Produksi Tekstil dan Ekspor TPT Indonesia Merosot Terbentur Permasalahan Efisiensi

61

BISNIS BANDUNG — Pengamat Perdagangan Internasional, Ekonomi Departemen Ekonomi Universitas Padjadjaran (Unpad), Dr.Yayan Satyakti Phd menyebut,  Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu dari 10 komoditas ekspor unggulan Indonesia yang terus merosot.

Dikemukakan Yayan ,  masuk ke dalam 10 komoditas ekspor unggulan, industri TPT menempati urutan kedua dengan nilai ekspor US$11,45 miliar, setelah ekspor sawit sebesar US$ 16.7 miliar. Nilai ekspor TPT  merosot sejak tahun 2014 (US$12.742 miliar) tahun 2015 (US$12.28 miliar) tahun 2016 (US$11.853 miliar) dan US$11.50 miliar pada tahun 2017. ”Berdasarkan catatan kurun waktu dari tahun 1988 sampai tahun 2017, nilai ekspor tertinggi terjadi pada tahun 2011 sebesar US$13.7 miliar,” ungkap Yayan .

Akademisi Unpad ini mengatakan, dalam kontek internasional menurut World Integrated Trade Solution – Worlbank (WITS-Worldbank) tahun 2019, nilai ekspor TPT Indonesia menempati peringkat ke-16 (sebesar 1,69% dari pasar ekspor dunia) pada tahun 2017. Sejak tahun 2012, Indonesia menempati peringkat ke-17 (sebesar 1,59% dari pasar ekspor dunia) dan menempati peringkat ke-18 (sebesar 1,51% pasar ekspor dunia) pada tahun 2015.

Peringkat pertama ditempati oleh Republik Rakyat Tiongkok dengan nilai ekspor sebesar US$ 270.5 miliar, disusul oleh India (US$ 38.2 miliar), Jerman (US$36.9 miliar), Vietnam (US$27.8 miliar ). Peringkat ke-15 ditempati oleh Inggris (US$12.9 miliar). Sedangkan peringkat dibawah Indonesia ditempati  Polandia ( US$ 8.15 miliar), Jepang (US$8.04 miliar), Malaysia (US$7.2 miliar), dan Meksiko (US$ 6.9 miliar).

Dijelaskan Yayan ,jika melihat data , tampaknya industri TPT Indonesia mengalami penurunan dan mencapai batas maksimal pada tahun 2011. Sedangkan dalam lingkup ASEAN, posisi Indonesia digantikan oleh Vietnam, akan menyusul Malaysia yang akan menggantikan posisi Indonesia di masa mendatang. Menurut klaim Kementerian Perindustrian,  permasalahan penurunan daya saing industri TPT  disebabkan oleh modal, biaya energi listrik, biaya tenaga kerja dan kebijakan nilai tukar yang tinggi dibandingkan dengan negara competitor.

Yayan menyebut , contoh, biaya modal untuk investasi di Tiongkok hanya sekira 6% dibandingkan Indonesia yang mencapai 14%. Kemudian biaya tenaga kerja di Indonesia lebih mahal dibandingkan dengan competitor.  ”Jika kita melihat pada fenomena ini, tampaknya industri TPT Indonesia mengalami permasalahan efisiensi dari sisi aktivitas produksi,” tutur Yayan , baru-baru ini.

Solusi yang harus dilakukan, lanjut Yayan ,  yakni mengikuti asumsi kebijakan green economy. Industri TPT memperoleh insetif jika mengembangkan industri dengan mesin yang efisien dari sisi konsumsi energi (green industry). Industri TPT akan memperoleh subsidi pembiayaan modal yang lebih murah jika ingin mengadopsi efisiensi energy dan air (hal serupa ini pernah dilakukan di Bangladesh dengan sebutan Clean Development Mechanism). Sebagai catatan, posisi nilai ekspor Bangladesh menempati peringkat ke-6 pada tahun 2015 (US$28.5 miliar) dari US$21.5 miliar pada tahun 2012 (peringkat ke-9).

Selain hal tersebut Uni Eropa sejak  tahun 2015 melakukan program Save Energy in Textile (SET) , UMKM menjadi fokus kebijakan untuk melakukan efisiensi energi untuk meningkatkan daya saing industri tekstil. Sekitar 55%, UMKM TPT di Uni Eropa mengikuti program untuk meningkatkan efisiensi industri dan daya saing industri TPT .

Berdasar dua contoh tersebut, menurut Yayan , negara-negara tersebut menggeser industri TPT menjadi lebih efisien dan lebih produktif dan melakukan kebijakan paradigma industri TPT agar lebih bersih dan efisien dengan pendekatan green economy. (E-018) ***