TPT Masih Jadi Andalan Jabar

6

     JAWA Barat sebagai sentra tekstil dan produk tekstil (TPT), masih akan bertahan meski berada pada guncangan dekade ini.  Akhir-akhir ini TPT Jabar terpapar berbagai masalah. Isu lingkungan hidup yang menohok industri tekstil sebagai penyebab utama pencemaran  sungai, gejolak buruh akibat tarik menarik kepentingan buruh dan pengusaha berakitan dengan upah, dan terus menurunnya nilai ekspor TPT. Di samping itu, industri TPT mengalami stagnan akibat tekanan terhjadap impor bahan baku. Indonesia belum benar-bena mampu menyediakan bahan baku TPT.     Masuknya era Revolusi Induistri 4.0 juga menjadi ”ancaman” bagi industri TPT. Pada satu sisi industri harus mulai mengarah ke Industri 4.0 apabila industrki tersebut ingin menjadi pemenang dalam persaingan global. Pada sisi lain, impor bahan baku akan meningkat tajam, akibatnya neraca perdagangan internasional Indnesia sulit  necapai keseimabangan. Pada sisi lain, angka pengangguran di Indonesia akan semakin meningkat tajam. PHK yang mau tidak mau harus dilakukan akan berpengaruh buruk terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.

      Memasuki era digitalisasi, gejolak buruh, pertentangan kepentinan lingkungan hidup, ekspor impor yang belum berimbabng, berpengaruh pula terhadap arus investasi. Jabar yang selama ini dominan dalam masuknya investasi, dikhawatirkan kaum investor mundur karean melihat prospek TPT dan industri lain di In donesia, khususnya di Jabar stagnan yang cenderung menurun. TPT Indonesia hampir tidak mampu bersaing dengan TPT ASEAN seperti Vietnam dan lain-lain. Menghadapi keadaan perindustrian TPT Jabar, banyak pengusaha yang merelokasi pabriknya dari Jabar ke Jateng atau tempat lain bahkan ada juga yang lari ke luar negeri.

      Di tengah kegalauan dan situasi politik yang memanas sekarang ini,  justru TPT terlihat bangkit. Menurut berita yang dimuat medsos dan media mainstream,kini TPT dan industri manusfaktur mulai naik. TPT mengalami kenaikan sampai 18,98 persen. industri manufaktur naik 4,45 persen. Neraca perdagangan yang  semakin berimbang bahkan surplus, mendorong TPT dan hasil industri manufaktuir mulai bangkit. Pasr ekspor TPT dan produk manufaktur meningkat 29,19 persen dibanding saat yang sama tahun 2018 lalu.  Membaiknya TPT dan industri manufaktur akan dapat dipertahankan bahkan lebih ditingkatkan lagi apabila pemerintah dan masyarakat Jabar, khususnya, mampu mendiorong pasar TPT, baik ekspor mauipun domestik. Pemerintah dapat menjembatani kepentingan buruh dan kepentringan pengusaha. Membuka jalur ekspor selebar-lebarnya, mengurangi impor bahan baku dengan cara meningkatkan produktivitas hulu dan meningkatkan mutu dan daya saing industri hilir

      Relokasi indstri TPT dari Jabar Tengah atau  sempadan Citarum ke Segi Tiga Emas, Sumedang – Majalengka – Indramayui (sumain) seyogianya segera direalisasikan. Lingkungan hidup di sepanjang Citarum terselamatkan, daerah sumain baik secara ekonomi maupun sosial akan terdongkrak. Selain itu, industri TPT tidak dapat lepas dari era industri 4.0. Memasuki era mutakhir itu pemerintah harus mampu meningkatkan SDM tenaga kerja dari manual ke digital. Produktivitas dan kualitas hasil industri akan meningkat. Begitu pula pasar akan terbuka lebar karena daya saing TPT kita meningkat pula. Risikonya, angka pengangguran akan meningkat akibat digitalisasi itu. Pemerintah haruis dapat mengalihkan tenaga kerja dari industri padat karya ke industri kreatif, dari buruh ke pengusaha kreatif. Bagaimanapun, peningkatan kinerja industri harus dapat dirasakan rakyat, minimal di lingkungan kawasan industri itu. ***