Pemprov Diminta Perhatikan Kelompok Peternak Ayam

22

BISNIS BANDUNG- Ketua Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat Didi Sukardi meminta Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mengeluarkan kebijakan hendaknya memperhatikan para kelompok peternak ayam.

Saat ini kondisi peternak ayam di Jawa Barat, tengah mengalami permasalahan yang cukup kompleks. Salah satunya permasalahan naiknya harga bibit ayam atau Day Old Chicken (DOC) yang dikhawatirkan akan berimbas pada kerugian yang dialami oleh para peternak.

Ketika melakukan kunjungan kerja ke Balai Pengembangan Perbibitan Ternak Unggas Jatiwangi Kabupaten Majalengka, Kamis (16/5/19), menurut  Didi  selain naiknya harga bibit ayam, juga  ada  kendala anggaran pangan, terjadinya anomali penyakit unggas, hingga minimnya alat penetas adalah permasalahan yang dialami oleh sebagian besar masyarakat peternak ayam di Jawa Barat.

“Saya berharap Pemprov perlu mengambil kebijakan yang cepat dan tepat untuk selamatkan peternak yang menjadi penggerak ekonomi masyarakat,” katanya.

“Pemerintah juga harus memberikan ruang, kepada peternak rakyat agar bisa bertahan dan berkembang,” ujarnya.

Didi menambahkan, Komisi II DPRD Provinsi Jawa Barat akan segera menindaklanjuti permasalahan tersebut dengan melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait.

“Kita tentunya akan selalu berkoordinasi dengan dinas bersangkutan untuk mencegah tingginya biaya sarana produksi seperti naiknya harga bibit ayam sehingga kerugian yang bersifat ekonomi dapat ditekan seminimal mungkin,” tukasnya.

Bisnis Bandung mencatat naiknya harga daging ayam ras dan telur dalam beberapa hari terakhir dipengaruhi berbagai faktor. Mulai dari masalah cuaca, naiknya kurs dolar Amerika hingga larangan penggunaan antibiotik dalam pakan ayam.

Berbagai masalah tersebut membuat biaya produksi ditingkat peternak tinggi. Kondisi itu tentu berdampak juga terhadap harga jual daging dan telur di pasaran.

Kemudian naiknya nilai tukar dolar Amerika terhadap rupiah yang juga mempengaruhi harga pakan. Kondisi cuaca yang terasa dingin belakangan ini juga turut meningkatkan biaya produksi di tingkat peternak.

Kini  ada  soal larangan AGP (antibiotic growth promoter). Sekarang dia (AGP atau antibiotik) tidak boleh di makan, namum sampai saat ini belum ada penggantinya. Itu sudah membuat tambahan-tambahan biaya produksi.

Naiknya harga telur juga dipengaruhi oleh tingginya biaya produksi di tingkat peternak. Selain itu, Jawa Barat bukan merupakan daerah penghasil telur. Sebagian besar dipasok dari Blitar, Jawa Timur dan daerah lainnya. (B-002)***