Perang Dagang Berlanjut Indonesia Tertekan

9

    SETELAH Amerika Serikat dan China melakukan gencatan senjata, perang dagang kedua negara raksasa itu tidak berakhir. Perdamaian  AS-China hanya sampai saling kunjung pejabat saja. Sepulang dari perundingan itu, AS maupunChina kembali menyusun strategi baru dalam perang berkelanjutan. Genderang erang tarif bea masuk kembali ditabuh. Mereka tidak mau lagi melihat berbagai carta yang pernah mereka tandatangani. Perjanjian perdagangan internasional, baik bilateral, maupun multilateral serta kawasan, mereka abaikan. Dominasi ekonomi negaranya dalam pasar global tetap menjadi sasaran akhir masing-masing.

      Manakala dua kekuatan ekonomi raksasa berperang yang menjadi korban bukan saja perekonomian di China dan AS, Negara lain, terutama negara berkembang, pasti menjadi korban pula.  Indonesia yang pada Q-1 2019 menunjukkan kemajuan ekonominya, kini mulai terasa ada tekanan global. Hal itu terlihat dari nilai tukar rupiah yang sesdikit goyah karena melemah. Ekspor yang sediklit melangkah ke arah lebih positif, harus terkendala berbagai kebijakan protektif AS dan China.

      Volume perdagangan global tampak merosot, harga saham gabungan anjlok sekira  3,45 persen. Nilai tukar rupiah sedikit melemah. Pertumbuhan ekonomi dunia juga—seperti dimuat KOMPAS 16/5, diprediksi hanya mencapai 3,3 persen bahkan IMF menyebut angka 2,9 persen saja. Indonesia kembali mengalami defisit neraca perdagangan. Menurut  BPS, neaca perdagangan Indonesia defisit dari 2,501 miliar dolar AS menjadi 2,5564 miliar dolar AS. Nilai ekspor Januari-April 2019 turun 9,39 persen dibanding bulan yang sama tahun 2018. Pada sisi laion, nilai impor juga mengalami penurunan terutaa pada barang konsumsi serta bahan baku dan bahan penolong. Penurunan impor itu sebetulnya punya nilai positif bagi peningkatan ekspor. Tetapi dampak lainnya, penurunan impor bahan baku industri dapat berpengaruh terhadap kinerja industri manuifaktur.

      Dampak perang dagang itu melanda perekonomian dunia padahal perekonomian Indonesia sebetulnya diprediksi akan membaik pada tahun ini. Namun  perang dagang AS-China utu ternyata berdamak negatigf. Indonesia dan beberaa negara di ASEAN dan Amerika Latin, nyaris tak mungkin pasang badan melawan dampak negatif tersebut. Benar, Indonesia masih punya peluang lebih besar dibanding negara sedang membanguin lainnya. Indonesia memiliki potensi pasar yang sangat besar yakni  jumlah penduduk. Sejak lama Indonesia menjadi incaran negara lain Potensi pasar yang besar serta luas wilayah yang juga nesar, merupakan potensi pasar bagi masuknya arus barang dari luar.

      Potensi pasar domestik itu merupakan peluang bagi Indonesia dalam mengembangkan ekonomi dan perdagangan. Justu pasar domestik itulah yang harus segera diisi produk domestik. Jangan sampai peluang itu justru dimanfaatkan negara lain. Ekspor tidak harus menjkadi target utama. Sebaiknya kita beralih ke pasar domestik. Impor bahan konsumsi yang menurun harus menjadi peluang bagi para pengusaha domestik, mengisi pasar yang ditinggalkan barang impor itu. Tenru saja kita juga harus terus mendorong ekspor barang industri manufakltur. ***