Dua Jurnalis Korban Kekerasan Mayday Jalani Visum

17

Dua orang jurnalis menjadi korban kekerasan oknum aparat kepolisian saat meliput kericuhan kelompok massa di jalan singaperbangsa Kota Bandung , rabu kemarin. Tidak hanya mengalami kekerasan secara fisik, keduanya juga mendapat ancaman dan dipaksa menghapus gambar yang diabadikan.Peringatan hari buruh Internasional di Bandung Jawa Barat, diwarnai kerusuhan oleh sekelompok massa berpakaian serba hitam. Dalam kerusuhan tersebut, dua jurnalis mengalami kekerasan secara fisik serta ancaman  oleh oknum anggota kepolisian.

Kedua jurnalis tersebut adalah prima mulia yang merupakan Fotographer tempo, serta Iqbal kusumadireza atau yang biasa disapa Reza, fotographer kantor berita Eropa.

Menurut Reza, kejadian berawal saat ia dan rekannya prima mengambil gambar mahasiswa yang dipukuli oknum polisi saat kerusuhan terjadi di jalan singaperbangsa. Setelah mengabadikan moment tersebut, Reza tiba-tiba dicekik dan diinjak oleh anggota polisi.

Meski sudah mengaku sebagai wartawan, namun sang oknum polisi tersebut malah mengambil kamera yang dipegang Reza kemudian menghapus sebagian gambar yang diabadikannya. sementara rekannya prima tidak mengalami kekerasan fisik, namun yang bersangkutan diancam untuk menghapus gambar yang diabadikan bersama Reza.

Guna memastikan kondisi kesehatannya akibat tindakan anarkis oknum aparat, korban kemudian melakukan visum ke rumah sakit Borromeus Bandung.

Menanggapi hal tersebut Kapolrestabes  Bandung Kombes POL Irman Sugema mengakui bahwa yang menganiaya dua jurnalis tersebut adalah anggotanya, jika terbukti ada pelanggaran hukum pihaknya  akan siap melakukan proses hukum  sesuai prosedur.

Dirinya juga mengatakan bahwa pihaknya sudah mengetahui terkait nota kesepahaman antara dewan pers dan polri agar tidak ada kekerasan pada wartawan lagi, juga melakukan brifing setiap kali akan melakukan pengamanan.

Sebelumnya pada tahun 2017 dewan pers telah melakukan nota kesepahaman anatara beberapa pihak termasuk dengan kepolisian republik indonesia agar tidak ada lagi kekerasan terhadap jurnalis dan tidak ada lagi penyah gunaan profesi.

Yuwana Kurniawan, Bandung TV.