Harga Jual Kamar Turun Okupansi Hotel Di Jawa Barat Anjlok

527

BISNIS BANDUNG –  Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia  Jawa Barat, Herman Muchtar mengatakan, tahun 2019 tingkat okupansi hotel dan angka kunjungan  wisatawan domestik maupun  mancanegara  ke Jawa Barat menyusut tajam . Beberapa faktor penyebabnya antara lain karena tingginya jumlah hotel dan penginapan, selain pengaruh melambungnya harga tiket pesawat terbang.

Menurut  Herman Muchtar , saat ini tingkat okupansi hotel serta angka kunjungan wisatawan turun tajam,  harga tiket pesawat yang mahal banyak pengaruhnya pada kunjungan wisatawan, khususnya wisatawan domestik.

 “Tahun ini lebih berat dari sebelumnya, disamping okupansi hotel turun , juga harga jual kamarnya (ARR) pun turun, itu dampak dari semakin berkembangnya sistim distribusi online,” ujar Herman, Selasa (11/6/19) di Bandung.

Dikatakan Herman Muchtar, jika hotel menurunkan kualitasnya karena menyusutnya angka kunjungan (okupansi)  akan berdampak pada semakin berkurangnya peminat yang akan menginap di hotel . Anjloknya okupansi hotel, terasa pada bulan puasa ,  diharapkan akhir tahun bisa ada kenaikan.

Diakui Herman , menyusutnya okupansi hotel,  otomatis berdampak pula pada pelaku usaha kesulitan untuk memenuhi kewajibannya, salah satunya di antaranya untuk membayar pajak .” Petugas orang pajak suka tidak mau tau masalah usaha yang tengah dihadapkan pada kesulitan. Kita harus taat , kalau tidak hotelnya bisa ditutup Satpol PP. Seharusnya pajak yang 10 %  dipertimbangkan oleh Pemda untuk diturunkan dalam empat tahun ini. Sejauh ini pelayanan pemerintah pada sektor kepariwisataan tidak maksimal, kurangnya pembinaan , tidak ada promosi dan lainnya,” ungkap Herman.

Sementara  Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Kabupaten Bandung Barat, Samuel mengungkapkan, sejak 2011 sampai dengan 2018, okupansi hotel di wilayah KBB cenderung  menurun dari tahun sebelumnya.  Faktor penyebab turunnya okupansi karena jumlah kamar makin banyak. Di wilayah KBB, khususnya di daerah Lembang turunnya okupansi hotel  sangat dipengaruhi oleh tingkat kemacetan lalu lintas yang sejauh  ini belum ada solusi.

Data saat ini hanya sekira 40%, diharapkan bisa melonjak sampai 80%. Namun demkian , ujar Samuel , anjloknya okupansi tidak berpengaruh terhadap jumlah tenaga kerja. Penurunan okupansi terjadi saat bulan puasa sampai dengan 2 hari sebelum lebaran.

Menurut Samuel, terkaitan dengan raihan pendapatan untuk kontribusi pajak, berbanding lurus. Semakin pendapatan menurun otomatis pajak juga menurun. ”Anggota PHRI rata-rata taat membayar pajak, yang lain saya kurang paham, harus tanya ke BPKD untuk PASd atau ke KPP Cimahi,” tutur Samuel seraya menyebut pajak daerah sebesar 10% terdiri pajak air, parkir, reklame dan sebagainya, sesuai dengan jenis dan bidang usaha yang dijalankan oleh masing-masing perusahaan. Diungkapkan Samuel , masalah pajak tersebut , kalau dibilang membebani ya iya, tapi  karena sudah ada aturannya ya.. harus dibayar .

Diungkapkannya , kontribusi pemerintah daerah dirasa kurang. Contohnya,  kalau memang ada itikad untuk meningkatkan PAS, SKPD KBB kalau Pemkab menyelenggarakan sebuah acara , tempatnya jangan diluar wilayah KBB.

“Saya terima beberapa undangan (sosialisasi atau discussion group) yang tempatnya di wilayah Kota Bandung , kenapa tidak di wilayah KBB. Mungkin disini tidak perlu disebutkan dinas apa dan bikin acara di hotel mana,. Namun sebaiknya perlu diingatkan kembali dengan  surat edaran oleh bupati kepada seluruh SKPD agar pelaksanaan kegiatan Pemkab Bandung Barat dilaksanakan di wilayah KBB ,” pungkas Samuel. (E-018)***