Jalan-jalan dan Menikmati Kuliner Kawasan Jalan Surya Kencana Bogor

405

Bogor terkenal memiliki destinasi wisata alam yang menjadi favorit para pelancong. Sejak masa kolonial terdapat sebuah tempat yang dikenal sebagai tujuan para tuan tanah atau juragan perkebunan menghabiskan waktunya.Beranjak kemasa kini, status sebagai salah satu destinasi favorit para pelancong tidak berubah. Namun selain terkenal akan destinasi wisata alam,Bogor terkenal pula karena memiliki ragam kuliner cukup banyak.Perjalanan Mandalawangi kali ini sengaja ingin melihat dan merasakan sensasi berbagai kuliner yang ada di Bogor , salah satunya yang ada di kawasan Jalan Surya kencana.Sajian pertama yang kita coba saat kulineran di Jalan Suryakencana adalah Soto Kuning Pak Yusuf. Warung tenda ini hanya bermodalkan gerobak dorong dengan kursi yang melingkarinya. Sajian ini hanya unik karena kuah kuningnya, tapi memiliki isi sajian dalam mangkuk yang cukup melimpah , mulai dari daging, kikil, hingga jeroan,harga soto berikut Rp 35.000 . Sajian lain yang Mandalawang santap adalah bakso kikil kuahnya bening. Tekstur baksonya pas terlalu kenyal maupun empuk. Kikil yang tersaji betul-betul empuk , tidak alot , hingga konsumen butuh tenaga untuk menggigit dan mengunyahnya. Kikil ini betul-betul empuk dan enak dimakan bersama bakso.

Menu yang tak kalah menarik saat mendengar namanya, yakni cungkring. Saya sempat berpikir , cungkring ini makanan apa ya? Cungkring ternyata berasal dari bahasa Sunda untuk sebutan kaki sapi atau kikil. Pak Jumat , menjadi salah satu pedagang cungkring di kawasan Jalan Suryakencana yang tak pernah sepi pembeli. Pak Jumat menyajikan cungkring dengan beberapa bagian kaki sapi lainnya, seperti urat, kulit dan bagian lainnya dengan tambahan lontong, tempe goreng, rempeyek dan siraman bumbu kacang menyempurnakan kuliner khas Bogor yang satu ini. Kuliner yang dijajakan di kawasan Jalan Suryakencana yang perlu Anda coba adalah asinan jagung bakar racikan Pak Sabur. Hidangan dari jagung bakar yang kemudian diserut dicampur kuah asinan dengan tambahan irisan mentimun, hingga citarasanya semakin lezat.

Jajanan lainnya berupa lumpia basah yang berbeda dengan lumpia Semarang. Seporsi lumpia basah berisi telur orak-arik, tauge, potongan bengkoang dan rebung. Berkunjung ke Bogor tanpa menikmati toge goreng rasanya kurang afdol . Salah seorang penjual toge goreng adalah Pak Raisan yang telah menjajakan kuliner toge goren sejak tahun 1982 di daerah Gedung Dalam. Uniknya toge goreng Pak Raisan adalah penggunaan daun lipung untuk menambah aroma pada olahan sajiannya. Tidak seperti namanya, toge digoreng, tidak digoreng tapi direndam dengan air panas. Tekstur toge tetap renyah saat disantap bersama mie, irisan tahu goreng, lontong dan bumbu kacang kedelairih.

Kuliner terakhir yang kami coba berupa minuman, jika di Jakarta dikenal dengan nama bir pletok , di Bogor namanya bir kocok. Meskipun namanya bir, tapi minuman ini sama sekali tak mengandung alkohol. Minuman ini persis wedang yang terbuat dari campuran jahe, kayu manis dan gula aren. Sebelum disajikan, penjual akan mengocoknya dalam botol, hingga menghasilkan buih,segar dinikmati dengan tambahan es batu. (E-001) ***