OPOP Program Spektakuler Mengembangkan Kemandirian Generasi Agamis

22

BISNIS BANDUNG – Pendamping Wirausaha Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jabar, Arief Yanto Rukmana, S.T., M.M menyebut, OPOP (One Pesantren One Product) merupakan program terobosan yang spektakuler membawa generasi agamis  dalam mengembangkan kemandirian kewirausahaan.

Menurut Arief Yanto,  pondok pesantren di Jawa Barat yang menjadi percontohan kewirausahaan  di antaranya pesantren Daarut Tauhiid, yang mengajarkan kewirausahaan khusus pada programnya , yakni “Santri Mukim Akhlak Plus Wirausaha” juga  program  Keunitan Santri Niaga. Pemilik Daarut Tauhiid , selain sosok ulama dan pebisnis ,yaitu KH.Abdullah Gymnastiar. Putra putrinya notabene pelaku usaha berhasil yang memiliki bisnis inovatif dari fashion hingga bidang IT.

Dikemukakan Arief,  banyak pesantren menyambut baik program OPOP , bahkan beberapa  santri sudah memiliki produk  fashion hijab. Dunia pesantren juga memiliki banyak peluang tumbuh dan berkembang, apalagi ditunjang  dukungan pemerintah Jawa Barat khusus untuk memeratakan “One Pesantren One Product”, sehingga peluang kompetisi untuk menghasilkan produk tiap pesantren akan membangkitkan semangat kewirausahaan.

Menurut hasil analisisnya, sektor fashion/konveksi dan industri kuliner kemasan paling banyak  cepat tumbuh, hal ini karena pengaruh permintaan pasar  dan daya dukung digital marketing yang saat ini sedang dan hegemoni belanja online  meningkat yang didominasi oleh generasi milenial dengan gaya hidup masa kini. ”Untuk  Jawa Barat, saat ini trendnya memang naik karena stimulasi dan sosialisasi yang dilakukan oleh pemerintah dan stakeholder, peran pendamping wirausaha juga berperan mengangkat naiknya trend”, ungkap Arief kepada BB, baru-baru ini di Bandung.

Dikatakannya, kelebihan program OPOP paling terasa adalah bergeraknya dunia pesantren lebih masif dan sistematis dalam dunia usaha, pengembangan UMKM yang berakhlak mulia menjadi salah satu daya saing yang akan berpengaruh mengantarkan kemandirian ekonomi ummat terbesar. Ummat akan menjadi berdaya jika melalui perniagaan/perdagangan dengan yang sudah dicontohkan juga oleh gurunya “founding father” Indonesia, Hos Cokroaminoto pendiri Syarikat Dagang Islam.

Kekurangan atau kelemahan dari program ini, diakui Arief terletak pada sulitnya sosialisasi ke pesantren tertentu yang belum “open minded” terhadap program pemerintah, hingga membutuhkan waktu untuk  meyakinkan dan merangkul untuk mengikuti program OPOP yang bermanfaat .  OPOP, targetnya adalah menerapkan sistem, minimal pesantren memiliki produk  unggulan  yang dapat bersaing dalam kancah global menuju export produk. Manfaatnya bagi pelaku usaha adalah terbangunnya ekosistem bisnis yang lebih produktif dan simbiosis mutualisme, kebutuhan yang saling di lengkapi oleh komponen dari ekosistem bisnis . Di Bandung , paling baik dan menjadi percontohan program OPOP  adalah pesantren Daarut Tauhiid, dengan Kopontren (koperasi pondok pesantren)  plus SMM DT (supermarket),  selanjutnya paling banyak di  Tasikmalaya, seperti di pesantren Suryalaya, Pesantren Nias Ma’had Ihya Assunnah, produk yang dihasilkan, mulai dari makanan, fashion, craft dan beberapa lainnya yang didistribusikan melalui Kopontren

Perancangan program yang baik, lanjut Arief , memang membutuhkan waktu untuk memastikan benefit terserap oleh masyarakat dan utamanya jangka pendek dapat di rasakan langsung  saat perniagaan dan transaksi dari bisnis dan pemasaran produk. Manfaat jangka menengahnya terbangunnya ekosistem bisnis terintegrasi dengan program pemerintah , manfaat jangka panjang pengembangan program OPOP agar mampu menciptakan produk unggul siap  export ke pasar mancanegara.

Untuk saat ini , pemasaran  menggunakan digital marketing, produk wirausaha dari OPOP sudah sampai Malaysia, berupa fashion busana muslim dan  baju kurung.  Harganya relatif, kompetitif dan pelaku usaha online mulai memikirkan kualitas produk. “Pesaing terbesar produk hasil OPOP berasal  dari produk impor, mulai dari makanan hingga fashion dan lainnya, “ ujar Arief menjelaskan pesaing produk OPOP.

Arief berpendapat , pelaku OPOP, perlu diadvokasi untuk penguatan sistem yang membendung produk asing, agar tidak mudah untuk masuk ke pasar dalam negeri, mengingat saat ini sedang terjadi “war trade” antara Amerika melawan Cina yang berimbas pada pasar domestik , indikatornya  pada perang harga. Advokasi yang diharapkan dari pemerintah yakni memberikan layanan berupa Izin Dinkes, PIRT dan Halal, dalam upaya untuk men-standart-disasi  mutu produk layak konsumsi tingkat nasional,  juga perlindungan pemerintah untuk memberikan jaminan terhadap produk produk nasional Indonesia agar tidak mudah di bajak.  (E-018)***