Kisah Juragan Warung Nasi Tanpa Repot

32

BERANGKAT dari keprihatinan atas nasib sebagian besar pemilik warung nasi di Indonesia yang saban hari banyak kehilangan kualitas hidup, Martin dan Hendra Hudiono menawarkan kemitraan Warjak.

Dengan kemitraan ini, pemilik warung nasi tidak perlu lagi bangun pagi-pagi buta untuk pergi ke pasar berbelanja aneka bahan dan bumbu. Juga, tak repot-repot lagi memasak.

Cukup dengan menjadi mitra Warjak, pemilik warung nasi tinggal mengambil masakan yang sudah matang di titik pengambilan (pick-up point) terdekat dengan gerai mereka.

”Jadi, tinggal buka warung saja. Enggak perlu masak, enggak perlu belanja ke pasar, terima beres,” ungkap Martin.

Konsep ini terbukti sukses menjaring mitra. Baru menawarkan kemitraan September 2017 lalu, mitra Warjak sudah tembus 50 mitra.

Kata Martin, masih ada sekitar 20-an calon mitra yang siap bergabung dan sedang proses mencari lokasi warung nasi yang tepat. Dengan 50 mitra lebih, Martin dan Hendra bisa mengantongi omzet berkisar Rp 1 miliar per bulan.

Jumlah karyawan mereka saat ini sekitar 70 orang. Sebanyak 40 orang di antaranya bekerja di bagian dapur.

Tapi sejatinya, keinginan merintis usaha ini sudah muncul dalam benak Martin pada 2011. Cuma, baru terwujud September 2017. Martin mengajak sang sahabat Hendra untuk berkongsi membangun Warjak, singkatan Warungnya Jakarta.

Dan, bisnis kuliner bukan barang baru buat Martin. Sebab, dia merintis usaha ini dengan membuka restoran dan kafe di 2011 silam.

”Saya ingin supaya pelanggannya adalah anak muda yang suka ­
nong­krong. Tapi ternyata, enggak semudah mendatangkan anak muda buat nongkrong, makan di restoran dan kafe saya,” kata dia yang akhirnya menutup restoran dan kafenya tahun itu juga.

Dari situ, Martin mulai ingin merintis bisnis kuliner yang menjual makanan sehari-hari semacam warteg. Nah kebetulan, ia punya langganan warteg di daerah Pulogadung, Jakarta Timur, yang laris manis lantaran menyajikan masakan yang sedap-sedap betul.
Martin pun mendekati pemilik warteg untuk menawarkan kerjasama membuka cabang. Tapi, pemilik warteg menolak mentah-mentah.

Tak patah arang, tahun-tahun berikutnya, dia masih mencoba merayu pemilik warteg. Lagi-lagi, si pemilik warteg menolak.

Sampai akhirnya, Martin mengungkapkan, si pemilik warteg kena diabetes kemudian pulang kampung pada awal 2017. Usaha wartegnya di Pulogadung pun dia tutup.
Setelah tak lagi berbisnis kuliner, Martin sebetulnya menjajal usaha di bidang perfilman. Di sini, ia bertemu dengan Hendra yang kemudian menjadi sahabatnya. ”Saya pakai jasa cleaning service dari perusahaan Pak Hendra,” ujarnya.

Seiring bisnis warteg di Pulogadung yang Martin incar itu tutup, ia yang tetap ingin berbisnis warung nasi akhirnya menemukan solusi. Yakni, menciptakan jaringan warung nasi kekinian berkonsep satu dapur tapi banyak cabang milik mitra.

Akhirnya, Martin menutup bisnis perfilman pada awal 2017, demi fokus mempersiapkan usaha Warjak. ”Saya melihat, ada potensi di bisnis warung nasi,” imbuh pria kelahiran 23 Oktober 1979 itu.

Martin menjelaskan, restoran dan kafe tak menjual makanan sehari-hari, sehingga bersifat musiman dan pasarnya terbatas. ”Tapi, kalau makanan warteg atau warung nasi kan menyasar semua orang, jual makanan sehari-hari, enggak bosenin, orang memang perlu makan tiap hari,” ujarnya.

Usaha coba-coba
Tidak main-main, Martin dan Hendra mempersiapkan betul kelahiran Warjak. Mereka melakukan trial and error sampai delapan bulan.
Maklum, keduanya merintis usaha makanan matang guna memenuhi kebutuhan gerai milik mitra yang tersebar di banyak lokasi.

Demi hasil yang prima, Martin dan Hendra pun menjalani semua pro­ses tersebut, mulai mencari pemasok bahan dan bumbu, memasak, pengemasan, hingga pengiriman makanan. ”Kami tes membawa makanan de­ngan sepeda motor selama dua hingga tiga jam untuk tahu kondisi dan rasanya, apakah masih oke,” ucap Martin.

Hasilnya, ada makanan yang cepat basi dan kondisinya tak bagus lagi. ”Dari situ kami tahu bumbu, bahan apa saja yang tak bisa kami masak, enggak bisa kami masukkan ke menu. Karena, begitu makanan kami kirim dan kena panas matahari langsung rusak,” beber Martin.

Sayangnya dua sekawan ini menolak buka-bukaan soal modal awal. Yang terang, kata Martin, modalnya sangat besar dan sebagian habis buat membiayai proses trial and error.
Begitu sudah benar-benar siap, Martin dan Hendra mulai menawarkan kemitraan Warjak, tanpa membuka gerai sendiri seperti kebanyakan pebisnis lainnya. Karyawan mereka awalnya baru 10 orang.

Meski begitu, bisnis mereka sudah berbadan hukum berupa perseroan terbatas (PT). ”Kami ingin legalkan dulu, baru dijalani,” kata Hendra yang baru pertama kali berbisnis kuliner. Sebelumnya, dia punya usaha di bidang jasa, misalnya, pemasok tenaga cleaning service.
Untuk menarik perhatian calon mitra, keduanya gencar beriklan di media massa dan media sosial. Lalu, setiap Sabtu mereka melakukan open house di kantor Warjak yang berada di daerah Cengkareng, Jakarta Barat. ”Calon mitra boleh icip menu dulu,” kata Martin.

Waktu pertama kali menawarkan kemitraan Warjak, Martin dan Hendra hanya menarik biaya investasi sebesar Rp 5,5 juta. Lantaran biaya investasi yang murah, banyak yang mendaftar jadi mitra Warjak, hingga 60 orang di bulan pertama membuka pendaftaran.
Namun, masalah justru muncul. Karena modal awalnya murah, banyak yang cuma coba-coba melakoni usaha Warjak, tidak serius. Alhasil, banyak pula mitra yang warungnya hanya buka satu bulan bahkan beberapa hari saja.

Alhasil, Martin dan Hendra menderita kerugian hingga puluhan juta rupiah. Sebab, mereka langsung berinvestasi dapur yang bisa memenuhi order dari 60 mitra. Termasuk, membeli stok bahan pangan.

Tapi ternyata, baru jalan beberapa pekan, hampir 70% mitra tak lagi beli makanan dari pusat, lantaran gerainya pada tutup.

Itu sebabnya, Martin dan Hendra mengerek biaya kemitraan jadi Rp 10,5 juta mulai awal 2018. Dengan investasi lebih mahal, keduanya berharap, mitra tidak menjadikan Warjak sebagai bisnis coba-coba lagi, melainkan usaha serius.

Nah, biar usaha mitra yang gulung tikar tidak terulang lagi, Martin dan Hendra memberi pendampingan. Dan, keduanya wanti-wanti betul kepada para mitra untuk menjaga kebersihan warung dan etalase makanan.
Kalau penjualan mitra masih sepi juga, tim Warjak akan membantu mencari penyebabnya sekaligus jalan keluar yang tepat. Dengan begitu, penjualan warung mitra bisa bagus.

Terserah mitra
Sejak biaya investasi naik, tak banyak orang yang mendaftar jadi mitra. Dalam sebulan, hanya sekitar 20 yang mau jadi mitra. ”Yang penting, kontinyu pesan setiap hari ke dapur kami,” ungkap Martin.

Untuk menu, saat ini Warjak menyediakan sekitar 60 jenis masakan. Urusan pengolahan makanan, terpusat di satu dapur yang berada di daerah Cipinang, Jakarta Timur.
Pengelolaan dapur ada di bawah Hendra langsung. ”Kami punya SOP (standar operasional prosedur) supaya standar mutu tercapai, standar kualitas tercapai. Produksi kami hampir seperti industri, jadi mesti ada SOP-nya,” beber Hendra.

Untuk harga jual ke konsumen, Martin dan Hendra menyerahkan sepenuhnya kepada mitra. ”Karena, kan, setiap tempat pasti beda pasarnya, harga sewa tempatnya juga beda. Yang penting, para mitra tetap untung,” tegas Martin.
Yang jelas, mitra Warjak bisa menawarkan makanan dengan harga lebih terjangkau, bahkan lebih murah dibanding warung nasi sebelah. Soalnya, Martin dan Hendra bisa memotong rantai distribusi bahan pangan lantaran membeli dalam jumlah banyak. ”Kami bisa langsung ke peternak, jadi dapat harga lebih murah,” kata Martin.

Ke depan, dalam jangka pendek, Martin dan Hendra juga akan menawarkan kemitraan dengan sajian satu menu saja. Yang siap mereka tawarkan adalah Nasi Ulam Warjak.
Untuk ekspansi usaha, Hendra menyatakan, masih seputaran Jakarta. Saat ini, ada permintaan dari calon mitra untuk membuka gerai di daerah Karawaci, Tangerang.
”Untuk bisa kami buka pick-up point, kami tunggu ada tiga sampai lima mitra dulu,” imbuh lelaki kelahiran 13 April 1967 ini. Kini, Warjak punya enam pick-up point tersebar di Jakarta. Bersiap ekspansi. (C-003/BBS)***