Masjid Agung Sumedang Berkubah Mahkota Tempat Singgah Para Raja Nusantara

101

BISNIS BANDUNG – Sebuah Masjid berusia ratusan tahun berdiri megah di tengah Kota Sumedang. Masjid yang dibangun pada  masa pemerintahan kerajaan Sumedang  memiliki keunikan dari  kubahnya yang menyerupai mahkota raja.Selain berkubah mahkota, masjid ini juga memiliki situs budaya yang menjadi tempat  menyimpan senjata perang pada masa kerajaan . Pada  bulan Ramadan , masjid bermahkota raja ini  banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.
Masjid Agung Sumedang dibangun  tahun 1850 atas prakarsa Pangeran Soeria Atmaja atau dipanggil Pangeran Mekkah. Suasana masjid yang sejuk dan nyaman membuat  jamaah merasa betah berlama-lama di dalam masjid maupun di halamannya.
Dari tahun ke tahun, tidak banyak perubahan bentuk fisik bangunannya. Pengelola cenderung mempertahankan asitektur aslinya. Pada bagian atasnya, masjid yang memiliki kubah mahkota raja di beberapa sudut bangunannya.  Mahkota Binokasih yang kini menjadi ikon Kabupaten Sumedang.
Beberapa waktu yang lalu, ada rencana kubah masjid akan diganti , namun, banyak pihak  tidak menyetujuinya, karena ada kaitan sejarah dari masjid ini  dengan masjid Demak, sehingga niatan tersebut urung dilakukan. Alasan penggunanaan mahkota raja , karena pada zaman dulu banyak raja-raja dari seluruh nusantara sengaja singgah ke Sumedang.

Tidak hanya itu, masjid yang dibangun oleh arsitek Tionghoa dan Muslim ini memiliki tiang penyangga yang jumlahnya bermacam macam, mulai dari satu tiang, tiga tiang, lima tiang hingga enam tiang. Hal tersebut sebagai simbol ke Islaman, satu artinyaTuhan yang Maha Esa, tiga tiang berarti Dzikir, lima tiang adalah rukun Islam, dan enam tiang sebagai simbol rukun Iman.

Di bagian dalam masjid terdapat bangunan seperti singgasana raja tempat berteduhnya sang raja , tepatnya bagian  mihrab. Di beberapa sudut bangunan terdapat ukiran-ukiran bertulisdkan huruf Arab yang sarat akan makna sejarah

Keunikan lain dari masjid agung Sumedang ini, yakni situs bernama Lingga. Dahulunya, Lingga digunakan sebagai tempat untuk menyimpan aneka persenjataan perang, seperti tombang, pedang, keris dan tameng.
Pada  Situs ini tertulis bahasa sansekerta yang berisi amanah bagi manusia untuk saling menjaga dan melindungi satu sama lainnya.

Sedangkan mengenai persenjataan perang yang  diletakan di dekat masjid  , waktu itu dimaksudkan untuk mempermudah prajurit jika secara mendadak harus membawa senjata karena khawatir ada serangan musuh.

H. Endang Hasanudin, Ketua DKM Masjid Agung Sumedang menuturkan, masjid ini merupakan masjid bersejarah dengan  model kubah mastaka atau yang biasa disebut dengan mahkota.

“Masjid pertama di Sumedang ini  dibangun di tengah-tengah Alun-alun Sumedang, di sebelah kanan masjid tempo dulu merupakan lokasi kerajaan Sumedang yang kini menjadi Gedung Bupati dan Museum,” ungkap Endang menjelaskan Masjid Agung Sumedang..

Kemudian, lanjut Endang , bangunan lain di depan Masjid  adalah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) , kaitan masjid berdekatan dengan Lapas , dimaksudkan agar suara azan dari Masjid bisa mengingatkan para tahanan untuk melaksanakan salat dan menjadi sosok yang baik setelah keluar dari penjara.

”Masjid Agung Sumedang  menjadi kebanggan sebagai warisan budaya yang terus dijaga  masyarakat Sumedang,” tambah Endang. (E-010)***