Goa Pamijahan Tempat Syeh Abdul Muhyi Mengembangkan Agama dan Mendidik Santrinya

187

Keberadaan Goa Pamijahan ( Goa Safarwadi ),tidak bisa dilepaskan dari Waliyulloh Syech Abdul Muhyi,  penyebar agama Islam diwilayah Jawa Barat. Syech Abdul Muhyi menjadi tokoh ulama legendaris yang lahir di Mataram tahun 1650. Ia tumbuh dan menghabiskan masa mudanya di Gresik dan Ampel, Jawa Timur. Ia juga pernah menuntut ilmu di Pesantren Kuala Aceh selama delapan tahun dan kemudian memperdalam Islam di Baghdad pada usia 27 tahun dan menunaikan ibadah haji.Setelah berhaji, ia kembali ke Jawa untuk membantu missi Sunan Gunung Jati menyebarkan agama Islam di Jawa Barat. Awalnya Abdul Muhyi menyebarkan Islam di Darma, Kuningan dan menetap di kota ini selama tujuh tahun. Kemudianmengembara  ke Pameungpeuk, Garut Selatan, selama setahun.Melanjutkan pengembaraannya hingga ke daerah Batuwangi dan Lebaksiuh. Setelah empat tahun menetap di Lebaksiuh, ia bermukim di dalam goa yang sekarang dikenal dengan Goa Safarwadi untuk mendalami ilmu agama dan mendidik para santrinya.

Keberadaan Goa Pamijahan  ini erat kaitannya dengan kisah perjalanan Syech Abdul Muhyi. Dikisahkan,  ia mendapat perintah dari gurunya, yakni Syekh Abdul Rauf Singkel (dari Kuala Aceh) untuk mengembangkan agama Islam di Jawa Barat bagian selatan sekaligus mencari tempat yang disebutkan dalam ilham sebagai sebuah goa khusus . Setelah melalui perjalanan  panjang dan berat, pada suatu hari ketika sedang asyik bertafakkur, memuji kebesaran Allah, Syech Abdul Muhyi tiba-tiba menoleh ke arah tanaman padinya yang  telah menguning dan sudah  masanya untuk dipanen. Namun setelah dipanen, hasilnya  hanya  sebanyak benih yang ditanam. Mengetahui hal ini,  ia menjadi sangat terkejut sekaligus gembira, karena itu adalah pertanda bahwa perjuangannya mencari goa sudah dekat. Upaya pertama untuk memastikan adanya goa yang dicari  berhasil, dilanjutkan dengan cara menanam padi kembali di lahan sekitar tempat tersebut. Sambil terus berdoa kepada Allah SWT , upaya ini akhirnya juga mendapatkan hasil. Padi yang ditanam, berbuah dan menguning, lalu dipetik hasilnya, ternyata  hasilnya sama seperti pada panen pertama. Hal ini semakin menambah keyakinan Syech Abdul Muhyi bahwa di tempat itulah (di dalam gunung) terdapat goa yang dicarinya.

Suatu hari ketika sedang berjalan ke sebelah timur gunung tersebut, sambil bermunajat kepada Allah SWT, Syech Abdul Muhyi tiba-tiba mendengar suara air terjun dan kicauan burung kecil dari tempat tersebut. Ia kemudian melangkah turun ke tempat di mana suara itu berada  dan di sana ia melihat sebuah lubang besar yang ternyata sesuai dengan sifat-sifat goa yang ciri-cirinya telah ditunjukkan oleh gurunya. Saat itulah tangan Syekh Abdul Muhyi menengadah ke atas sambil mengucap doa sebagai tanda syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan pertolongan pada dirinya dalam upaya menemukan goa yang dicarinya. Setelah perjuangan berat dalam mencarinya selama kurang lebih 12 tahun ,usia Syech Abdul Muhyi  pada waktu itu  genap 40 tahun. Goa itu , kini dikenal dengan nama Goa Pamijahan , terletak di  kaki bukit  Gunung Mujarod .  Nama ini diambil dari kata bahasa Arab yang berarti “tempat penenangan” atau dalam bahasa Sunda  diartikan sebagai tempat “nyirnakeun manah”, karena Syech Abdul Muhyi sering melakukan taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) di dalam goa tersebut.Goa Pamijahan ini pada dasarnya memiliki makna khusus dalam perjalanan dakwah dan spiritual Syech Abdul Muhyi. Penemuan dan keberadaan goa ini seolah menjadi simbol yang menandakan bahwa perjalanan spiritual Syech Abdul Muhyi telah mengalami puncaknya. Selain itu, selalu terdapat makna dan fungsi khusus dalam setiap hal yang terhubung secara istimewa dengan tokoh yang menjalaninya.Hal ini bisa dipahami karena seperti yang diungkapkan oleh Martin Van Bruinessen, bahwa para tokoh sejarah Islam di nusantara khususnya, biasa melakukan pendekatan supranatural dalam rangka meningkatkan kharisma mereka. Goa besar di Pamijahan (Tasikmalaya Selatan) sebagai tempat Syech Abdul Muhyi melakukan ‘riyadhah spiritual’ menjadi salah satu pusat penyebaran tarekat Syathariyah di Pulau Jawa .

Adapun kata “Pamijahan” adalah nama baru di masa hidup Syech Abdul Muhyi . Wilayah ini disebut oleh Syech Abdul Muhyi dengan istilah Safar Wadi. Nama ini diambil dari kata Bahasa Arab, Safar yang berarti “jalan” dan Wadi yang berarti “lembah”. Jadi, Safar Wadi adalah jalan yang berada di lembah. Hal ini disesuaikan dengan letaknya yang berada di antara dua bukit di pinggir kali.Namun sekarang Safar Wadi dikenal  dengan nama Pamijahan, karena banyak orang yang berdatangan berziarah  berduyun-duyun, bagai  ikan yang akan bertelur (mijah). Karena itu nama Safar Wadi kemudian berganti menjadi Pamijahan, sebab mempunyai arti yang hampir mirip dengan tempat ikan akan bertelur , bukan berarti tempat “pemujaan”.

Goa Safarwadi merupakan salah satu tujuan utama peziarah yang berkunjung ke Pamijahan. Panjang lorong goa sekitar 284 meter dan lebar 24,5 meter. Peziarah bisa menyusuri goa dalam waktu dua jam. Salah satu bagian goa yang paling sering dikunjungi adalah hamparan cadas berukuran sekitar 12 meter x 8 meter yang disebut sebagai Lapangan Baitullah. Tempat itu dulu sering dipakai shalat oleh Syech Abdul Muhyi bersama para santrinya.Di samping hamparan batu cadas terdapat sumber air Cikahuripan yang keluar dari sela-sela dinding batu cadas. Mata air itu terus mengalir sepanjang tahun. Oleh masyarakat sekitar, air itu dipopulerkan sebagai air “zam-zam Pamijahan.” Air ini dipercaya memiliki berbagai khasiat. Menjelang Ramadan, para peziarah membawa botol untuk diisi air dari tempat tersebut.

Syech Muhyi  oleh para wali lain disebut  A’dzomut Darojat yang artinya “orang yang mempunyai derajat agung. Syech Abdul Muhyi dalam sejarah hidupnya adalah seorang yang zuhud, pintar, sakti dan terkenal  berani dalam memerangi musuh Islam. Walau ia sudah ratusan tahun telah tiada, namun rohmat serta kekeramatannya masih banyak diburu, terutama oleh para peziarah yang minta berkah lewat wasilahnya. (E-001) ***