Perjalanan Bisnis Mengembangkan Usaha Payung

6

FOKUS pada pengembangan satu produk membuat usaha yang digeluti Johanes Paulus terus berkembang. Meskipun tantangan di bisnis ini tak pernah surut, Johanes mampu melalui dan membesarkan bisnis produksi dan penjual ragam produk payung Istana Payung.

Istana Payung yang beroperasi sejak tahun 2002 terus melaju hingga kini. Bahkan sejak tahun 2014, ia bisa menjajakan payung hingga pasar luar negeri, seperti negara tetangga Singapura, ada juga Maladewa. “Sekarang saya tengah proses negosiasi untuk bisa menembus pasar Australia,” katanya.

Yohanes menceritakan, keberhasilan menjual ragam produk payung sampai luar negeri, karena memanfaatkan jalur penjualan online. Saat ini Istana Payung membuka penjualan lewat situs sendiri, mapun jalur penjualan digital lainnya.

Sebelum terjun ke bisnis payung, Johanes awalnya berbisnis ragam produk aksesori di kawasan Pasar Pagi Lama, Jakarta Barat. Ia membantu usaha orang tua yang menjajakan sejumlah produk aksesori di toko bernama Angel Collection di lokasi yang sama. Ia menjual mulai dari gantungan kunci, payung, hingga handuk dan lainnya. “Pokoknya macam-macam suvenir,” kata dia.

Ia merasa, bisnis aksesori itu ternyata tergantung musim. Terkadang ada satu aksesori yang lagi laku, tapi yang lain tidak sama sekali.

Selain itu persaingan di antarpedagang di sana, kala itu sangat ketat. “Tegur sapa saja tidak pernah,” katanya.

Melihat kondisi itu, ia mulai memutar otak untuk menjajakan dan fokus pada satu produk. Dan pilihan jatuh ke payung yang saat itu belum banyak pemain. Selain itu, ia juga pernah berjualan payung sebelum membantu orang tuanya.

Ia mulai mencari pembuat payung di beberapa tempat. Seperti di Bekasi dan juga Depok. Selain itu Johanes juga mengambil dan menjual payung impor. Tujuannya, supaya bisa menjual ragam produk payung yang lengkap.

Akhirnya, ia memantapkan diri berbisnis payung. Tak mau ada persaingan, Johanes mulai rajin berkeliling di sekitar Pasar Lama untuk bersilaturahmi dengan para pedagang lainnya. Sambil sesekali memperhatikan cara memajang produk dagangan di toko.

Ia dan pedagang lainnya tidak merasa bersaing satu sama lain, bahkan saling membantu satu dengan yang lain. Seperti menolong produk yang dijajakan dari pedagang lainnya. Termasuk juga produk payung Istana Payung dijual di tempat pedagang yang lain.

Tapi, Johanes mengakui ada kelemahan lain dari hanya menjual payung. Saat musim kemarau, penjualan payung langsung anjlok. “Penurunannya mencapai 50% sampai 60%,” keluhnya.

Ia langsung mencari akal menyiasati kondisi itu. Hingga akhirnya ia membuat payung promosi dan diberi label Jopi Umbrella. Dengan kiat ini, Johanes berhasil menekan penurunan omzet tinggal 30% saja.

Johanes, yang sebelumnya membantu bisnis sang orang tua di usaha aksesori bernama Angel Collection di kawasan Pasar Lama, Glodok Jakarta Barat, juga merambah pasar korporasi dengan mengeluarkan merek Jope Umbrella. Produknya berupa payung promosi.

Lewat Jope Umbrella, Johanes berupaya mengakali pasar payung yang sepi saat musim kemarau, yang penjualannya bisa anjlok hingga 60%. Strateginya berhasil, banyak perusahaan yang memesan payung promosi. Sebab, kualitas produknya jempolan. “Payung ini kuat karena punya 10 jari hingga 12 jari dan berwarna hitam anti karat. Payung biasa cuma 8 jari saja,” katanya.

Pemakaian bahan payung yang berkualitas ini rupanya bermula dari pengalaman pahit yang menimpa Johanes pada 2008 lalu. Kala itu, ia mendapat order payung promosi cukup banyak dari sebuah perusahaan.

Saat semua pesanan payung promosi itu jadi, ternyata si perusahaan protes gara-gara kondisi payung banyak yang rusak. Dan, sepuhan emas yang ada pada jari-jari payung luntur. “Saya waktu itu rugi besar dan jadi  trauma” ungkap dia.

Johanes sangat terpukul dengan kejadian tersebut. Sampai-sampai, ia menyetop pembuatan payung promosi selama dua tahun.

Tetapi, dia akhirnya tersadar, dirinya tidak boleh terus trauma dan menyerah di bisnis payung promosi. Justru, kegagalan yang ia alami bisa menjadi pemacu untuk terus mengembangkan usaha lebih baik lagi.

Karena itu, Johanes pun bertekad memproduksi payung dengan kualitas terbaik, terutama payung promosi. Soalnya, lewat produk payung promosi yang bagus, dia bisa menunjukkan jatidiri terhadap perusahaan yang jadi pelanggannya.

Hasilnya sudah terlihat. Saat ini, Johanes bisa mendapatkan order payung promosi berkisar 1.000 payung sampai 2.000 payung per bulan. Harga jualnya mulai Rp 50.000 hingga Rp 280.000 per payung.

Setelah Jope Umbrella,  Johanes tengah melihat peluang pasar payung dari keberadaan transportasi publik anyar, yakni moda raya terpadu (MRT) dan kereta ringan alias light rail transit (LRT). Tentu, banyak orang berjalan kaki dari stasiun MRT dan LRT ke tujuan lain. “Pasti mereka butuh payung,” sebutnya.

Itu sebabnya, Johanes membuat payung pensil berukuran kecil dan praktis. Ia mengklaim produknya kuat. “Panjangnya 20 centimeter, bisa ditenteng, tidak bikin ribet,” ujarnya.

Johanes memasarkan payung pensil awal tahun ini. Lantaran respons pasar positif, pasokan payung pensil baru bisa tersedia lagi di akhir tahun nanti.

Saat ini, dia bisa meraup omzet sekitar Rp 100 juta per bulan. Dan, ia bakal terus membuat payung jenis baru saban tiga bulan. Misalnya, payung batik serta payung yang bisa dibalik.(C-003/KNTN)***