Transportasi Berbasis Online Bergeser Layaknya Angkutan Umum

1816

BISNIS BANDUNG – Komisioner Komisi Pengawasan Persaingan Usaha Republik Indonesia (KPPU RI) Kodrat Wibowo mengungkapkan, dalam kacamata perkembangan teknologi, angkutan berbasis online merupakan hasil inovasi  jenis usaha non konvensional berdasar ide “sharing” sumber daya dalam  kepemilikan kendaraan.

Bila kemudian inovasi ini bergeser pada bisnis angkutan seperti layaknya angkutan penumpang umum  yang dipesan melalui aplikasi online , menurut Kodrat  , hal itu  sebagai akibat dari ketidakmampuan dalam mengatur bisnis angkutan . “Dalam pandangan saya potensi angkutan berbasis online di Indonesia  sama  dengan banyak negara lain, yaitu akan bernasib sama karena secara garis besar  diperlakukan sebagai pelaku usaha jasa transportasi  yang harus memenuhi banyak aturan dan persyaratan yang  berlaku, “ungkap Kodrat , Selasa kepada BB di Bandung.

Dikemukakan Kodrat , di Indonesia  pertumbuhan angkutan online  mengalami pertumbuhan signifikan mulai dari 2014-2017 karena masyarakat mulai terbiasa menggunakan telepon seluler  yang membutuhkan moda transportasi umum alternatif  yang lebih praktis jam beroperasinya. Indikator dari pertumbuhan tersebut  didownloadnya aplikasi gojek sebanyak 125 juta kali, belum termasuk jumlah mitra (ojek dan go-car) yang mencapai 1juta orang, khususnya di Indonesia saja. ” Grab juga tidak kalah mencengangkan dengan data 68 juta download aplikasi dan jumlah mitra (Grab-Bike dan Grab-Car) sebanyak 2 juta orang di 7 negara dan 142 Kota di Asia Tenggara,” ungkap Kodrat .

Namun perkembangan terakhir  Kodrat menyebut ,  setelah tahun 2017  terutama sejak banyak mencuatnya konflik dari pengemudi Gojek dan Grab (pasca Uber diakusisi Grab)  yang merasa pendapatannya terlalu kecil dan ditangani oleh beberapa kementrian dan lembaga termasuk KPPU-RI, menyebabkan timbulnya keluhan dari masyarakat pengguna layanan karena makin mahalnya tarif karena adanya aturan batas tarif bawah dan atas yang diberlakukan Kemenhub. ” Kita belum tahu pasti karena data belum tersedia, namun saya yakin Gojek dan Grab saat ini dan ke depan masih akan tetap survive karena layanan mereka  tidak hanya sebatas angkutan online , tapi sudah berkembang pada bidang layanan  Gopay, Gofood, Grab food dan lainnya,”tutur Kodrat .

Dijelaskan Kodrat , selama ini keunggulan angkutan berbasis online adalah kemudahan pemesanan, kecepatan merespon layanan, kepastian tarif dan jam operasi yang lebih panjang. Keunggulan ini akan  berkurang seiring dengan pembangunan layanan transportasi massal yang terintegratif di kota-kota metropolitan, seperti MRT , LRT dan lain lan. Namun turunnya keunggulan ini angkutan berbasis online tidak akan mengurangi apa yang mereka unggulkan di kota-kota kecil yang masih jauh dari ketersediaan layanan transportasi umum massal. Contoh jika melihat kasus di dua kota besar dunia , yakni London dan Paris , angkutan online tetap tidak terkalahkan oleh LRT, MRT, Busway karena keunggulan mereka dalam kecepatan waktu tempuh.

Menurut  Kodrat, dengan keluarnya peraturan tarif bawah dan atas untuk transportasi online, menjadi bukti pemerintah tetap melindungi kepentingan pelaku usaha transportasi konvensional. Meski demikian bahwa tumbuhnya online transportasi menjadi petunjuk bahwa  program pemerintah di bidang transportasi masih menjadi pekerjaan rumah  untuk diperbaiki dalam hal sinergitas antara kewenangan pemerintah pusat, daerah dan harmonisasinya  hal-hal teknis kementerian dengan lembaga lain  secara horizontal, juga dalam antisipasinya terhadap kemajuan dan perkembangan teknologi . Paling krusial adalah aturan tentang legal tidaknya ojek atau kendaraaan roda dua yang dalam UU perhubungan tidak boleh dijadikan angkutan umum beda halnya dengan kendaraan roda empat.

Ditambahkan Kodrat , kebijakan atau aturan yang harus dikeluarkan oleh pemangku kewenangan terkait beroperasinya angkutan umum berbasis online, adalah kebijakan yang bisa menjaga standard pelayanan angkutan umum,  baik yang terkait dengan operator maupun tenaga kerja yang ada di industri angkutan,  termasuk  aturan yang mengedepankan keselamatan, kenyamanan dan kelayakan pelayanan pada penumpang sebagai konsumen . (E-018)***