Masjid Agung Karawang , Cirebon dan Demak Sebelum Dipugar Bentuknya Sama

210

Keberadaan Masjid Agung Karawang yang saat ini kokoh berdiri tidak terlepas dari sosok Syekh Quro atau Syekh Hasanudin , penyebar agama Islam di Jawa Barat, khususnya di Karawang. Ia menjadikan Masjid Agung Karawang sebagai mercusuar  penyebaran agama Islam.  Syekh Hasanudin merupakan putera dari Syekh Yusuf Sidik/ Idofi , seorang ulama besar dari Champa (Kamboja). Ia Kemudian melakukan penyebaran agama Islam ke Nusantara, ketika itu ia berlabuh di pelabuhan Cirebon yang kala itu  dibawah pengawasan Ki Gedeng Tapa/Ki Gedeng Jumajan Jati.Kemudian Syekh Hasanudin meminta izin untuk menyebarkan agama Islam di Cirebon kepada Ki Gedeng Tapa yang pada akhirnya menyetujui dan mempersilahkan Syekh Hasanudin menyebarkan keyakinannya. Dalam sejarahnya diceritakan awal mula penyebaran Islam di Karawang bermula ketika Syekh Quro mendirikan Pondok Pesantren yang bernama Pondok Quro yang memiliki arti tempat untuk belajar Al-Quran pada tahun 1418 M atau 1340 Saka.Di Pesantren inilah pertama kali dibangun sebuah masjid di Karawang yang sekarang menjadi Masjid Agung Karawang.

Setelah lama bermukim di Karawang, Syekh Quro  menikah dengan Ratna Sondari,  putri dari Ki Gedeng Karawang, dari pernikahan itu dianugrahi seorang putra  bernama Syekh Akhmad yang kemudian menjadi penghulu pertama di Karawang.Syekh Quro juga memiliki seorang santri yang berjasa dalam menyebarkan ajaran agama Islam di Karawang , yakni Syekh Abdulah Dargom alias Syekh Darugem bin Jabir Modafah alias Syekh Maghribi keturunan  Sayyidina Usman bin Affan RA yang kelak disebut dengan nama Syekh Bentong alias Tan Go. Syekh Bentong memiliki seorang istri bernama Siu Te Yo dan mereka mempunyai seorang putri yang diberi nama Siu Ban Ci.Ketika usia anak Syekh Quro dan Ratna Sondari  beranjak dewasa, Syekh Quro menugaskan santri–santrinya, antara lain Syekh Abdul Rohman dan Syekh Maulana Madzkur, untuk menyebarkan ajaran Islam ke bagian selatan Karawang, tepatnya ke Kecamatan Telukjambe, Ciampel, Pangkalan dan Tegalwaru .Sedangkan anaknya Syekh Quro , Syekh Ahmad ditugaskan  sang ayah untuk meneruskan  menyebarkan ajaran Agama Islam di Pesantren Quro Karawang atau Masjid Agung Karawang sekarang.

Masjid Agung Karawang merupakan masjid agung tertua yang dibangun di tanah Jawa ,didirikan sekitar tahun 1418 Masehi oleh Syech Quro. Menyusul beberapa tahun kemudian (1475 Masehi) di Cirebon, Sunan Gunung Jati mendirikan masjid yang hampir sama dengan yang dibangun Syech Quro. Lantas di tahun 1479 Masehi didirikan juga di Demak. Masjid-masjid itu dengan 3 ciri di antaranya bentuk bangunan Joglo ber­tiang utama (soko guru) empat, bentuk atap limas bersusun tiga yang melambangkan Iman, Islam dan Ihsan.Sejak masa Bupati Karawang VI sampai Bupati Karawang IX i antara tahun 1786 – 1827, tidak ada dilakukan perbaikan maupun perluasan bangunan dan sebagainya. Sebab sejak tahun 1827 para Bupati Karawang IX sampai  XXI , pemerintahan kolonial Belanda tidak lagi berkantor di Karawang, pindah ke Wanayasa dan Purwakarta.

Setelah berlakunya Undang Undang no 14 tahun 1950, tentang pembentukan daerah kabupaten di lingkungan Propinsi Jawa Barat,  Kabupaten Karawang terpisah dari Kabupaten Purwakarta dan ibukotanya kembali di Karawang. Sedangkan Bupati Karawang masa itu dijabat oleh Raden Tohir Mangkudijoyo yang memerintah dari tahun 1950 hingga 1959.Pada tahun 1950, atas persetujuan para ulama dan umat Islam, Mesjid Agung diperluas pada  bagian depan dengan bangunan permanen ukuran 13 x 20 meter ditambah menara ukuran kecil dan satu kubah ukuran 3 x 3 meter setinggi 12 meter dengan atap dari seng. Adapun luas tanah masjid, termasuk makam kurang lebih 2.230 meter.Bangunan Masjid Agung Karawang yang kini  berdiri megah di pusat Kota Karawang merupakan bangunan hasil renovasi yang diresmikan pada tanggal 28 Januari 1994 oleh Gubernur Jawa Barat, R. Nuriana. (E-001)***