Perputaran Uang Saat Mudik

5

SAYA melihat  pulang kampung  atau mudik jelang hari raya Idul Fitri tidak pernah sepi. Tak perduli dibilang pemborosan yang penting menyenangkan, dan  mudik  mempunyai makna khusus. Bisa bertemu dengan keluarga di kampung halaman dan handai tolan adalah mengasyikkan. Tak pelak lagi mudik pun membawa berkah ekonomi di daerah tujuan.

Ya, aktivitas mudik bisa menjadi salah satu pemicu ekonomi daerah, dan momentum untuk bertumbuh. Biasanya pertumbuhan ekonomi tertinggi di daerah terjadi saat mudik Lebaran. Pertumbuhan ekonomi yang signifikan terjadi daerah di luar Jawa. Walau,  mungkin saja potensi  pertumbuhan tahun ini terhambat harga tiket pesawat yang mahal, karena masyarakat menunda pulang kampung.
Mudik saat Lebaran mendorong aktivitas ekonomi, khususnya dari sisi konsumsi. Pertumbuhan konsumsi ini tentunya harus diimbangi dengan penyediaan kebutuhan suplai.

Di wilayah-wilayah tujuan mudik, kegiatan ekonomi meningkat. Ini harus diimbangi sisi suplai, sehingga tingkat suplai dan permintaan dapat dikelola dengan baik.

Selama ini, tingginya tingkat konsumsi yang tidak dibarengi pertumbuhan suplai dapat menyebabkan inflasi harga barang. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku usaha perlu bahu-membahu untuk meminimalkan kesenjangan suplai-permintaan.
Konon, perputaran uang saat periode Lebaran bisa bertumbuh di atas 10 persen. Persentase ini tidak setinggi dua tahun sebelumnya, di mana permintaan uang bisa meningkat sekitar 15%.

Penurunan pertumbuhan permintaan uang bukan mengindikasikan konsumsi melesu, tetapi terjadi efisiensi akibat perapihan infrastruktur. Adanya infrastruktur yang mumpuni, seperti Tol Trans Jawa, membuat beban pejalan berkurang dan meningkatkan produktivitas.

Bank Indonesia memperkirakan kebutuhan uang kuartal pada periode Ramadan dan Idulfitri pada 2019 sebesar Rp217,1 triliun atau tumbuh 13,5% secara tahunan. Pada 2018, kebutuhan uang tunai mencapai Rp191,3 triliun, melampaui estimasi Rp188,2 triliun.
Kepada Redaksi Bisnis Bandung, hatur nuhun atas dimuatnya surat aspirasi ini.

Api Suryadi,  Maleer Bandung