Detin Khoerotin Insani, S.Sos. Hidup Untuk Mendapatkan Berkah Dan Ridho 

95

Detin Khoerotin Insani, S.Sos., kelahiran Bandung 12 Februari 1973, serta anak dari pasangan Sofyan Saori (alm.) dan Masfiroh Inayati (70) ini, merupakan pemilik  usaha kuliner yang berbahan baku umbi-umbian .
Istri dari Drs. H. Erwin Hermawan (56) ini, mengawali usahanya pada tahun 2007 sambil membina siswi-siswi PKL (4 orang) yang tinggal di rumahnya.  Dengan modal sekitar Rp 500.000 yang disisihkan dari uang belanja rumah tangga, Detin mulai membuat aneka cake, cookies dan brownies.  Usahanya ini berjalan hanya sampai tahun 2009, dikarenakan suaminya pindah tugas.  Kemudian, ia memulai usaha lagi sekitar tahun 2011, dengan membuat produk cheese stick ganyong.  Tahun 2015, Detin Khoerotin mengikuti program Wirausaha Baru (Angkatan 2015) dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Provinsi Jawa Barat, dan menjadi pendamping WUB 2017- 2018.

Tahun 2016, Detin menjadi Binaan BPATP Kementerian Pertanian, dan menjadi tenant inkubator yang mengolah serta memproduksi es krim ubi ungu serta JUSBI (Jus Ubi Ungu – Jus Ubi Orange) yang merupakan hasil teknologi penelitian BALITBANGTAN Kementerian Pertanian.  Produk-produk tersebut sampai saat ini masih diproduksi, untuk mengembangkan hasil pertanian  masyarakat.  Detin mengakui, usaha yang digelutinya saat ini, tidak berkaitan dengan latar belakang pendidikan maupun keluarganya, karena  dirinya merupakan lulusan Administrasi Niaga.  Detin memilih bidang usaha berbahan baku umbi-umbian, untuk mengembangkan potensi sumber daya pangan lokal, agar bisa berkembang dan mempunyai nilai ekonomis, serta menambah pendapatan keluarga.

Kemampuan memproduksi es krim ubi ungu dan jus ubi ini diperoleh Detin, setelah ia mendapat pelatihan dan pembinaan dari BALITKABI dan BPATP Kementerian Pertanian, sedangkan untuk produk cookies dan lainnya, Detin mempelajarinya secara otodidak dengan mengikuti berbagai pelatihan.

Tempat usahanya berada di daerah Ciomas, Desa Ciomas – Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis.  Produksi cookies buatan Detin ini, menjelang Hari Raya Idul Fitri rata-rata mecapai 200 toples, sedangkan untuk es krim dan JUSBI buatannya, dalam 1 bulan bisa menghabiskan 50 kilogram.  Bahan baku es krim dan jus ubi adalah, ubi ungu dan ubi orange, sedangkan bahan baku cheese stick berasal dari  pati ganyong, dan bahan baku cookies masih menggunakan tepung terigu.

Untuk es krim produksi Detin, setiap bulannya terjual minimal sekitar 100 cup, sedangkan untuk jusbi, minimal terjual 50 botol.  Es krim buatan Detin dijual seharga Rp 2000 – Rp 5000, sedangkan untuk jus ubi seharga Rp 10.000.

Mengulas masalah kompetitor usaha, Detin merasa cukup berat untuk bersaing dengan kompetitor, karena ia harus bersaing dengan produsen-produsen yang sudah terkenal, serta sudah mempunyai wilayah pemasaran yang luas. Tetapi, Detin tetap yakin bahwa, keunikan produk usahanya bisa membuat  konsumen tetap setia untuk memilih produk-produk dari D’win drink n cookies miliknya, yang telah menembus pasar di beberapa kota Jawa Barat.

Penganut motto hidup “Hidup untuk mendapatkan berkah dan ridho Allah SWT” ini mengaku, dalam menjalani usahanya, ia juga mendapat pengalaman berharga, yakni bisa bertemu langsung dengan berbagai lapisan msayarakat, termasuk bertemu dengan pejabat negara, seperti Menteri dan Gubernur, ketika ia mengikuti berbagai event pameran.  Semua pengalaman ini menambah rasa percaya dirinya, apalagi produk usaha Detin mendapat apresiasi dan respon positif dari mereka. ”Rasanya tidak ada hal negatif yang kami rasakan dalam menjalani usaha ini, kecuali naik turunnya usaha.  Ketika tidak ada pesanan sama sekali, kami berusaha untuk mengatur biaya operasional secara lebih efisien, dan semaksimal mungkin menghindari hutang yang banyak ditawarkan oleh pihak tertentu guna menambah modal.  Sejak tahun 2009, selain menjalani usaha, saya juga mendapat tugas sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan, karena suami saya bertugas sebagai Camat di wilayah tempat kami bermukim saat ini.  Memang cukup sulit untuk membagi waktu antara kegiatan organisasi dengan usaha pribadi.  Namun, saya berusaha menempatkan keduanya dalam prioritas yang sama, sehingga keduanya bisa berjalan tanpa ada salah satu yang dikorbankan.  Karena posisi saat ini merupakan amanah dan bagian dari mendukung tugas suami, maka saya tetap menjalani kedua-duanya.  Semua ini tetap berjalan, walaupun suami sudah pensiun dari pekerjaannya, malahan kami bisa lebih fokus mengembangkan usaha,” tutur Detin kepada BB.

Untuk meningkatkan kualitas diri, Detin sering mengikuti perkembangan usaha kuliner dan mengikuti  pelatihan.  Ibu dari Ishma Insani Hermaputri (17), Zalfa Insani Hermaputri (14) dan Aqiila Insani Hermaputri (11) ini mengatakan bahwa, ia sangat apresiasi dengan perhatian pemerintah yang cukup memberi perhatian terhadap para pelaku usaha, yakni bisa dilihat dari banyaknya program-program pelatihan kewirausahaan, juga kemudahan dalam perijinan, serta bantuan pengembangan usaha melalui modal dari perbankan seperti KUR, PKBL, program dana wirausaha pemula dan sebagainya.

“Harapan saya kepada pemerintah maupun pihak terkait adalah, bisa memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi para pelaku UMKM untuk mengikuti berbagai event pameran maupun bazaar, baik di tingkat nasional maupun internasional.  Disamping itu juga bisa memberi kemudahan bagi para pelaku usaha yang mengajukan permohonan perijinan kepada  BPOM,  yakni dengan merevisi beberapa kriterianya, yang mana agar tidak disamakan dengan kriteria industri-industri besar, sehingga tidak memberatkan bagi pelaku UMKM,” pungkas Detin.

(E-018)***