Membangun Desa Mencegah Urbanisasi

14

ARUS urbanisasi seringkali meninggi sehabis Idul Fitri. Para pemudik bukannya tak mengerti bahwa kota sesungguhnya bukanlah tempat yang ideal bagi mereka yang biasa hidup di kampung. Keakraban, kegotong-royongan, nilai-nilai persaudaraan yang ada di perdesaan, nyaris tak bakal dijumpai lagi di perkotaan. Budaya individualistis sangat kental mewarnai kehidupan di perkotaan. Kehidupan di kota yang cenderung keras acapkali menyebabkan setiap orang sibuk mencari hidup bagi dirinya sendiri. Kesibukan itulah yang menjadi salah satu pemicu tumbuhnya budaya individualistis.

Urbanisasi terjadi karena kota dianggap sebagai sumber mata pencaharian. Daripada di desa tak ada kerja, selain dari menjadi buruh tani, anak-anak muda desa lebih suka memilih kota. Mencari kerja lain selain hanya menjadi buruh tani yang kesannya kurang bergengsi. Lebih baik di kota menjadi kuli-pabrik ketimbang di desa menjadi buruh-tani. Padahal di kota sekarang ini mencari kerja bukanlah perkara gampang. Tak sedikit kaum urban yang memilih pekerjaan apa saja ketimbang tak punya pekerjaan. Celakanya, pekerjaan yang tidak halal pun tak mereka hindari pula. Mereka embat demi hidup. Daripada mati kelaparan di kota karena tidak punya uang, lebih baik mengambil pekerjaan apa saja yang sekira menghasilkan. Pekerjaan tak halal pun jadilah.

Orang-orang desa yang kadung memilih hengkang ke kota, biasanya jarang yang mau kembali ke desa sekalipun di kota tak memiliki pekerjaan tetap. Mereka lebih suka mempertahankan harga diri ketimbang harus pulang dengan risiko kehilangan muka. Mereka hanya bersedia kembali ke desa jika sudah memiliki sesuatu yang patut dibanggakan di desanya. Atau pulang dengan memaksakan diri mmperlihatkan sesuatu yang patut dibanggakan, sekalipun mungkin diperolehnya dengan cara-cara yang tidak halal.

Berurban bukanlah keinginan
Mereka yang memilih berurban ke kota, pastilah bukan karena tidak tahu bahwa hidup di kota lebih keras ketimbang di desa. Mencari makan sekedar untuk menyambung hidup di kota, tidaklah lebih mudah ketimbang mencari makan di desa. Medsos yang sudah merasuk ke perdesaan tentu membawa pesan seperti itu kepada generasi muda perdesaan. Mereka memilih berurban, lebih karena faktor untung-untu­ngan. Mereka sadar bahwa berurban tak ubahnya dengan mengadu nasib. Mereka yang nasibnya baik akan memperoleh kehidupan yang layak di kota, sedangkan mereka yang bernasib buruk tentu akan terlunta-lunta.

Hal semacam itu tentu bukan tidak mereka sadari. Kelangkaan pekerjaan di desalah yang membuat mereka memilih berurban. Jika saja mereka yang berusia kerja memperoleh penyaluran di perdesaan, tentulah mereka tidak akan memilih berurban. Mereka akan memilih untuk membaktikan dirinya di desa ketimbang hidup tanpa tujuan yang pasti di perkotaan. Untuk mencegah, atau setidak-tidaknya mengurangi, arus urabinasi itulah pemerintah memberikan perhatian khusus ke daerah perdesaan.

Anggaran yang tidak kecil dicadangkan untuk ­disalurkan ke perdesaan. Pemerintah sedang berusaha sekuat tenaga mewujudkan program ”satu desa satu produk” (one village one poduct). Namun program yang baik itu tidak berlangsung mulus. Selalu ada kendala dalam pelaksanaannya. Para pemangku kepentingan yang bertanggungjawab uuntuk memuluskan program itu terkesan ragu-ragu memberikan kepercayaan penuh kepada para penyelenggara di desa. Ketepatan penggunaan anggaran, seringkali dijadikan alasan oleh para pemangku kepentingan (yang tentunya orang-orang kota) untuk tidak menyalurkan anggaran yang menjadi hak masyarakat perdesaan itu secara tepat waktu. Benar, seringkai kita baca di suratkabar tentang terjadinya penyelewe­ngan anggaran yang dilakukan leh oknum kepala desa. Tetapi kita yakin lebih banyak kepala desa yang memanfaatkan anggaran yang dterimanya untuk membangun desa.

Sudah saatnya para pemangku kepentingan pembangunan perdesaan memberikan kepercayaan kepada para elit perdesaan membangun desanya masing-masing. Pengawasan tentu saja diperlukan sebagai salah satu upaya pencegahan dari kemungknan terjadinya penyelewengan. Program membangun desa dengan menyalurkan anggaran yang memadai, harus terlaksana. Kita percaya, hanya apabila desa-desa membangun dirinya, akan tersedia lapangan kerja bagi anak-anak muda usia kerja. Dengan demikian akan mencegah atau mengurangi arus urbanisasi, yang dampaknya seringkali menjadi persoalan besar di tanah air kita.***

Yayat Hendayana
Dosen Program Sarjana
dan Pascasarjana Unpas