Memasuki Bulan Ramadan Harga Kepokmas Bergerak Liar.

45

BISNIS BANDUNG — Ketua Umum Persatuan Pedagang Pasar Tradisional (Pesat), Usep Iskandar Wijaya mengatakan, sudah menjadi budaya, mendekati bulan suci Ramadan hampir semua kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas),harganya naik cukup signifikan, terutama pada harga telor, daging ayam,  termasuk  bawang  putih dan bawang merah. Menurut Usep, kenaikan sejumlah komoditas tersebut, antara  30 sampai 70% , tingginya hargakomoditas tersebut, bagi masyarakat selaku konsumen cukup memberatkan. “Kalau dilihat sebab akibat, sebenarnya tidak ada, namun mungkin ini menjadi kebiasaan atau budaya karena  dari tahun ke tahun selalu seperti ini, ketika menjelang bulan puasa dan hari-hari besar keagamaan harga sejumlah komoditas mengalami lonjakan harga. Namun pemangku kebijakan belum bisa mengantisipasi kondisi yang dari tahun ke tahun selalu seperti itu. Harga-harga melejit cukup tinggi. Padahal  sudah terbentuk Satgas Pangan, namun kondisi tersebut terus terjadi, saya berharap pemerintah memantau situasi tersebut dengan bijak” ungkap Usep, Sabtu pekan lalui kepada BB di Bandung.

Menurutnya, sebenarnya ketersediaan atau pasokan kebutuhan pokok masyarakat di pasaran, saat ini terpantau tidak ada persoalan, cukup untuk kebutuhan. Pedagang, tidak mungkin melakukan spekulasi atau menaikan harga seenaknya . Pedagang menjual produk di pasaran tergantung harga pembelian dari suplayer atau bandar,  disinilah ada transaksi penyesuaian. “Banyak yang berasumsi, kondisi seperti ini merupakan permainan pedagang, yakni memanfaatkan kondisi dengan menaikan harga seenaknya, saya katakan itu tidak benar. Kenaikan terjadi  di seluruh pasar tradisional yang ada di Jawa Barat dan Indonesia,” ujar Usep seraya menjelaskan , terrjadinya kenaikan harga yang terkena dampaknya adalah pedagang dan masyarakat konsumen. Kondisi serupa ini selalu terjadi rutin, rangkaian tataniaga seakan ada yang terputus.

Dalam hal ini menurut Usep , pihak pemerintah seharusnya ada upaya untuk mengantisipasi kondisi , apa yang terjadi dari tahun ketahun, seharusnya dijadikan acuan untuk menjaga atau mengawal harga beberapa komoditas.” Jika yang menjadi persoalan  adalah komoditas pertanian, maka yang harus di jalin adalah kerjasama dengan para petani. Kalau yang menjadi persoalan daging ayam, kenapa pemerintah tidak melakukan pembinaan dengan pelaku di bidang peternakan. Janganlah mengambil jalan pintas melalui,” Usep menegaskan pendapatnya.

Ditambahkan Usep , operasi pasar (OP) dinilai tidak efektif, karena  tidak berpengaruh pada harga di pasaran. OP idealnya, Bulog kerjasama dengan para pedagang. Jika kebutuhan komoditas disuplay oleh Bulog, maka akan terdeteksi pergerakan harga. Selama ini,  harga kebutuhan di setelah beredar ke pasaran bergerak liar. “Negara Gemah Ripah Roh Jinawi, selalu di gonjang ganjing dengan kondisi dan tataniaga pangan, dan formulanya adalah impor, ironis sekali,” ujar Usep.

Cukup kaget

Sementara itu wartawan BB di Sumedang , Moch Diky melaporkan ,   sejak dua pekan menjelang bulan Ramadan, sejumlah harga bahan pokok di Pasar Inpres Sumedang mengalami kenaikan cukup signifikan, terutama bawang merah dan bawang putih.
Uci (40) pedagang aneka bumbu dapur menuturkan, harga bawang merah dan bawang putih melonjak naik hingga dua kali lipat lebih. Awalnya Rp 20.000/kilogram, kini naik antara Rp 48.000 -Rp 50.000. Komoditas lain yang mengalami kenaikan harga, di antaranya cabai rawit merah dari  Rp 30.000  menjadi Rp 50.000/kilogram ,  cabai rawit hijau dari Rp 18.000 menjadi Rp 32.000/ kilogram.
”Walau persediaan  komoditas tersebut  aman sampai Lebaran, tapi harga yang tinggi banyak dikeluhkan pembeli,” tutur Uci.
Yeni Suhaeni (37) salah seorang konsumen mengaku cukup kaget dengan kenaikan harga sembako.
“Ya tetap saja harus beli, karena ini kebutuhan, jadi mau gimana lagi,” ungkap Yeni.
Di Pasar Cimalaka , harga telur dari Rp 24.000/kilogram  menjadi Rp 28.000/kilogram. Naiknya harga-harga kebutuhan banyak dikeluhkan para pembeli. ”Kenaikan harga setiap jelang bulan Ramadan diharapkan  agar dapat teratasi. Jangan dijadikan sebuah kebiasaan yang diabaikan karena berdampak pada daya beli masyarakat , selain kerugian bagi pedagang yang omzet penjualannya menurun,”ujar Fitri , salah seorang konsumen menjawab pertanyaan BB. (E-018/E-010) ***