Mengurai Kepadatan Lalulintas Mudik

32

MENTERI Perhubunan, Budi Karya Sumadi memprediksi, jumlah kendaraan pada musim mudik tahun ini mencapai 10 juta unit. Kendaraan roda empat berjumlah 3,76 juta unit dan speda motor 6,85 juta unit. Hampir semua kendaraan itu memenuhi jalur mudik, baik utara, tengah, maupun selatan. Tol Jakarta, Jabar, Jateng, sampai Jatim, akan mengalami tekanan arus mudik, khusunya pada tanggal 30 – 31 Mei dan tanggal 1-2 Juni. Ketera­ngan Menhub itu disampaikan pada rapat koordinasi jelang masa mudik, di Bandung.Jumlah pemudik tahun ini akan lebih meningkat dibanding tahun lalu. Hal itu terjadi aklibat pembangunan jaringan jalan tol yang sebagian besar telah usai, khususnya jalan tol Trans Jawa. Kemudahan dan kenyamanan sebagai dampak tersedianya sarana jalan bebas hambatan, mendorong masyarakat melakukan perjalanan panjang. Selain saat liburan digunakan untuk mudik juga banyak orang yang melakukan perjalanan wisata.

Me­ngantisipasi padatnya arus lalu lintas itu, pemerintah menyediakan moda angkutan berupa bus 4.200 unit, kapal laut 935, angkutan kereta api 164 perjalanan, dan 66 penerbangan. Pada rapat di Bandung itu, banyak pendapat mengantisipasi padatnya arus lalu lintas pada musim mudik.Ada kesepakatan (sementara) melakukan rekayasa lalu lintas di jalan tol.

Direncanakan pada puncak arus mudik (30-31 Mei dan 1-2 Juni) arus lalu lintas diberlakukan satu arah yakni dari barat ke timur. Sedangkan rekayasa di jalan arteri (bukan tol) dilakukan sistem buka tutup di beberapa titik.Persiapan jelang mudik dilakukan jauh-jauh hari sebelum bulan Ramadan dan Lebaran. Antara lain, penyelesaian jalur tol yang masih sedang dibangun, termasuk Jalan Tol Cisumdawu Seksi Dua, Tanjungsari-Sumedang, perbaikan jalan di luar tol, termasuk lintas Nagreg.

Arus mudik/balik selalu menjadi masalah yang sangat rumit bagi pemerintah, bukan hanya bagi jajaran Kementerian Perhubungan, dan kepolisian, tetapi semua aparatur pemerintahan. Kementerian Perdagangan, sudah disibukkan sejak menjelang Ramadan. Tata niaga segala macam komoditas selalu menyita perhatiannya. Jajaran Kementerian Kesehatan, dari pusat sampai perdesaan, sibuk dengan meningkatnya kecelakaan, pasien umum, dan pengaturan penempatan klinik, pos kesehatan, pengaturan tenaga medis di jalur-jalur mudik. Banyak sekali petugas lapangan yang terpaksa tidak ikut berlebaran. Lalu lintas merupakan masalah paling krusial. Benar-benar membutuhkan perhatian, tenaga, dan sarana prasarana.

Masalah rumit itu tidak akan pernah terselesaikan secara tuntas. Selain mudik sudah menjadi budaya bangsa kita juga merupakan gambaran, populasin penduduk Indonesai makin tinggi, arus urbanisasi masih tinggi juga. Tentu saja, kita tidak mungkin menghapus kebiasaan mudik lebaran itu. Dilihat dari segi silaturahmi dan pemerataan ekonomi masyarakat, kebiasaan mudik itu punya dampak baik. Upaya pemerintah yang harus dilakukan tinggal pengaturan dan pengarahannya. Pembangunan infrastruktur berupa jalan tol, penyediaan berbagai moda angkutan, sama sekali tidak serta merta mengurangi arus mudik. Justru pembangunan infrastruktur itu mengundang masyarakat bepergian, khususnya mudik. Pernyediaan kendaraan bagi pemudik secara gratis juga tidak mengurangi minat masyarakat menggunakan kendaraan pribadi. Penjualan mobil dan motor terus berlangsung.

Upaya yang dilakukan Kemenhub dengan melakukan rekayasa lalu lintas, tidak juga menyelesaikan masalah. Yang terjadi hanyalah pemindahan masalah. Penutupan jalan satu arah, diperkirakan akan melancarkan arus lalu lintas satu arah tetapi menimbulkan masalah bagi pengguina jalan dari arah berlawanan.

Bagaimana lagi, kita tinggal menerima kenyataan ini dengan sabar, tawakal, dan ikhlas. Selamat melaksanakan ibadan saum dan Hari Raya Idulfitri 1440 H. ***.