Dr.Ir. Rochadi Tawaf, MS. Kenali Profesimu Untuk Masa Depanmu, Karena Duniamu Ada Di sana

191

Dr.Ir. Rochadi Tawaf, MS., kelahiran Jakarta 11 Juni 1953, dan suami dari Ir. An-An Yulianti, MS. (63) ini, merupakan Peneliti Senior pada Lembaga Studi Pembangunan Peternakan Indonesia.

Ayah dari Satria Yanuar Akbar, SE. (37), dan Drg. Almira Satriani Rahmawati (35) serta Dzikri Triandi, SH. (30) ini, saat masih kuliah pada tahun 1976, ia sudah menjadi asisten dosen untuk mata kuliah sosial ekonomi peternakan (Sosiologi Pedesaan dan Koperasi) di Fakultas Peternakan Unpad.  Setelah lulus pada tahun 1979, Dr. Rochadi melamar pekerjaan ke beberapa instansi pemerintah, antara lain Pemda Jabar dan perbankan, serta ke Fakultas Peternakan Unpad.  Namun akhirnya ia lebih memilih ke Fakutas Peternakan Unpad (1980), karena pengembangan ilmu sosek (sosial ekonominya) sangat menantang di dunia nyata. Selama menjadi asisten dosen (1976-1980), Dr. Rochadi melihat banyak peluang untuk mengembangkan ilmu sosek peternakan, karena para peternak di negeri ini sebagian besar mengelola peternakan masih tradisional dan turun menurun, serta skala kecil dengan menerapkan teknologi sederhana.  Waktu itu Prof. Didi Atmadilaga (Ketua Jurusan Sosek Fapet Unpad) mengatakan bahwa, sistem peternakan di negeri ini bagai “Flying Herd System”, yakni peternakan yang tidak memiliki basis lahan, dan dilakukan secara tradisional secara turun menurun.

Dr. Rochadi menggeluti bidang sosek peternakan sejak tahun 1976 hingga sekarang (43 tahun), dengan spesialisasi ekonomi peternakan (manajemen agribisnis) peternakan.  Di bidang ini ia menemukan jawaban bahwa, kegagalan membangun peternakan selama ini adalah karena terjadinya anomaly dalam implementasi konsep pembangunan peternakan.  Di satu sisi, masyarakat peternakan di negeri ini melakukan usahanya dengan pola “farming system” (peternakan rakyat yang tradisional), sementara pembangunan menuntut adanya industrialisasi dengan pola sistem agribisnis.

”Benturan ini dipaksa oleh pemerintah, hingga dampaknya terlihat sampai saat ini. Sapi perah maupun industri sapi potong amburadul, demikan juga perunggasan,” tutur Rochadi seraya mengatakan, keunikan budaya masyarakat yang bukan pemakan daging dan peminum susu, tapi pemakan sereal (biji-bijian) dan ikan yang pengelolaan bisnisnya bersifat tradisional dan subsisten.

Berkat dedikasi dan loyalitasnya, Rochadi Tawaf dianugerahi beberapa penghargaan, di antaranya penghargaan 30 tahun dan 25 tahun pengabdian sebagai PNS dari Presiden RI (tahun 2005 & tahun 2011), Satya Karya Bhakti Kelas I dari Rektor Unpad (2003), dan pada tahun 1989 ia mendapat penghargaan sebagai Dosen Teladan dari Mendikbud.

Penganut moto hidup “Besok Harus Lebih Baik Dari Hari ini” mengungkapkan, selama menjadi peneliti, ia mendapat pengalaman yang tak terlupakan, yakni  mengimplementasikan konsep-konsep teori di dunia nyata. Bagaimana kita mampu menyusun konsep teori menjadi konsep operasional yang bisa dilakukan di dunia nyata.  Menurutnya, banyak kasus pemerintah yang disebabkan gagal paham terhadap fenomena yang terjadi mengenai pembangunan peternakan.  Misalnya, implementasi konsep tentang daging, susu, harga daging sapi, swasembada, ketahanan pangan, sistem agribisnis dan lainnya.  Akibatnya, pembangunan peternakan tidak bisa berjalan sesuai dengan realitanya.  Para ilmuwan pada umumnya selalu bicara hitam putih.  Artinya, lugas, jelas dan tuntas, berdasarkan fakta dan data.  Namun kenyataannya, hal ini justru mengakibatkan beberapa ilmuwan dipanggil oleh pimpinan, mungkin karena masyarakat belum terbiasa jika dikritik secara ilmiah.  Menurut Rochadi, ilmuwan yang mengutarakan hasil penelitian / kajiannya kepada umum masih sedikit, sehingga hasil penelitian juga masih sedikit yang bisa diimplementasikan.

Rochadi  mengutarakan, dirinya yang akan tetap menekuni profesi akademisi sepanjang hayat dikandung badan.  Alasannya, ilmu terus berkembang tiada hentinya.  Jika kita sebagai ilmuan berhenti bekerja, maka itu tandanya kiamat sudah dekat.

Penggemar warna cokelat ini juga turut merintis lahirnya organisasi bidang peternakan, sekaligus menjadi pengurusnya, antara lain, Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (1979), Dewan Persusuan Nasional (2012), Dewan Peternakan Nasional (2015), Perhimpunan Ilmuwan Sosek Peternakan Indonesia (2016), dan Cattle Buffalo Club (2002).  Selain itu, ia juga menjabat sebagai dewan pengurus PB ISPI (3 periode) dan Pakar PB ISPI (2019).

Rochadi Tawaf mengungkapkan, ia selalu menyarankan kepada anak didiknya agar mengenali organisasi profesi peternakan, karena merupakan bagian dari rumah profesi.  Karena jika mereka lulus, mereka akan bekerja di profesinya. Motto yang selalu disampaikannya adalah : “Kenalilah profesimu (peternakan) untuk masa depanmu, karena duniamu ada disana.”

Rochadi juga tidak mengesampingkan silaturahmi, yakni berkumpul dengan sesama atau lintas profesi, mengikuti seminar dan diskusi, baik di dalam maupun luar negeri, serta menulis ide maupun konsep yang terlintas (peka terhadap kondisi lingkungan). Menurut Rochadi, perkembangan ilmu saat ini sangatlah cepat, apalagi di era revolusi Industri 4.0 saat ini, tuntutannya sangat tinggi. Contoh dalam ilmu koperasi, sekarang ini lahir yang dinamakan New Generation Cooperative (Generasi Koperasi Baru), yang mana ilmu ini di fakultas non koperasi belum banyak diimplementasikan, selain bagaimana cara menerapkan sistem digitaliasi bagi manajemen peternakan dan sebagainya.

Rochadi melihat, para penentu kebijakan masih belum percaya sepenuhnya kepada ilmuwan, sehingga kebijakannya selalu tidak berbasis science, yaitu antara kebijakan dan operasionalisasi selalu berbeda cukup signifikan.  Padahal, seharusnya ‘Policy Base On Science.  Para ilmuwan menyusun road map, namun produknya hanya digunakan sebagai pajangan, bukannya sebagai pedoman bagi pembangunan. Seharusnya, ilmuwan yang menyusunnya bertugas sebagai pemantau dari rencana yang dia buat.

“Penyebab utama ketidakpercayaan ini adalah, kualitas riset yang dihasilkan belum mampu menyelesaikan masalah secara tuntas.  Hal ini bisa saja disebabkan karena kualitas penelitian yang masih diragukan, juga kualitas hasil laboratorium yang kurang baik, bahkan bisa juga karena anggarannya dikorupsi.  Untuk membenahinya hanya satu cara, yaitu berantas korupsi. Waktu yang dibutuhkan sangatlah tergantung kepada pemimpin negara ini.  Saya pernah ke China dan melihat bagaimana di negeri itu menggunakan cara untuk membasmi korupsi dengan hukuman mati, sehingga menimbulkan efek jera, “ pungkas Dr.Ir. Rochadi Tawaf kepada BB.

(E-018)***