Dr. Reginawanti Hindersah Menjadi Dosen Merupakan Kehidupan Profesional

537

Dr. Reginawanti Hindersah, kelahiran Jakarta 14 Oktober 1961, selain berprofesi sebagai dosen di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), ia juga mengemban tugas sebagai Kepala Pusat Unggulan Maluku (PU MC) Corner Unpad, yang memfasilitasi pelaksanaan tugas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di Maluku, khususnya Maluku Utara, sebagai wujud pengabdian Unpad di wilayah Indonesia Timur.

Istri dari Dr.Hilwadi Hindersah (Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB) ini menceritakan tentang awal kiprahnya menjadi akademisi, yakni ketika ia lulus S1 dan ingin bisa menjadi dosen di almamaternya yaitu Fakultas Pertanian Unpad.

Dr. Regina kemudian diterima menjadi dosen tetap Unpad pada tahun 1986 di Departemen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian (Faperta).

“Di rapor SD pun saya menuliskan dosen pada kolom cita-cita,” ungkap Regina kepada BB di Bandung.

Seiring berjalannya waktu, hingga saat ini Regina sudah menekuni profesi sebagai akademisi selama 33 tahun.  Spesialisasinya adalah bidang Biologi Tanah Khusus Bakteri Tanah Pemfiksasi Nitrogen, untuk dimanfaatkan sebagai pupuk hayati dalam produksi tanaman dan mikroba tanah, dan untuk bioremediasi lahan pertanian terkontaminasi.  Kedua sub bidang tersebut berperan penting dalam memulihkan kualitas lahan pertanian.

Penyebab Dr. Regina tertarik untuk menggeluti spesialisasi keilmuan tersebut berawal di tahun1984, yakni saat ia menyusun skripsi, dimana ketika itu dunia jasad renik pada pertanian belum banyak diperhatikan, padahal sejumlah besar mikroba di dalam tanah mengatur siklus nutrisi tanah, dekomposisi bahan organik dan menjaga kualitas fisik tanah.

”Semuanya berperan penting untuk pertumbuhan dan produksi  tanaman pangan serta kualitas bahan pangan nabati.  Setiap spesies mikroba di tanah memiliki peran khusus, tetapi tetap saling berinteraksi dengan mikroba lainnya,” tutur Regina.

Selama berkiprah sebagai akademisi, ia telah mempublikasikan hasil riset pada sejumlah jurnal di dalam maupun luar negeri, sedikitnya tiga artikel setiap tahun.  Dr. Regina juga aktif di Laboratorium Biologi Tanah, yakni lembaga riset beberapa peneliti dalam satu laboratorium (Dr. Mieke Rochimi Setiawati, Dr. Pujawati Suryatmana dan Dr. Betty Natalie Fitriatin) untuk menghasilkan pupuk hayati yang sudah dikomersialisasi, yaitu bekerjasama dengan PT Pupuk Kujang.  Saat ini mereka sedang meneliti bakteri spesifik untuk diformulasi menjadi pupuk hayati,  bekerjasama dengan PT Pupuk Indonesia Holding Company.

Dr. Reginawanti mengaku bahwa, tidak ada yang paling berkesan dari semua artikel yang ditulisnya, karena seluruh artikel ilmiah memiliki makna unik bagi pengembangan pertanian.

Ibu dari Alamanda Hindersah, S.Sos. (29) dan  Haidar Hindersah, dr. (24) ini mengatakan, penghargaan terbesar yang diperolehnya berasal dari BUMN yang mengakui kualitas pupuk hayati hasil penelitiannya, dan diperdagangkan seperti halnya produk komersil lainnya, dengan harga yang terjangkau bagi petani.  Ini adalah bagian dari skema kerjasama Unpad dengan institusi bisnis yang mendukung program kerjasama pentahelix Unpad.

Bagi Dr. Regina, hal menarik yang dialaminya selama menjalani profesi sebagai akademisi adalah, adanya sejumlah kecil mahasiswa yang sangat “excellent” dalam memberi masukan ilmiah.  Dirinya juga tak pernah pernah meminta kepada anak-anaknya untuk berprofesi seperti dirinya.  Mereka adalah pribadi unik sebagai manusia dengan karakter tersendiri. Tidak ada anaknya yang mengikuti karir seperti dirinya maupun ayahnya.  Diakuinya pula, profesinya saat ini bisa berjalan karena mendapat dukungan dari rekan sejawat maupun institusi tempat saya bekerja, serta dari suami dan anak-anak.  Ia sangat berterima kasih kepada mereka.

Menurut Regina, manfaat yang diperoleh selama menggeluti profesi sebagai akademisi adalah, terbentuknya komunitas kerja yang tidak sebatas hanya dengan para akademisi.  Jejaring dan kemampuan mengorganisasi terbentuk sebagai sisi positif keseriusan menjadi akademisi.

Selain menjadi akademisi, Dr. Regina juga mendapat amanah sebagai Tim penilai Anugerah Inovasi Jawa Barat sejak tahun 2011 sampai sekarang, termasuk membantu Badan Pendapatan Daerah Jabar untuk menilai kinerja beberapa stakeholder dalam rangka meningkatkan pendapatan daerah.

Ia juga mengutarakan bahwa, Ilmu Biologi Tanah khususnya Mikrobiologi tanah di Indonesia berkembang pesat bila dibandingkan dengan era tahun 80-an. Indikatornya, produk input pertanian yang diformulasi dari mikroba tanah sudah ada di pasaran, yang mana hal ini belum ditemui pada 20 tahun yang lalu.  Semua ini ditunjang oleh banyaknya periset mikroba tanah di Perguruan Tinggi maupun Lembaga Penelitian .

Di samping itu, Kementerian Pertanian dan BUMN sangat mendukung pengembangan sarana produksi pertanian berbasis mikroba untuk produksi pangan berkelanjutan dan menjaga lingkungan.  Saat ini Indonesia mengalami kondisi penurunan kualitas lingkungan, sehingga pemerintah sangat mendukung pertanian ramah lingkungan ..

Ditambahkan pula oleh Dr. Regina bahwa, untuk membenahi kondisi lingkungan saat ini, hal yang utama adalah, mengupayakan perubahan sosial untuk memilih produk ramah lingkungan, serta mendorong dan memberi dukungan untuk produksinya.  Secara teknis, riset untuk menghasilkan produk ramah lingkungan dapat dilakukan dalam jangka waktu 5-10 tahun, tetapi perubahan sosial akan membutuhkan waktu yang lebih lama, dan juga memerlukan ahli dari berbagai  disiplin ilmu sosial, sehingga semua ini menjadi bagian pekerjaan yang tersulit.

(E-018)***