan barat daya halaman ini terdapat tempat pembakaran kertas. Selanjutnya dari halaman luar memasuki ruangan terbuka. Beberapa tiang penyangga atap ruangan ini berhiaskan naga yang melilitnya. Pada bagian paling depan terdapat altar Mun Sen (Dewa Penjaga Pintu). Di sebelah barat (dalam) altar Munsen terdapat altar tiga penguasa alam (Sam Kwan Tay Teu). Ruangan lainnya merupakan tempat persembahyangan kepada Sian Djin Kupoh. Di situ terdapat altar Dewa Bumi (Thuthi Pa Kung) berupa perahu berelief Hok Luk Shu yang bermakna keberuntungan, kekayaan dan panjang umur. Pada altar Sian Djin Kupoh tidak terdapat arca, yang ada hanya tempat pembakaran hio. Di sudut timur laut tergantung genta perunggu dari tahun 1437 dan semacam lempengan perunggu yang dibuat tahun 1892. Pada langit-langit tergantung beberapa benda seperti lampu dan lampion. Di belakang ruangan Sian Djin Kupoh terdapat ruangan  yang berfungsi sebagaik tempat berkumpulnya para biksu dan teecu.

Di sebelah utara bangunan ini terdapat bangunan tempat persembahyangan kepada Sang Buddha. Di sebelah barat bangunan utama terdapat bangunan lagi yakni altar Dewi Kwan Im (Awalokiteswara). Di sebelah belakang agak ke utara terdapat altar Liung Shen Pakung (Dewa Naga). Pada altar tersebut terdapat sepasang naga.Meski vihara ini merupakan tempat ibadah namun ada kalanya dikunjungi oleh para pelancong. Bagi pelancong yang berkunjung harus mengikuti norma dan kaidah yang berlaku di tempat ini.  Bagi pengunjung yang akan memasuki area vihara ,  selain harus melapor ke petugas vihara , juga meminta petugas untuk mengantar kita saat melihat-lihat  peninggalan sejarah  yang usianya sudah ratusan tahun. Jika  ingin mengabadikannya dengan lensa kamera hendaknya meminta izin  petugas. (E-001/BBS) ***