Lingkungan dan Turunan Menempanya Jadi Pengusaha Sukses

48

Nining Suminar,  ibu dari Muhammad Aqshal Setyawan (19) dan Muhammad Ali Syahbana (9) ini,  berprofesi sebagai pengusaha konveksi bordiran.   Wanita kelahiran Kota Tasikmalaya 13 November 1978 ini,  menggeluti usaha konveksi bordir sejak tahun 2010,  yang memang menurun dari keluarga dan lingkungannya. Dulu orang tuanya juga berbisnis konveksi, dan ketika itu Nining yang masih kuliah sudah sering ikut berdagang bersama orang tuanya.

“Mungkin faktor keturunan dan lingkungan yang menjadi penyebab awalnya,  dengan modal usaha sekitar 10 juta,” cerita Nining mengenai awal usahanya .

Kedudukannya saat ini sebagai produsen sekaligus suplayer. Setiap dua minggu sekali,  ia mengirim produknya ke grosir-grosir pelanggannya di berbagai kota. Setiap bulan pabriknya mampu memproduksi minimal 300 pieces,  atau setara dengan 15 kodi.

Bahan baku yang digunakannya merupakan bahan lokal atau impor,  tergantung permintaan pelanggan. Untuk produksi, Nining Suminar mempekerjakan 7 orang pegawai dengan keahliannya masing-masing,  yakni di bidang bordir, jahit maupun menyolder.

Segmen pasarnya adalah grosir / toko yang menjual perlengkapan ibadah,  yakni seharga Rp 110.000 / stel untuk orang dewasa.

Pemasaranya juga merambah ke sejumlah kota besar di Indonesia dan ke negara Arab.   Omzet penjualan produk bordir mencapai antara Rp 30 juta – Rp 50 juta / bulan.

Penganut motto hidup “Fokus ke satu titik” ini mengungkapkan bahwa,  keunggulan produk konveksi bordirnya,  terletak pada ukuran yang lebih besar dan hasil pengerjaan yang lebih halus.

Nining mengakui kompetitornya sangat banyak,  tetapi produknya tetap bisa bertahan,  karena ditunjang dengan quality control yang lebih baik sebelum barang dilempar ke pasaran,  sehingga jarang yang bisa menyamainya.

Selain menekuni usaha konveksi bordir,  saat ini Nining Suminar juga tengah mengembangkan usaha pada bidang kuliner.

Dalam menjalankan usahanya,  ia juga pernah mengalami pengalaman pahit,  yang mana usahanya pernah bangkrut,  dan Nining harus menanggung hutang ratusan juta rupiah.  Namun perlahan-lahan ia bisa bangkit kembali,  dan masa-masa sulit itu bisa dilalui.

Selain mengurus usaha konveksi dan kuliner,  Nining juga bertugas sebagai pendamping wirausaha.   Menurutnya,  mengurus usaha pribadi dan menjadi pendamping wirausaha bisa dijalaninya secara beriringan, karena menjadi pendamping wirausaha erat kaitannya dengan usaha yang saat ini ditekuninya.

“Alhamdulilah minat pasar sangat bagus,  terbukti dari permintaan pasar setiap bulannya yang tidak pernah berhenti. Perhatian pemerintah di bidang pembiayaan juga sangat positif,  yaitu dilihat dari banyaknya bank yang menawarkan pinjaman permodalan,”  ungkap Nining.

Saat ini,  Nining Suminar juga menggunakan sumber modal dari bank,  karena ia dulu pernah mengalami bangkrut,  yang disebabkan kurangnya perhitungan dan  menerima modal dari berbagai macam sumber.

Nining menyatakan,  saat ini dirinya sudah insyaf,  dan sangat percaya bahwa usaha tanpa riba / hutang berbunga akan berkah.

“Ketika berada di titik 0 dan bangkrut,  saya mendapat dana hibah bantuan dari pemerintah untuk UMKM sebesar Rp 13 juta,  dan berkat dana tersebut usaha saya bisa bangkit lagi,  Alhamdulillah. Harapan saya kepada pemerintah adalah,  agar semua prosedur legalitas bisa dipermudah,  serta membantu proses pemasarannya,  seperti melalui promosi,  bazar maupun pelatihan-pelatihan.   Pemberian dana hibah juga sebaiknya bisa dilakukan lebih merata,  sekaligus mengadakan pelatihan bagi manajemen keuangan,” pungkasnya kepada BB.

(E-018)***