Dishut Jabar Kembangkan Lebah Madu Trigona

8

BISNIS BANDUNG- Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat saat ini tengah mengembangkan potensi sumber daya alam  berupa pengembangan lebah trigona yang merupakan  salah satu jenis  lebah penghasil madu.  Pengembangan lebah madu trigona tersebut  merupakan anjuran Gubernur Jabar,Ridwan Kamil.

“Nantinya, ke depan Jawa Barat merupakan provinsi lumbung lebah madu yang berkualitas,” kata Kepala Dinas Kehutanan Jabar, Ir.H.Epi  Kustiwan pada acara  halal bi halal bersama rimbawan, pekan lalu.

Menurut dia, kabupaten/kota di Jawa Barat yang berpotensi untuk pengembangan lebah trigona, antara lain Ciamis,Cianjur,Kuningan, Bandung Barat, Cirebon, Subang, dan Majalengka. Pengembangan budi daya lebah serupa, tidak menutup kemungkinan juga di kabupaten/kota lainnya.

“Pembudidayaan lebah trigona sangat mudah. Yang penting punya pekarangan, tidak perlu terlalu luas, yang penting ada tanaman bunga bungaan.  Lebah trigona penghasil madu tidak membahayakan, tidak menyengat,” ujarnya.

Umumnya lanjut Epi,para pembudi daya lebah madu, sekali panen mendapat keuntungan yang cukup besar. Sedangkan untuk biaya pemeliharaannya  sangat kecil.

“Tapi kita harus ulet dan sabaran. Pokonya telaten,” ujar dia, seraya menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan makanannya, sama seperti lebah lainnya, lebah ini menghisap sari bunga-bungaan.

Karena itu, maka tempat pembudidayaan lebah trigona harus di kelilingi tanaman bunga-bungaan. “Ke depan, untuk tahun 2020, kami juga berencana membuat pengontrol lebah lingkungan,” katanya.

Ia menambahkan,  budi daya lebah madu sangat potensial untuk dikembangkan di Jawa Barat. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi, juga bermanfaat untuk konservasi dan penjaga lungkungan.

Madu yang dihasilkan oleh lebah sangat baik untuk kesehatan. Dengan membudidayakan lebah madu, masyarakat juga tidak akan menebang pohon karena sumber pakannya ada di tanaman (pohon).

“Yang penting masyarakat tidak menebang pohon, sehingga konservasi. terjaga. Lebah juga sebagai indikator lingkungan, karena hewan ini akan kabur bila ada pestisida,” kata Epi.

Selama ini, kata Epi lebah madu yang banyak dibudidayakan adalah jenis Apis Cerana dan Apis Mellifera. Jenis lebah ini menyengat, sehingga cukup menakutkan. Namun ada jenis lebah yang lebih kecil dari kedua jenis lebih tersebut dan tidak menyengat, yaitu lebah madu Trigona atau masyarakat mengenalnya dengan nama Teuweul.

“Lebah madu Trigona ini cocok dikembangkan di perkampungan atau taman di rumah. Bahkan kedepan akan dikembangkan di hutan-hutan kota, karena tidak menyengat,” paparnya.

Menurut Epi Kustiawan untuk memenuhi kebutuhan bibit lebah tersebut, pihaknya akan membangun pusat budidaya (Breeding Center) Trigona di Jatinangor Sumedang.

Sementara guna memenuhi pakan lebah, pihaknya mengembangkan tanaman yang sepanjang tahun berbunga seperti pohon kersen dan air mata pengantin.

“Tahun 2020 kita akan bangun breeding center untuk Trigona di Jatinangor. Kalau berhasil, masyarakat yang butuh akan diberi secara gratis,” ucapnya seraya menambahkan  budidaya lebah madu Trigona, telah dikembangkan oleh masyarakat di kecamatan Banjar Anyar kabupaten Ciamis. (B-002)***