Ai Hendrayani  Batik Gasik Garut, Gesit dan Asik

21

Ai Hendrayani, lahir di Garut 14 april 1976 silam dan merupakan istri dari Ujang Koswara (44) ini, berprofesi sebagai pengusaha batik cap dan batik tulis. Perempuan berhijab modis ini tercatat sebagai WUB teladan tingkat Provinsi tahun 2015, dan sebagai pelaku UKM berprestasi tingkat Kabupaten Garut tahun 2018.

Sebelum menjadi pengusaha batik, Ai Hendrayani pernah bekerja di toko batik dari tahun 2010 – 2014.  Ia tertarik dengan batik, karena ada salah seorang saudaranya yang  berprofesi sebagai pengrajin batik, dengan modal usaha yang hanya berupa sebuah telepon genggam dan tekad.

Ai berjualan produk batiknya secara online maupun offline.  Untuk menunjang usahanya, Ai  membeli sebuah telepon genggam (hp) seharga Rp 1,8 juta.  Sedangkan untuk pengerjaan batiknya diserahkan kepada saudaranya, dan ia yang mempersiapkan bahannya.  Guna bisa menambah modal, Ai menyisihkan keuntungannya dengan cara ditabung.

”Ini betul-betul masa prihatin, yang mana dengan modal sekira Rp 5 jutaan saya beli batik ke saudara sebanyak 125 potong, ” tutur Ai menceritakan awal usahanya kepada BB di Bandung.

Ia bersikukuh untuk berjualan batik, karena memang ia senang dengan batik. Menurutnya, jualan batik tidak ada resiko kadaluarsa, karena motif batik tidak akan pernah musnah sampai kapanpun.  Motif lama tetap banyak yang mencari.  Batik cap nya diproduksi di Garut, sedangkan batik tulis diproduksi di Tasik.  Dalam sebulan, Ai Hendrayani mampu memproduksi batik cap sekitar 500 potong, sedangkan batik tulis diproduksi antara 5-7 potong dalam sebulan.  Bahan baku yang digunakannya berupa kain mori yang berserat alam.  Sedangkan untuk pewarnanya, ia menggunakn warna alam dan warna pabrikan.  Harga untuk batik tulis dengan warna alam, dijualnya di atas harga 1 juta, dan dibuat sesuai selera konsumen.  Dalam proses produksinya, Ai menggunakan dua orang tenaga kerja tetap, kecuali bila ada banyak orderan, maka akan ditambah dengan pekerja lepas.

Penggemar warna merah dan hitam ini, serta penganut motto hidup “Tetaplah rendah hati” ini mengaku bahwa, dalam sebulan, produk batik cap nya rata-rata bisa terjual antara  300 – 500 helai, di luar pesanan.

Segmen pasarnya adalah masyarakat umum, karena saat ini pakaian batik tidak hanya digunakan untuk acara yang bersifat formal semata, tapi juga bisa digunakan dalam berbagai suasana dengan motif bebas.  Untuk produk batik cap Sawarna nya dijual seharga Rp 65.000 hingga Rp 75.000, dan untuk batik Dua warna / cabut warna dijual seharga Rp 80.000 hingga Rp 100.000.  Sedangkan untuk harga batik tulis dijual seharga Rp 250.000 hingga Rp 1.400.000.  Omset pejualannya tiap bulan mencapai Rp 15 juta hingga Rp 25 juta.

“Produk batik yang saya buat, berbeda bahan dan ukurannya dengan batik yang biasa dijual pasaran.  Konsumen produk batiknya lumayan banyak, sehingga saya selalu bersyukur karena bisa termotivasi untuk selalu berkarya,” tutur Ai.

Selama menjalani profesi sebagai pengusaha batik, ia mengaku semakin mencintai seni budaya, dan selalu ingin mencari ide untuk membuat motif baru.  Namun di sisi lain, terkadang ada temannya yang meminjam kain, tapi lupa mengembalikan. “Mungkin hal itu terjadi karena saya selalu percaya pada teman,” ungkap Ai Hendrayani.

Ibu dari Nadya Rahayu Oktaviany (25) dan Aditya Armando S. (20) ini mengatakan, agar produk kita tetap mempunyai daya saing dan tetap diminati konsumen, maka kita harus selalu inovatif dan memberi pelayanan yang berbeda kepada konsumen. Ai memberi nama batik GASIK untuk merk batiknya secara spontan, karena ia terpikir bahwa GASIK singkatan dari GAsik aSIK, yang mana menurut orang Sunda, Gasik itu gesit, sehingga artinya orang Garut itu gesit dan asik.

Menurut Ai, perhatian dari pemerintah masih terbatas, namun bukan berarti tidak ada.  Perhatian yang sudah diberikan berupa fasilitas melalui pameran dan bimtek. “Saya berharap, pemerintah tetap selalu memberi bimbingan bagi pelaku UMKM, terutama bagi mereka yang masih dalam tahap merintis atau belajar usaha seperti saya, dan masih harus menambah ilmu usaha.  Pemerintah diharapkan juga bisa membeli produk UKM, agar kami bisa merasa diperhatikan,” pungkas Ai Hendrayani kepada BB. (E-018)***