Operasional PLTA  Saguling Menghadapi Ancaman Potensial

192

BISNIS BANDUNG — Mantan Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian pada Masyarakat DRPM Unpad, Dr.rer.nat.Ayi Bahtiar, M.Si mengungkapkan, sedimentasi atau proses pengendapan material yang dibawa oleh air dan angin jadi salah satu ancaman potensial terhadap usia operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).Ayi Bahtir menyebut , pendangkalan di beberapa bendungan yang airnya digunakan untuk PLTA sudah lama terjadi karena banyaknya lumpur  yang berasal dari erosi tanah di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang masuk ke sungai sampai ke bendungan. Sedimentasi juga berasal dari  tanaman gulma (eceng gondok) yang tumbuh di atas perairan  , selain berasal dari aktivitas ekonomi di bendungan , seperti pemeliharaan ikan pada jaring terapung. Pakan ikan yang tidak termakan oleh ikan akan menjadi sedimentasi di dasar bendungan. Menurut Ayi , beberapa penelitian yang dilakukan  menunjukan telah terjadi sedimentasi yang cukup parah, antara lain di Waduk Saguling ,  setiap tahun sedimentasinya  lebih dari 4 juta meter kubik akibat lumpur dari erosi sungai yang mengalir masuk ke waduk tersebut. ”Untuk Waduk Saguling  sedimentasi  dibawa melalui sungai Citarum yang kotor dan berlumpur akibat erosi sepanjang aliran sungai Citarum. Belum ditambah dengan banyaknya aktivitas pemeliharaan ikan di atas Waduk Saguling,” ungkap Ayi, Senin kepada BB di Bandung.

Dikemukakan lebih lanjut oleh Ayi , laju sedimentasi di Waduk Saguling sebagai yang mencapai 4-5 juta kubik/ tahun bisa mengakibatkan debit air untuk menggerakaan turbin (generator) menjadi berkurang  sekaligus berdampak pada berkurangnya pasokan tenaga listrik . Dari beberapa faktor yang mengakibatkan sedimentasi  pada PLTA , pelumpuran merupakan yang terbesar , selain gulma eceng gondok dan pakan ikan jaring terapung. Adanya aktivitas perikanan dengan sistem jaring terapung , awalnya untuk membantu masyarakat sekitar untuk meningkatkan ekonominya. Namun semakin lama menjadi tidak terkendali, karena aktivitas jaring terapung banyak dimiliki oleh pengusaha dari luar masyarakat sekitar waduk, jumlahnya  tidak terkendali, seperti terjadi diperairang Waduk Saguling dan Cirata. Pemberian pakan yang berlebih dan  kotoran ikan telah menumbuhkan banyak organisme dan tumbuhan di dasar waduk , sehingga meningkatkan sedimentasi.

Akademisi Departemen Fisika Unpad ini  mengatakan, dampak dari terjadinya sedimintasi atau pendangkalan  yang paling dirasakan adalah berkurangnya debit air yang digunakan untuk memutar turbin/generator listrik yang berdampak mengurangi produksi listrik yang dihasilkan. Contoh,  akibat sedimentasi yang parah, PLTA Saguling yang  dibangun  tahun 1983-1984 diharapkan mampu beroperasi selama 60 tahun menjadi sekitar 30-40 tahun akibat laju sedimentasi yang sangat parah … Disamping sedimentasi berupa lumpur , juga sampah yang terbawa aliran air sungai yang masuk ke bendungan PLTA yang menimbulkan korosi pada peralatan  pembangkit listriki.
”Korosi merupakan masalah yang serius dalam optimalisasi pembangkit dan  usia pembangkit listrik,”ujar Ayi.

.Ayi Bahtiar  menegaskan, masalah tata kelola lingkungan perlu dilakukan secara terintegrasi, tidak hanya di sekitar waduk/PLTA namun mulai dari hulu sepanjang DAS. Oleh sebab itu kontrol lingkungan  harus dilakukan oleh semua pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat dankalangan industri. Mengenai relokasi jaring terapung bisa dilakukan oleh operator. “Upaya yang harus dilakukan operator untuk mengurangi sedimentasi dalam jangka pendeknya adalah relokasi aktivitas jaring terapung, pembersihan gulma di waduk dan pengerukan sedimentasi. Jangka menengah bisa melalui aktivitas pengihijauan sekitar waduk. Jangka panjangnya  bekerjasama dengan pemerintah untuk mengurangi erosi/longsor di hulu dan sepanjang aliran sungai yang mengalir ke waduk,”ujar Ayi

Ditambahkan Ayi , PLTA di Indonesia masih bisa dikembangkan, walaupun memerlukan usaha cukup besar,  terutama dalam menjaga aliran air dari sungai-sungai yang mengalir ke PLTA.  Sedangkan untuk pembangkit lain selain PLTA , menurut Ayi , berupa  tenaga matahari, angin, laut dan geotermal. Pembangkit-listrik ini cocok digunakan di Indonesia, karena potensinya. ”Namun diperlukan insentif yang besar dari pemerintah agar harga jual listrik sama dengan listrik dari PLTA, sehingga masyarakat dan industri pengguna listrik memiliki alternatif sumber energi ,” pungkas Ayi. (E-018)****