Unik, Stok Bahan Baku Kulit Diperoleh Saat Idul Adha

53

BISNIS BANDUNG — Kepala Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), Heru Budi Susanto, S.E., M.T. mengemukakan, isu utama di sektor industri kulit nasional saat ini adalah bahan baku, regulasi ekspor- impor dan teknologi pengolahan. Dalam hal bahan baku,menurut Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia (APKI) dalam lima tahun terakhir stok bahan baku kulit berkurang. Di pasar domestik hanya mampu mencukupi 40-50%, produsen kulit harus mengimpor sisa kebutuhan dengan prosedur yang cukup rumit.

Karakter industri kulit nasional sangat khas karena untuk stok bahan baku produsen kulit mayoritas diperoleh pada momen Idhul Adha , hingga minimal stok bisa hingga tiga bulan. Stok kulit terakhir terus menurun.

Kaitannya dengan regulasi ekspor- impor, masalah klasik pada sektor ini adalah sinkronisasi regulasi. Ketidakseimbangan bahan baku dan kebutuhan membuat kulit mentah domestik lebih menguntungkan jika di impor. Isu ketiga adalah teknologi pengolahan dalam 10 tahun terakhir praktis tidak ada investasi baru di industri kulit Ketergantungan teknologi pengolahan dan bahan baku cukup tinggi. Industri kimia dan pengolahan belum mampu dipenuhi oleh industri lokal. Sebab itu , isu teknologi pengolahan limbah yang tidak ramah lingkungan terus menjadi polemik kulit lokal. Sedangkan ketergantungan industri lokal terhadap teknologi dan bahan baku pendukung lebih dari 60%.

Dikemukakan Heru Budi, meski industri kulit nasional berpotensi besar, namun sejak 1998 potret produsen kulit yang beroperasi terus berkurang. Dengan kapasitas terpasang yang relatif tetap, kondisi riil di industri produksi terus menurun. Utilitas optimal tidak bisa dipertahankan karena ketergantungan bahan baku pendukung dan teknologi. “Jadi tantangan terbesar penelitian dan pengembangan di sektor kulit ini ada pada pengembangan teknologi bahan baku dan teknologi pengolahan ramah lingkungan ,” ungkap Heru Budi , baru-baru ini . Menurutnya, saat ini, 40% kebutuhan kulit nasional ditopang oleh produksi nasional, sisanya harus impor . Berdasar data APKI (Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia) saat ini tercatat terdapat kurang lebih 67 pabrik skala menengah dan 230 skala kecil yang terpusat di Pulau Jawa dengan kapasitas produksi sekitar 250 juta kubik/ tahun ,namun yang tersedia hanya 100 juta kubik/tahun.
Untuk mengolah kulit menjadi sebuah produk yang berkualitas membutuhkan teknologi yang canggih. Beberapa pengusaha kulit memiliki keterbatasan alat dan inovasi dalam pengolahan kulit. yang berpengaruh dan harga jual

Industri kulit nasional saat ini menurut Heru Budi , tidak mencerminkan integrated supply chain manajemen yang baik. Data dan fakta menunjukkan bahwa populasi ternak yang tersedia tidak serta merta cukup untuk kebutuhan industri domestik. Peternakan tradisional sebagai hulu industri kulit tidak berorientasi pada industri.

” Secara teori pelaku di industri kulit saat ini mencerminkan fenomena penyesuaian untuk melakukan perannya di pasar. Perilaku ini jelas ditunjukkan pada penentuan harga, kordinasi antar pelaku yang sangat memungkinkan terjadi pada struktur pasar , termasuk praktik-praktik kolusi. Perilaku setiap perusahaan akan sulit diperkirakan,” ujar Heru Budi. (E-018)***