Dr.rer.nat. Ayi Bahtiar, MSi. Terinspirasi Senior yang Pengabdi dan Sederhana

46

Dr.rer.nat. Ayi Bahtiar, MSi., lahir di Kota Ciamis  29 Oktober 1970, dan suami dari Desya Dewi Arafany (38) ini, berprofesi sebagai akademisi di Universitas Padjadjaran.

Membuka obrolan santai saat ditemui BB akhir pekan lalu, Dr.rer.nat. Ayi Bahtiar menceritakan awal kiprahnya sebagai akademisi sejak Februari tahun 1997, setelah ia menyelesaikan studi Magister Fisika di ITB pada tahun 1995.  Ketika itu, ia diminta oleh seniornya untuk menjadi dosen di tempat kuliahnya dulu, yakni di Jurusan Fisika Universitas Padjadjaran.  Dr. Ayi memilih profesi sebagai dosen, karena ia terinspirasi oleh dosen seniornya  yang hidup sederhana, tapi sungguh-sungguh mengabdikan dirinya dalam pengembangan ilmu untuk mendidik generasi muda, supaya bisa menjadi manusia yang berguna serta memiliki daya saing.

“Profesi yang saya kerjakan saat ini sama sekali tidak ada dilatar belakangi dari keluarga, murni terinspirasi dari dosen saya.  Saya berasal dari keluarga petani,” ungkap Ayi tentang keluarganya.

Diutarakannya bahwa, ia sudah 22 tahun menggeluti profesi sebagai dosen.  Ayi mendalami bidang ilmu fisika, khususnya fisika material untuk energi dan lingkungan.

Ayi mengakui, ia mendalami bidang ini karena tertantang untuk mencari sumber energi alternatif pengganti minyak bumi.  Ia juga mendalami bidang nanokarbon dari limbah, yang akan dimanfaatkan untuk deteksi logam berat yang banyak mencemari air.

Keunikannya, karena karbon itu identik dengan arang, walau berukuran nanometer (a / miliar-meter), tapi mampu menghasilkan karakteristik  tidak beracun, yang dapat digunakan untuk berbagai aplikasi, seperti deteksi logam berat, sensor dan bidang kedokteran untuk targeted medicine.

Selama 22 tahun mengabdikan diri, Dr. Ayi sudah menulis beberapa karya ilmiah. Ayah dari Adiba Shakeela Bahtiar (11 bulan) ini, sudah menulis lebih dari 50 karya ilmiah berbentuk paper internasional, dan menulis paper nasional juga sebanyak lebih dari 20.

Di antara tulisannya yang paling berkesan adalah, paper tentang pemanfaatan limbah dari baterai mobil bekas, untuk material aktif sel-surya perovskite yang dilakukan dalam tiga tahun terakhir ini. Selama menekuni profesi sebagai akademisi, Ayi berhasil mendapatkan Satya Lencana 10 tahun dari Kementerian Pendidikan, dan 15 tahun dari Unpad.

“Hal menarik yang saya dapatkan selama berprofesi sebagai dosen adalah, mempunyai kesempatan untuk berinteraksi dan bekerjasama dengan mahasiswa maupun kolega dari berbagai negara dalam bidang riset yang saya kerjakan.  Menjalani tugas sebagai dosen, tidak ada pengalaman negatif yang pernah saya alami,” tutur Ayi.

Penganut moto hidup “Percaya dengan kemampuan sendiri tanpa merugikan orang lain” ini  menambahkan bahwa, dirinya akan terus menggeluti profesi sebagai akademisi sampai tidak diperlukan lagi.

Pasalnya, ada banyak manfaat yang diperoleh selama berkiprah menjadi akademisi, yakni, bisa banyak berkenalan dengan sesama peneliti maupun profesor, baik di dalam negeri maupun dari luar negeri, sehingga bisa menambah wawasan keilmuan untuk dibagikan kepada mahasiswa sebagai generasi penerus.

“Di sisi lain, saya tidak ingin memaksakan anak saya untuk mengikuti profesi ayahnya.  Biarlah mereka menentukan pilihannya sendiri, sesuai bakat dan minatnya. Mengenai orang yang paling berjasa dalam hidup saya adalah orang tua, yang telah bersusah payah menyekolahkan saya hingga di perguruan tinggi, padahal ayah saya hanya tamatan Sekolah Rakyat dan ibu saya tidak tamat SD,” ungkapnya.

Dr.rer.nat.Ayi Bahtiar mengakui, upaya yang dilakukannya untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi adalah, terus belajar dengan banyak membaca buku maupun jurnal, serta melakukan diskusi dengan kolega  di dalam maupun di luar negeri.

Penggemar warna biru ini mengatakan, saat ini perkembangan ilmu yang ditekuninyai sangat pesat. Indonesia merupakan negara yang sangat kaya sumber dayanya, namun belum mampu mengelola sumber daya tersebut, karena kurangnya sumber daya manusia dan kebijakan pendukung untuk mengembangkan ilmu dan teknologi yang saya tekuni saat ini. Sebagai contoh, dalam perkembangan karbon nanodot, Indonesia memiliki sumber karbon dari limbah makanan yang bisa dimanfaatkan untuk pengolahan air bersih, atau untuk sumber energi.  Namun, sampah di Indonesia umumnya dibuang. Padahal dengan sentuhan teknologi, sampah bisa  bermafaat dan memiliki nilai  lebih.  Hal ini disebabkan, kebijakan pemerintah belum mengarah pada pengolahan sumber daya.  Indonesia seharusnya banyak mengembangkan teknologi pengolah sumber daya mentah menjadi sumber daya yang memiliki nilai lebih.

“Untuk membenahi kondisi ini, dibutuhkan kebijakan industri dasar, bukan hanya pabrik atau kemampuan SDM yang handal.

Jika hal ini digarap serius, maka Indonesia akan mampu menjadi negara maju dalam kurun waktu 20 tahun,” pungkas Dr.rer.nat. Ayi Bahtiar kepada BB.

(E-018)***