Cara Kerja Teknologi Pengisi Daya Nirkabel di Ponsel

48

PENGISIAN daya nirkabel untuk ponsel pintar pertama kali diterapkan pada 2012 untuk Lumia 920. Teknologi yang sama juga digunakan setahun kemudian oleh Samsung pada perangkat Galaxy S4. Apple malah baru mengadopsi teknologi ini lima tahun kemudian pada 2017 dengan memperkenalkan teknologi pengisi daya untuk iPhone 8 dan iPhone X.Fitur pengisian baterai nirkabel (wireless charging) sudah lama dikenal. Teknologi ini berawal dari buah pikiran Nikola Tesla pada 1901. Meski ide ini sudah muncul lebih dari 100 tahun lalu, tapi penggunaan praktis teknologi ini masih terbatas.

Pengisi daya nirkabel secara komersil pertama kali digunakan untuk mengisi ulang sikat gigi elektrik pada tahun 90-an, sekitar 80 tahun kemudian. Tapi kini, teknologi tersebut mulai sering diperkenalkan untuk mengisi daya perangkat ponsel.

Pengisian daya nirkabel dapat terjadi karena energi untuk ponsel dikirim melalui medan magnet yang muncul dari koil tembaga ketika ponsel dan stasiun pengisian daya didekatkan satu sama lain.

Tenaga listrik terhantar lewat induksi, karena koil pada perangkat dan stasiun pengisian daya saling terhubung. Stasiun pengisian daya inilah yang terhubung langsung ke kontak listrik.
Koil stasiun pengisi daya mengubah listrik arus AC menjadi medan magnet. Lantas, koil pada perangkat yang ditempelkan akan mengubah medan magnet itu kembali menjadi listrik arus DC, seperti dilansir Business Today.

Namun diperkirakan di masa depan, dengan teknologi yang lebih canggih listrik kemungkinan bisa dihantarkan ke baterai melalui frekuensi radio, sinar inframerah, hingga ultrasound (USG).
Penerapannya juga tidak hanya terbatas pada ponsel, melainkan juga perangkat-perangkat Internet of Things (pengaplikasian internet pada objek sehari-hari), bahkan kendaraan-kendaraan elektrik.

David Green, Manajer riset IHS Markit, mengatakan bahwa ada tiga jenis pengisian daya nirkabel. Yang pertama adalah bantalan pengisi daya yang menggunakan komponen pengantar elektromagnetik yang berpasangan.

Kemudian ada yang menggunakan resonansi elektromagnetik, seperti yang diterapkan pada stasiun pengisian dengan model mangkuk. Terakhir, adalah pengisian energi menggunakan gelombang radio, yang dapat menjangkau jarak yang lebih jauh.

Umumnya, ponsel pintar mengadopsi standar Qi untuk perangkat-perangkat yang memiliki kemampuan pengisian daya nirkabel.

Sementara, pengisian daya nirkabel menggunakan frekuensi radio, dapat digunakan untuk mengisi ulang perangkat dalam cakupan jarak sekitar 4 meter. Ossia, adalah salah satu perusahaan yang menggunakan panel langit-langit untuk menyalurkan frekuensi radio yang dapat mengirim daya tanpa kabel, bernama Cota.

Amankah?
Kemudian, apakah teknologi isi ulang nirkabel ini aman digunakan untuk ponsel pintar? Venkat Srinivasan, direktur Argonne Collaborative Center for Energy Storage Science (ACCESS) setidaknya berkata demikian.
Walau baterai komponen elektrik saat ini telah memiliki teknologi yang mencegah overcharging, membiarkan perangkat terpasang dengan sumber listrik dalam kondisi penuh, dapat memperpendek umur perangkat.
“Semakin tinggi persenan baterai perangkatmu, seperti 80 persen, 90 persen, sampai 100 persen, menandakan semakin pendek umur baterai tersebut,” katanya, seperti dikutip dari Computer World.
Hal ini disebabkan bahwa ketika melakukan pengisian daya, gel elektrolit yang memindahkan ion positif dan negatif, yang menjadi sumber listrik, akan rusak seiring waktu.
Srinivasan menganjurkan agar perangkat baru mulai diisi ulang lagi ketika baterai telah mencapai sekitar 50 hingga 45 persen, dan tidak dibiarkan ketika kapasitas penuh, karena hal tersebut akan memperpendek umur baterai.
Hal yang sama juga diterapkan ketika mengisi ulang perangkat menggunakan wireless charging. Satu hal yang berbeda, adalah isi ulang daya menggunakan cara nirkabel membutuhkan waktu lebih lama karena perbedaan medium penghantar energi. (C-003/eks)***