Silaturahmi dan Suhu Politik

13

Pada masa Orla dan Orba, idiologi politik itu seolah merupakan  

darah daging penganutnya. Tidak ada kekuatan apapun yang

dapat mengubah pandangan politik seseorang.

Tidak  ada kekuatan  apapun  yang dapat melepaskan seseorang

dari idiologi politik  dianutnya.

    BARU tahun ini, suhu politik berpengaruh besar terhadap sikap hidup masyarakat. Tali silaturahmi biasanya tidak pernah terputus hanya akibat perbedaan pandangan politik. Bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, secara serempk melakukan ibadah saum dan idulfitri. Lebaran  merupakan  momentum paling tepat untuk saling berkunjung dan maaf memaafkan. Justru pada Lebaran 1440 ini, tali sliturahmi itu erputus hanya akibat perbedaan pandangan politik. Ajaran agama nmengharuskan tali silatuirahmi itu terus dipelihara. Barang siapa yang memutuskan tali silaturahmi antar-umat, ibadahnya tidak akan diterima Allah SWT.

     Sejak Reformasi 20 tahun lampau, paham atau idiologi politik bukan merupakan pegangan hidup, paham politik pada diri banghsa Indonesdia makin harui makin cair.  Hal itu terlihat setiap menjelang pemilihan umum, baik pemilihan  anggota legislatif maupuin pilpres atau pilkada. Setiap calon secara merdeka memilih parpol pendukungnya. Begitu juga parpol menjaring calon secara bebas  bukan hanya berasal dari lingkungan (kader) parpol.  Siapa saja boleh menggunakan parpol itu sebagai kendaraannya dalam pencalonan. Apa yang disebut idiologi politik bukan lagi harga mati. Pada masa Orla dan Orba, idiologi politik itu seolah merupakan darah daging penganutnya. Tidak ada kekuatan apapun yang dapat  mengubah pandangan politik seseorang. Tak ada kekuatan yang dapat  melepaskan seseorang  dari idiologi politik yang dianutnya.

      Puncak kekentalan idiologi politik itu terjadi beberapa kali pemberontakan. Di Jabar terjadi pemberontakan DI/TII, di Sumatera muncul pemerontakan PRRI/Permesta, di Sulawesi terjadi pemberontakan Kahar Muzakar, Andi Sose, dan Amdi Azis. Muncul pula perlawanan yang dilakukan oleh kelompok Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh, Papua Merdela di Papua. Pemberontakan paling dramatis terjadi di Jakarta dan kota-kota lain di Jawa dan Indonesia, yakni Pemberontakan G30/PKI. Semuanya diawali dengan gerakan  keinginan mengganti Pancasila sebagai dasar negara.  Idiologi politik yang sangat kental pada diri para pengikutnya itu dapat membuat orang berperilaku bringas dan tega merampas kemerdekaan  orang lain.

      Shaum dan Lebaran tahun ini diwarnai dengan peristiwa-peristiwa kekerasan. Keadaan yang cenderung kheos itu sepetri akan terulang. Setelah terjadi unjuk rasa berakhir ricuh di Jakarta, kedua belah pihak yang bersebrangan belum mau berangkulan saling memahami dan bermaaf-maafan. Hari Raya Idulfitri yang biasanya dijadikan momentum saling memaafkan, berlaklu begitu saja. Tali silaturahmi antarbangsa, antaraelit politik seolah terputus, kalah dengan kepentingan politik. Padahal, Nabi Mujammad Saw, memberi contoh, ia selalu memelihara silaturahmi, sekalipun dengan orang Yahudi. Rosul pernah datang ke rumah orang Yahudi yang tengah sakit, mengajak para sahabtanya berdiri ketika ada orang yang mengusung mayat orang Yahudi. Malah, Rosul pernah menyuapi orang Yahudi tunanetra padahal orang Yahudi itu sangat anti-Muhammad. Itu mengandung arti, silaturahmi jauh lebih penting daripada paham politik atau bahkan  berbagai paham agama.

      Sungguh kita tidak berharap,bangsa Indonesia bercerai berai akibat perbedaan paham politik.Mulailahj dari diri sendiri menghentikan komentar tak bermoral dan kasar bahkan sarkastis di medsos. Biarkan orang lain berkicau. Tahanlah diri kita tidak mengomentari cuitan orang lain. Kita umat Islam sudah ditempa sebulan penuh pada bulan Ramadan agar kita dapat mengendalikan hawa nafsu, khususnya hawa nafsu amarah. Ambil air wudu, solatlah ketika setasn amarah ingin mengusai diri kita. Lawanlah dengan istigfar dan sikap tawadu.

     Selamar Hari Raya Idulfitri, 1 Syawal 1440 H.Maaf lahir batin. Minal aidin wal faidzin, takobalallahu minn wa minkum. ***