Perbangan Domestik Luar Jawa Boyong ke Kertajati

95

 TANGGAL  1 Juli 2019 merupakan batas akhir, maskapai penerbangan domestik, khusus pesawat jet terbang-turun  di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Hal itu merupakan kesepakatan semua maskapai penerbangan yang melayani penerbangan domestik  antar-pulau di Nusantara bersama Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Sejak pertengahan Juni ini, penerbangan domestik itu akan meninggalkan Bandara Husein Sastranegara (BHS), Bandung.

    Setelah akhir Juni tahun ini, Bandara Husein Sastranegara hanya melayani penerbangan antar-bandara di P. Jawa dengan pesawat propeller (berbaling-baling) dan penerbangan internasional. Para penumpang pesawat rute Bandung-Tasikmalaya atau Bandung-Kualalumpur, terbang-turun di BHS. Penerbangan domestik yang menggunakan pesawat propeller itu sesuai dengan luas dan kapasitas BHS.

    Menurut Menteri Perhubungan, BHS semakin padat bahkan masih banyak maskapai yang ingin menggunakan BHS sebagai bandara  turun-terbang pesawat domesrik atau internasional. Namun, menurut Menteri, slot di BHS sudah tidak mungkin melayani minat maskapai-maskapai itu. Bandung, sebagai kota yang sekarang sudah menjadi destinasi wisata, minat wisatawan datang ke Bandung terus berkembang padahal BHS sangat sempit. Banmdara yang dulu bernama Lapang Andir (LA) itu sudah tidak mungkin duiperluas lagi. Landas pacu sudah berbatasan langsung dengan wilayah permukiman. Satu-satunya cara, pemerintah—sdalam hal ini Angkasa Pura II, segera menata ulang penerbangan di BHS.

     Denghan boyongnya pesawat jet antar-pulau ke Kertajati, beban BHS akan lebih ringan. Apa lagi kelak, BJB Keertajati akan melayani penerbangan haji dan umroh. Hal itu selain memberi pelayanan terhadap jemaah, juga mengurangi beban Bandara Halim Persdanakusumah di Jakarta, dan Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang. Selama ini jumlah jamaah umroh dan haji dari Jabar, terbanyak di  Indonesia. Penggunaan BJB sebagai bandara naik-turun jamaah haji dan umroh, lebih memudahkan para jamaah. Mereka tidak harus masuk asrama haji di Bekasi atau Halim. Jamaah dari Jabar dan sebagian Jateng lebih evetif dan efisien bila terbang dari BJB Kertajati.

     Pemindahan sebagian rute penerbangan dari BHS ke BJB menjadi titik awal sibuknya penerbangan di Majalengka Utara itu. Fasilitas yang dibangun di BJB jauh lebih memungkinkan, meningkatnya volume penumpang dan frekuensi penerbangan. Pemerintah  jangan membiarkan BJB Kertajati yang dibangun dengan biaya tinggi itu, mangkrak. Sayang bila bandara terluas kedua di Indonesia itu, dibiarkan sepi di tengah hamparan daratan yang sangat luas. Pemerintah harus berusaha keras mengangkat BJB Keertajati menjadi bandara terbesar dan teramai di Jabar (Indonesia). Hal itu akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi Jabar, khususnya daerah  Subang, Majalengka, dan Indramayu (Sumayu).

     Agar masyarakat calon penumpang, mau tidak mau, menggunakan BJB Kertajati, fasilitas berupa infrastruktrur jalan, alur rel kereta api, bangunan berupa embarkasi haji,  hotel, apartemen menuju Kertajati harus dikebut.. Pembangunan kawasan industri di Segi Tiga Emas Sumayu, sebaiknya dilengkapi dengan sarana pendidikan, baik umum maupun khusus seperti sekolah penerbangan, awak pesawat, teknisi perawatan pesawat dan sebagainya.

      Bandara Husein Sastranegara lebih didorong sebagai bandara khusus pesawat turistik, pesawat carter, jet pribadi, pesawat olah raga,  dan sarana uji coba pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia. ***