Syekh Quro Mahaguru Leluhur Cirebon Makamnya Ditemukan Utusan Kasultanan

162

Selain goa di Pamijahan Tasikmalaya Selatan tempat Syeh Abdul Muhyi mengembangkan agama Islam dan mendidik para santrinya , berbeda  dengan Syekh Quro yang mungkin namanya tak seakrab dengan nama-nama para wali di tanah Jawa. Namun, siapa sangka Syekh Quro merupakan salah satu ulama besar yang menyebarkan agama Islam di tanah Sunda. Berrnama asli Syekh Hasanuddin atau Syekh Qurotul Ain atau Syekh Mursahadatillah.Bagi masyarakat Sunda, Syekh Quro dikenal sebagai penyebar Islam di Kabupaten Karawang. Makam Syekh Quro terletak di Pulo Bata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Karawang Jawa Barat. Dalam sejarah diceritakan awal mula penyebaran Islam di Karawang bermula ketika Syekh Quro mendirikan Pondok Pesantren yang bernama Pondok Quro, yang memiliki arti tempat untuk belajar Al-Quran pada tahun 1418 M atau 1340 Saka.Di Pesantren inilah pertama kali dibangun sebuah masjid di Karawang yang sekarang menjadi Masjid Agung Karawang. Syekh Quro adalah penganut Mahzhab Hanafi yang datang ke Karawang bersama para santrinya, antara lain Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur dan Nyai Subang Larang.Setelah lama bermukim di Karawang, Syekh Quro  menikah dengan Ratna Sondari , putri dari Ki Gedeng Karawang, dari hasil pernikahan itu lahir seorang putra bernama Syekh Akhmad yang menjadi penghulu pertama di Karawang.

Ketika usia anak Syekh Quro dan Ratna Sondari  beranjak dewasa, Syekh Quro menugaskan santri–santrinya seperti Syekh Abdul Rohman dan Syekh Maulana Madzkur untuk menyebarkan agama Islam ke wilayah selatan Karawang, yakni ke Kecamatan Telukjambe, Ciampel, Pangkalan dan Tegalwaru .Sedangkan anaknya Syekh Quro , yakni  Syekh Ahmad ditugaskan oleh sang ayah untuk meneruskan  menyebarkan ajaran Agama Islam di Pesantren Quro Karawang (Masjid Agung Karawang sekarang). Sedangkan santrinya yang lain ,  yakni Syekh Bentong ikut bersama Syekh Quro dan Ratna Sondari  pergi ke bagian Utara Karawang tepatnya ke Pulo Bata Desa Pulokalapa Kecamatan Lemahabang Kabupaten Karawang  untuk menyebarkan ajaran Islam dan bermunajat kepada Allah SWT.

Di Pulo Bata Syekh Quro dan Syekh Bentong membuat sumur yang bernama Sumur Awisan, yang sampai saat ini sumur tersebut masih dipergunakan.Syekh Quro akhirnya meninggal dan dimakamkan di Pulo Bata . Sebelum meninggal Syekh Quro berwasiat kepada santri–santrinya agar menjaga masjid-masjid peninggalannya dan menjaga anak miskin dan para yatim dhuafa.Sepeninggal Syekh Quro, perjuangan penyebaran Islam di Pulo Bata diteruskan oleh Syekh Bentong sampai akhir hayatnya. Makam Syekh Quro Karawang dan Makam Syekh Bentong ditemukan oleh Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri dan Syekh Tolha  pada hari Sabtu akhir bulan Sya’ban tahun 1859.Raden Somaredja alias Ayah Djiin alias Pangeran Sambri dan Syekh Tolha ditugaskan oleh Kesultanan Cirebon untuk mencari makam Maha guru leluhur Cirebon yang bernama Syekh Quro.

Mungkin karena ditemukan pada hari Sabtu , sekarang pada setiap hari Sabtu banyak orang yang berziarah. Komplek makam ini berada di pemukiman penduduk Kampung Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang Karawang. Komplek makam berada pada lahan seluas 2.566 m2, Bagian depan merupakan bagian terbuka, bagian tengah merupakan ruangan untuk berdoa, dan bagian dalam tempat makam Syech Quro. Para peziarah tidak diperkenankan memasuki ruangan makam Syech Quro, peziarah cukup sampai di depan pintu ruangan. Didepan pintu tersebut terdapat beberapa benda untuk ziarah seperti tempat pembakaran kemenyan, beberapa plastik tempat air mineral yang berisi air dari sumur keramat dan kotak kayu tempat shodaqoh. Jirat makam berukuran 2,70 x 2,25 m. Nisan terbungkus kain putih. Tinggi nisan 85 cm. Di samping cungkup makam terdapat salah satu sumur keramat yang dinamakan sumur awisan. Sumur tersebut berdiameter 1 meter, air sangat bening dan tidak pernah kering. (E-001) ***