Populasi Penduduk Dunia dan Usia Harapan Hidup

13

USIA Harapan Hiodup (UHH) global akan meningkat  Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan PBB (PBB) memprediksi tahun 2050 UHH meningkat sampai 77,1 tahun, naik dibanding tahun ini (72,6 tahun). Kenaikan UHH itu terjadi di negara-negara maju. Selain itu populsi penduduk di beberapa negara turun rata-rata 2,1 –2,2 persen, termasuk populasi di China antara tahun 2019 – 2050 yang turun rata-rata 2,2 persen.

    Secara demografis, terdapat benang merah yang jelas, antara tingkat pendidikan dan kesejahteraan penduduk dengan UHH dan penurunan angka kelahiran atau populasi penduduk di luar migrasi. Tingakt pendidikan dan kesejahteraan penduduk berkaitan erat dengan meningkatnya UHH dan penurunan angka kelahiran. Namun teori itu harus segera dikaji ulang ketika PBB merilis kenaikan populasi global. Pada tahun 2050 penduduk dunia akan mencapai 9,7 miliar. Naik 2,2 miliar dari jumlah tahun ini yani 7,2 miliar.

    Kenaikan jumlah penduduk itu terutama terjadi di sembilan negara yakni, India, Nigeria, Pakistan, Republik Demokratik Kongo, Etiopia, Tanzania, Indonesia, Mesir, dan Amerika Serikat. Negara dengan jumlah penduduk tetrbanyak yakni China,justru sejak 2019 ini mengalami penurunan populasi penduduk. Negeri Tirai Bambu itu tidak termasuk sembilan negara dengan populasi terbanyak. Bahkan sekarang India diprediksi akan menyalip China dengan kenaikan populasi yang signifikan (KOMPAS 19/6).

     Yang cukup mengagetkan, justru Amerika Serikat. Negara adidaya itu termasuk ke dalam sembilan negara dengan populasi tertinggi. Padahal secara teori, AS seharusnya menjadi pelopor penurunan angka kelahiran dibanding China dan India. AS merupakan negara dengan tingkat pendidikan tertinggi di dunia, kesejahteraan rakyatnya juga jauh meninggalkan negara lain. Namun populasi penduduknya justru tetap tinggi. Peningkatan jumlah penduduk di AS itru diduga akibat migrasi yang tidak kalah tinggi dibanding angka kelahiran.Migrasi dari negara-negara Hispanik, terutama Meksiko, secara ilegal, terus berlanjut hingga hari ini. Begitru pula gelombang pengungsi yang datang dari negara-negara konflik, terus mengalir. Mereka berusaha keras melawan gelombang laut, menuju bibir pantai AS di semua penjuru angin.

      Akan halnyua Indonesia yang menempati tempat ketujuh dari sembilan negara dengan populasi tertinggi, seyogianya mendapat perhatian khusus pemerintah dan aktivis kependudukan. Sejak dimulainya Program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia, selau bercermin terhadap gerakan kependudukan yang dilakukan China. Secara regulatif, China menerapkan pembatasan kelahiran berdasarkan regulasi khusus dan sangat ketat. Diperkirakan pada Melineal III, China akan mendapatkan bonus demografi, hasil manajemen kependudukan yang tertata baik.  Kaum mudanya lahir pada era pembatasan kelahiran dan sebagian anak muda itu menjadi diaspora di luar China. Merekalah yang sekarang menjadi garda depan pembangunan China.

       Menurunnya angka kelahiran dan meningkatnyab UHH, pada suatu saat akan terasa dampak negatifnya. Secara kuantitatif mungkin saja China akan mengalami kekuarangan tenaga berkualitas. Persediaan tenaga hasil bonus demografinya akan habis ”terpakai”. Tenaga kerja yang punya skill akan habis tanpa persiapan berupa kaderisasi. Namun tampaknya China tidak terlalu memikirkan itu, China masih belum termasuk negara yang mengimpor besar-besaran tenaga kerja malah sebaliknya mereka masih mengekspor tenaga kerja yang diikutsertakan pada proyek-proyek yang dibiayai dan dikerjalan para pemodal China di luar negerinya. Kalau kelak China kekuranagn tenaga berkualitas, mereka terlebih dahulu akan memanggil pulang para diaspora yang malang melintang dalam industri di luar China, termasuk di Indonesia.

      Sudah saatnya Indonesia tidak lagi bercermin terhadap gerakan kenpendudukan China. Kita sudah jauh tertinggal. China sudah mampu meninggalkan Amerika Serikat dan India yang pernah jadi pelopor program KB di dunia. Kita justru harus mulai lagi menata kependudukan bedasarkan manajemen kependudukan yang aktual namun masih relevan dengan niat awal melakukan program KB. ***.