H. Soeroso Dasar, BSc.Fin.SE.MBA. Berkeinginan Bekerja di Perbankan, Nasib Berkata Lain

54

H. Soeroso Dasar, BSc.Fin, SE.MBA., lahir di Deli Serdang 12 Maret 1952.  Suami dari Dewi Indrawati Sutedi (57) ini, menjabat sebagai Penasihat Koalisi Pendudukan Untuk Pembangunan Jawa Barat.

Ayah dari Lala Damina Dasar, SS. (36) dan Lintang Sakti Dasar, SSi.MM.Apoteker (35) ini mengutarakan tentang awal kiprahnya menjadi akademisi, yakni ketika ia selesai kuliah dan diminta oleh Dekan Fakultas Ekonomi Unpad waktu itu Prof.Yuyun Wirasasmita, serta oleh Hidayat MA (alm) sebagai Direktur Pusat Penelitian Ekonomi dan Sumber Daya Manusia Unpad untuk mengabdi di Unpad.  Ketika itu ia menolak permintaan tersebut, karena Soeroso ingin pulang ke keluarganya di Medan dan bekerja di sana.  Setelah enam bulan di Medan, ia  tidak mendapatkan perkerjaan yang memadai.

“Saya kembali ke Bandung dan menghadap Pak Hidayat, hingga ditugaskan menjadi peneliti  di PPES FE Unpad.  Mereka tetap mengikuti saya dari tulisan-tulisan saya di koran lokal maupun nasional.  Waktu itu, ada kenalan Pak Solihin GP yang mendorong saya untuk mengabdi ke Unpad.  Padahal saya berkeingian untuk bekerja di lembaga perbankan. Namun nasib berkata lain. Saya sangat nyaman di Unpad,” ungkap Soeroso tetang perjalanan kariernya kepada BB di Bandung.

Soeroso mengatakan, dirinya berasal dari keluarga bersahaja, dan ia membiayai kuliahnya sambil bekerja sebagai supir bemo pada malam hari. Tidak ada tempat tinggal tetap, pindah dari suatu asrama ke asrama lain, terutama asrama Aceh karena pernah tinggal di Aceh.  “Sejak awal, saya dididik oleh mentor saya sebagai peneliti masalah Sumber Daya Manusia, mencakup masalah ketenagakerjaan, kependudukan, KB dan lainnya. Semula terasa asing ketika pertama sekali saya meneliti sektor informal (tukang becak, PKL dan lain-lain), tapi semakin lama, kajian tentang sumber daya manusia semakin menarik.  Sebagai ilmuwan dan peneliti, saya dituntut untuk tegas dan taat asas, guna menghindari predikat sebagai ‘peneliti pesanan’.  Di lingkungan teman-teman dan SKPD, saya dianggap sebagai sosok yang sulit untuk kompromi,” tutur Soeroso.

Dalam perjalanan tugasnya, ia telah melakukan lebih dari 100 penelitian, sekaligus bertugas sebagai surveyor, supervisor, anggota tim peneliti, sampai Ketua Tim Peneliti.  Juga ada 14 judul buku yang ditulisnya, dan yang paling berkesan adalah buku “Bangsaku Dan Segudang Permasalahannya”.  Sebagian bukunya berbentuk Bunga Rampai yang berasal dari tulisannya yang pernah terbit di koran.  Penghargaan yang sudah diraihnya di antaranya dari Unpad, yakni penghargaan (Lencana) semacam Manggala dari pemerintah untuk program KB dan sebagai penulis terbaik bidang Kependudukan KB se Indonesia.

Pemilik moto ‘Menjadi Orang Yang Bermanfaat Bagi Orang Lain’ ini mengaku bahwa, ia mengalami banyak hal menarik selama menggeluti profesinya sebagai akademisi dan peneliti. Di antaranya, banyak mantan mahasiswanya yang tetap mengenalnya, bahkan orang tua mahasiswa yang mengucapkan terima kasih kepadanya, karena anaknya dibimbing dalam menyelesaikan skripsi.

 Soeroso Dasar mengungkapkan, dirinya akan terus menggeluti profesi sebagai akademisi. Berbuat baik tidak ada batasan usia.  Menjadi akademisi banyak manfaatnya,  otak tidak pikun karena terus bicara, diskusi, membaca dan menulis.  Ayah  dua orang anak ini menambahkan, selain menjadi akademisi ia juga merupakan penasihat Majelis Dzikir dan Doa Masjid Nuul Qolbi Bandung, Forum Produktivitas, Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana, Penasihat Kualisi Kependudukan Untuk Pembangunan Jawa Barat.

“Terlalu banyak yang berjasa dalam hidup saya dan tidak bisa saya sebutkan satu persatu. Mulai dari teman, saudara, dan lainnya. Tentu yang utama adalah keluarga saya di Medan yang mendukung saya secara finansial ketika saya kuliah di Bandung,” ungkapnya

Upaya yang dilakukan Soerorso untuk meningkatkan kualitas diri dan profesi adalah, banyak membaca dan berdiskusi dengan teman. Ia tidak ada rencana untuk pindah ke profesi lain, karena semakin tua, keinginannya hanya untuk menikmati hidup, berkumpul dengan anak cucu, serta mengajar di majelis taklim..

Soeroso menganalisa bahwa, ilmu spesialisasi untuk Sumber Daya Manusia (terutama Demografi) tidak banyak peminatnya. Ia tidak mengetahui apa penyebabnya, namun menurut dugaannya, mungkin karena uangnya kecil.

“Jika masalah penduduk tidak bisa dibendung pertumbuhannya, Indonesia akan sulit berkembang dengan optimal, karena penduduk adalah masalah hulu yang harus diselesaikan. Sedangkan yang lainnya seperti jalan, pertanian, tenaga kerja, kesehatan dan lain-lain, hanyalah sebagai akibatnya.  Saya selalu mendorong agar dibentuk Kementerian Kependudukan.  Masak penduduk yang lebih dari 260 juta tidak ada Menterinya. Ikan di laut aja ada Menterinya”, ungkapnya.

Menurut Soeroso, kemauan politik dan konsep harus dimunculkan.  Manajemen yang gemuk bukan berarti boros, sedangkan manajemen yang kurus berarti efisien.  Manajemen yang benar adalah yang sesuai dengan kebutuhan.  Begitu juga untuk deretan Kementerian.

Untuk membenahi kondisi Indonesia saat ini, menurut Soeroso, bidang Sumber Daya Manusia haruslah ditingkatkan kualitasnya.  Bila tidak bisa diselesaikan, maka akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa mengangkat peradaban bangsa ke tingkat terhormat.  Pemerintah sekarang sudah berjalan dengan track yang tepat. Tetapi kalau terganggu, maka kecepatan pembangunan akan menjadi terhambat dan tertinggal . ( E-018) ***