Ada ”Kartel” Dibalik Harga Skutermatik

41

Jika diperhatikan harga sepeda motor matik atau skutermatik khususnya, untuk Honda dan Yamaha haragnya  tidak terlampau jauh.

Harga rata-rata skutik bermesin terkecil sekitar Rp 15 jutaan, seperti Yamaha Mio atau Honda BeAT. Kedua jenis motor tersebut mengusung mesin 110cc sampai 125cc, tapi sekarang harganya cukup mahal tidak terjangkau oleh banyak kalangan, kecuali membeli dengan cara kredit.

” Mahalnya” harga skutik bermesin kecil itu karena adanya permainan “kartel” yang dilakukan Honda dan Yamaha berdasar putusan Mahkamah Agung.

Secara sederhana kartel dapat dipahami sebagai suatu bentuk kerjasama di antara para produsen independen untuk menghalau persaingan dan menguasai pasar.

Tujuan dari kartel untuk menentukan harga, membatasi suplai produk dan kompetisi.

Pembuktian kartel tersebut  dikuatkan putusan Makamah Agung yang menolak kasasi dari Honda dan Yamaha atas vonis permainan harga.

Kasus ini bermula saat Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengendus adanya praktik kartel sepeda motor skuter matik 110-125 cc di Indonesia.

Praktik kartel itu mengakibatkan harga jual ke konsumen melambung tinggi.

Serangkaian pemeriksaan, pengumpulan bukti-bukti dan persidangan digelar KPPU yang melibatkan Honda dan Yamaha.

Akhirnya, pada 20 Februari 2017, KPPU memutuskan bahwa benar terjadi praktik kartel antara Honda dan Yamaha.

Sebagai hukumannya, Yamaha dihukum denda Rp 25 miliar, sedangkan Honda Rp 22,5 miliar.

Putusan KPPU tersebut disangkal Honda dan Yamaha , kedua pabrikan raksasa ini mengajukan banding ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Pada 5 Desember 2017, PN Jakut menolak upaya banding tersebut. PN Jakut memutuskan menguatkan keputusan KPPU.

Kini tinggal tingkat kasasi ke MA sebagai upaya hukum yang bisa dilakukan Honda dan Yamaha. Apa keputusan Makamah Agung , MA menolaknya. Perkara Nomor 217 K/Pdt.Sus-KPPU/2019 digelar dengan Ketua Majelis Yakup Ginting dan anggota Ibrahim dan Zahrul Rabain.

“Kami menghormati putusan MA ini. Jika benar, kami akan mengambil langkah hukum berikutnya,” komentar General Manager Corporate Communication AHM.

Sementara Yamaha, masih belum mau memberikan komentar apapun terkait dengan masalah tersebut.

Praktik pengaturan harga ini jelas merugikan konsumen, karena menjual sepeda motor tidak dengan harga yang seharusnya.

Apalagi, kedua pabrikan ini begitu mendominasi di Indonesia, seperti Honda yang pangsa pasarnya  mencapai antara 70 sampai 80%. (E-002/BBS)***