Efektifitas Program Kampung KB di Era Revolusi Industri 4.0 Tanda Tanya Besar

51

BISNIS BANDUNG — Penasehat Koalisi Kependudukan Untuk Pembangunan Jabar, H.Soeroso Dasar.BScFin.SE.MBA mengemukakan, secara kuantitatif “Kampung Keluarga Berencana” tumbuh. Tetapi apakah ” roh” dari kampung KB itu sendiri sudah Maksimal? dan seberapa jauh efeknya terhadap pemberdayaan masarakat sekitar perlu didiskusikan kembali “Program kampung KB, integritas secara fisik ya. Model program Kampung KB kan berkeinginan menyatukan kegiatan. Misalnya industri kecil, apakah Dinas UMKM yang selama ini membina dengan begitu saja ikhlas masuk ke Kampung KB? Dinas pemberdayaan masyarakat dan lainnya. Ini yang munurut saya jadi penghalang dibelakang hari. Ego sektor masih menonjol. Kok ujug-ujug BKKBN muncul dan secara implisit mengibarkan bendera kampung KB. Konsep yang bagus ini tentu tidak sederhana di lapangan. Seremonialnya oke, kelanjutannya?”, ungkapnya kepada Bisnis Bandung (BB), 18/05/19, di Bandung.

Soeroso Dasar mengatakan, Kampung KB konsepnya signifikan. Namun menjalankannya, agar menjadi sebuah kesatuan kekuatan di pedesaan tidak mudah. Contohnya bagaimana mensinergikan dengan konsep “one village one produck”. Filosofinya Keluarga kecil bahagia dan sejahtera. “Nah, kalau keluarga kecilnya dah oke tapi belum bahagia dan sejahtera terutama aspek ekonominya, diharapkan bisa terwujud melalui Kampung KB”

Dilain pihak, konsep sinergitas sudah sering didengungkan oleh berbagai pihak di pedesaan, hanya belum atau tidak dilembagakan seperti Kampung KB. Memang ada kekuatan lain yang turun-temurun seperti kegotong royongan dan kebersamaan. Namun harus dicatat, di era revolusi industri 4.0, itu hanya romantisme masa lalu. “Jangan terlalu banyak konsep sinergitas yang sama masuk desa, sehingga masyarakat tidak menjadi bingung, Disisi lain aparat dipedesaan pun sulit merumuskannya”.

Menurut Soeroso Dasar, konsep kampung KB baik, terutama ditujukan untuk peningkatan peradaban manusia. Bisakah kampung KB menjadi katalisator kemajuan desa? Itu perlu diuji. Artinya, ketika proyek sudah tidak ada, dana tidak ada dia bisa tumbuh dan berkembang sendiri. Bukan kegiatan yang anggaran habis Kampung KB pun padam. Simulasi Kampung KB sebaiknya tidak “uniform”, tetapi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Karena bila di “Mapping” sangat berwarna sekali desa-desa di Jabar. “Benar Kampung KB saat ini menjadi “primadona” BKKBN, tapi harus diingat “corebussines” BKKBN adalah masalah Kependudukan. Agar target tercapai, BKKBN harus merangkul mitra SKPD lain tanpa merasa diatur. Ini masalah manajemen koordinasi. Posisi tawar BKKBN saat ini relatif lemah karena bukan sebuah kementrian. Sementara SKPD yang dikoordinasikan adalah SKPD yang punya kementrian. Itu perlu digaris bawahi. Aspek manajemen juga dituntut karena Kampung KB sifatnya melebar” Masalah Politis dan In Migration jadi Tantangan Program KB.

Soeroso Dasar yang pernah bekerja dengan Harvard University USA selama 2 tahun tentang program KB di Indonesia, mengungkapkan, stigma tentang KB hingga saat ini positip. Tantangan KB di Jawa Barat adalah masalah politis dan “in Migration”. “In Migration” sulit dihindari dan merupakan harga yang harus dibayar dari suatu proses pembangunan. Terlebih pembangunan infrasruktur dilakukan dengan cepat membuat Jabar semakin terbuka. Masalah politis ini yang berat, masih ada kelompok yang menolak program KB. Kendati program sudah begitu lama. Ini masalah keyakinan. Maka BKKBN perlu melirik dan memprogram untuk masuk lebih jauh pada kelompok ini, pungkasnya kepada BB. (E-018)****