Raja Dekorasi Di Ibu Kota

39

DUNIA dekorasi sudah akrab dengan Warsono sejak dia masih duduk di bangku sekolah menengah (SMP) pertama. Warsono remaja kerap membantu kakaknya membuat janur pengantin.Itu sebabnya, saat merantau ke Jakarta pada 1992 silam, pria kelahiran Purbalingga, Jawa Tengah, ini bekerja di sebuah perusahaan yang masih ada hubungannya dengan dekorasi. Yakni, perusahaan desain pertamanan alias gardening.

Pekerjaan ini yang kelak membuka jalan Warsono merintis usaha dekorasi dan sukses. Dengan bendera CV Garda Dekorasi, kini lelaki 44 tahun ini jadi salah satu pemain besar jasa dekorasi di Jakarta.

Bukan cuma melayani pernikahan, dia juga menerima permintaan dekorasi pesta kebun, acara kelulusan dan gathering, bahkan pameran. Saban bulan, sedikitnya ia menangani delapan event, dengan tarif mulai Rp 50 juta per acara.

Padahal dulu, waktu masih membantu kakaknya membuat janur pengantin di kampung halamannya, Warsono hanya mendapat upah Rp 3.000 setelah bekerja semalaman. “Tapi, kami dikasih makan minum gratis sama yang punya hajat,” kenang lelaki yang berulang tahun setiap 27 Oktober ini.

Setelah lulus sekolah menengah atas (SMA), kakaknya yang lebuh dulu merantau ke Jakarta, mengajak Warsono menyusul ke Ibu Kota RI. Sebab, ada lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan jasa desain taman.

Namanya: Cendrawasih Design. “Menurut kakak, saya cocok kerja di situ karena saya suka dekorasi,” ujar dia.

Warsono pun diterima di perusahaan tersebut dan ditempatkan di bagian desain. Meski begitu, ia kerap ikut tim operasional mengerjakan taman pesanan klien. Dia juga ikut tim pemasaran saat menawarkan jasa desain kepada calon pelanggan.

Mengetahui semua proses kerja itu, Warsono pun punya mimpi untuk membangun usaha dekorasi. “Tapi kan, saat itu saya belum punya modal. Jadi, saya terus bekerja di perusahaan tersebut,” imbuhnya.

Tiga tahun bekerja di perusahaan itu, dia mendapat tawaran kerja sangat menarik dari pemilik perusahaan percetakan Yoko Card. Sang pemilik yang merupakan kenalan kakak Warsono ingin melebarkan sayap bisnis dengan merintis usaha dekorasi pernikahan.
Nah, Warsono memperoleh kepercayaan untuk memegang usaha tersebut. “Jadi, mulai operasional, gudang, pemasaran, saya semua yang pegang. Ilmu saya di bisnis dekorasi pun bertambah,” beber dia.

Tapi, dua tahun usaha ini berjalan, pemilik Yoko Card enggak fokus lagi mengembangkan bisnisnya. Dia malah beralih ke usaha burung walet di Lampung.

“Yoko Card dijual ke familinya. Tahun 1998, saya memutuskan keluar dari situ. Saya dikasih pesangon dan mobil pikap. Mobil ini yang kelak saya pakai untuk operasional usaha saya,” katanya.

Masuk pemerintahan
Setelah keluar, Warsono makin mantap membangun usaha dekorasi sendiri. Apalagi, ia mengantongi uang pesangon yang cukup banyak.

Pertama-tama, dia mencari rumah sewa untuk tempat tinggal sekaligus lokasi usahanya. Ia ketemu rumah tua yang terbilang luas dengan sewa Rp 3 juta per tahun. “Karena katanya, rumah itu angker,” jelas Warsono yang mengaku selama lima tahun tinggal di rumah tersebut bersama anak istri tidak pernah mengalami kejadian gaib.

Setelah itu, Warsono menggulirkan roda Garda Dekorasi yang resmi berdiri 1999. Semua pekerjaan masih ia lakukan sendiri, mulai mencari klien hingga belanja bunga. Ia juga ikut membantu karyawan memasang aneka dekorasi.

Tentu, tak mudah untuk menjaring klien, sekalipun ia punya banyak kenalan dari tempat kerja sebelumnya. Beruntung, ada event organizer (EO) pernikahan kenalannya yang selalu mengajak setiap kali bertemu dengan calon klien. “Saya berutang budi sekali sama dia, karena bisa dapat lima klien pertama,” ungkap Warsono.

Pada 2000, dia melegalkan bisnisnya dengan mendirikan badan usaha berbentuk comanditaire venootscha (CV). Sebab, beberapa kliennya menggelar acara pernikahan di hotel. Pihak hotel mensyaratkan, harus memiliki badan hukum.

Di tahun-tahun awal, sejatinya Warsono kebanjiran order. Tiap minggu, ia bisa mendekap 5 sampai 10 proyek. Cuma, nilainya masih kecil, paling gede Rp 5 juta per proyek.

Karena itu, Warsono coba masuk ke lembaga pemerintah untuk menangani dekorasi acara-acara mereka. Misalnya, ke Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Dalam Negeri.

Usahanya enggak sia-sia, dia mendapatkan banyak permintaan dari lembaga pemerintah. Bahkan, ia mendapat kepercayaan dari Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) untuk mengurus dekorasi setiap kali ada acara resmi. “Enaknya, meski acara batal, saya tetap dikasih uang,” sebutnya.

Usahanya berkembang. Garda Dekorasi jadi salah satu pemain besar dekorasi di Jakarta. Enggak heran, Warsono banyak menangani dekorasi pernikahan ataupun acara orang-orang besar termasuk artis. Sebut saja, pesulap Demian Aditya, penyanyi dangdut Kristina, serta model Ryana Dea.

Pada 2014, ia pun memindahkan kantornya ke sebuah ruko tiga lantai di daerah Cengkareng, Jakarta Barat, yang dia beli. “Secara bertahap, saya juga beli gudang. Sekarang sudah ada tiga gudang, luasnya total lebih dari 3.000 meter persegi,” tambah Warsono.

Jumlah karyawannya saat ini kurang lebih ada 30 orang. Lima di antaranya mengurus bagian pemasaran. Tapi, saat sedang ada event terutama saat musim pernikahan, ia membutuhkan ratusan pekerja lepas. Soalnya, dalam satu hari, dia bisa mengerjakan dekorasi pernikahan di lokasi yang berbeda.

Pada 2016, Warsono menambah lini usaha dengan masuk ke dekorasi pertemuan dan pameran. “Tahun lalu, kami yang bikin dekorasi pameran pernikahan di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta,” ujarnya.

Nama baik hancur
Tentu, yang namanya bisnis tidak selalu di atas. Warsono pernah terpuruk cukup lama, sekitar tahun 2005–2006. Gara-garanya, ada klien yang kecewa berat dan menuliskannya di Surat Pembaca Kompas. “Memang, salah saya, karena tidak memantau sebab saat itu saya di lokasi lain,” katanya.

Sebetulnya, persoalannya tidak besar, hanya kurang isolasi untuk menempel karpet. Alhasil, karpet menjadi jelek. “Itu karena waktunya sudah mepet tidak sempat keluar lagi untuk beli,” ungkap Warsono.

Dampak dari surat pembaca itu sangat besar. Banyak klien yang membatalkan order sekalipun mereka sudah membayar uang muka sebesar 30% . Masalahnya, nilai satu kegiatan ada yang mencapai ratusan juta rupiah.

Bukan cuma rugi materi, Warsono juga menderita kerugian nonmateri. Nama Garda Dekorasi menjadi buruk. Para EO yang biasa memakai jasanya juga menjauh.
“Enggak bisa dihitung dan dinilai rupiah, karena nama baik jatuh. Memulihkannya pun enggak sebentar, sampai setahun lebih. Tapi, ini jadi pelajaran sangat berharga buat saya,” tegas dia.

Warsono sampai sempat pulang kampung untuk menenangkan diri di rumah orangtuanya. Seminggu menepi, ia kembali ke Jakarta dan siap menghadapi semuanya.

“Saya bilang ke semua klien, menjelaskan situasinya, kenapa bisa terjadi kekecewaan pelanggan itu. Saya bilang, saya betul-betul akan berkomitmen dan memantau secara langsung, bagaimana prosesnya supaya benar-benar tidak mengecewakan mereka. Alhamdulillah, secara bertahap, nama kami bagus lagi,” tuturnya.

Tapi, masalah bukan berarti tidak muncul kembali. Tahun lalu, misalnya, Warsono kena tipu. Ada klien yang tidak melunasi pembayaran.

Nilainya mencapai Rp 60 juta. “Saya samperin ke rumahnya, ternyata enggak ada, sudah tidak tinggal di situ lagi,” ujar dia.

Ia juga pernah gagal saat menjajal lini usaha baru di bidang kue pengantin pada 2007. Ia mencoba usaha ini lantaran banyak menangani dekorasi pernikahan dengan konsep internasional yang membutuhkan kue pengantin.

“Tahun 2007, saat banjir besar, dus-dus kue di gudang jadi perahu. Mungkin baru sebulan dijalani. Setelah itu, saya fokus ke dekorasi. Kalau ada yang mau kue, nanti saya tunjukkan ke vendornya saja,” jelasnya.

Ke depan, Warsono akan memperkuat lini usaha pameran. Saat ini, ia sedang melakukan pendekatan ke pengelola Gedung Smesco supaya bisa menangani event di sana.
Selain itu, dia terus mengoptimalkan pemasaran lewat media sosial terutama Instagram. Warsono mempekerjakan orang khusus untuk mengerjakannya. (C-003)***