Bisnis Bunga Kering Tetap Segar

19

Bunga identik dengan keindahan dan rasa sayang. Tak jarang orang akan memberi bunga kepada orang yang dikasihi. Tapi, kesegaran bunga ada batasnya. Kala sudah kering, acapkali orang langsung membuang bunga dan tangkainya yang sudah berubah tekstur menjadi kecoklatan dan lusuh.

Tapi siapa sangka justru dengan tekstur bunga kering itulah bisa menjadi peluang bisnis. Yakni dengan membuat rangkaian bunga dari bahan bunga kering. Malah, kreasi dari bunga kering ini tidak cuma melulu soal buket kembang saja atau standing flower. Pelaku usaha juga bisa mengemas bunga kering menjadi produk aksesori lainnya, seperti pembungkus ponsel, produk perhiasan dan masih banyak lagi yang lain.

Mahar Pengantin Terangkai Dalam Buket Bunga Kertas

Bisnis inilah yang digeluti Kartika Puspasari Kusnadi, melalui Magnolia Dried Flower. Ia merintis usaha ini sejak April 2015. Usaha ini berawal dari rasa sayang Kartika jika harus membuang rangkaian bunga yang ia miliki. Hingga suatu saat ia membuat satu kenang-kenangan bagi sang kakak ipar yaitu buket bunga pengantin kering dan dibingkai. “Suami saya bilang, kenapa tidak dibuat bisnis saja,” kenangnya.

Akhirnya ia mendirikan Magnolia Dried Flower dan bertindak sebagai kreator dan pembuat bunga kering. Sedangkan sang suami sebagai pemasar bunga kering racikanya. Saat ini, produk bunga kering garapannya sudah dikemas dalam ragam bentuk. Ada di dalam bingkai, kaca, tetarium (wadah tembus pandang) hingga standing flowers.

Ia sendiri membuat bunga kering dengan dua metode. Ada cara modern menggunakan mesin pengering serta cara konvensional yakni pengiringan dengan memanfaatkan udara dan silika.
Sedangkan fungsi dari bingkai dan pembungkus bunga kering lainnya adalah untuk mempertahankan tekstur dan bentuk dari bunga kering tersebut.

Produk yang sudah jadi ia jajakan dengan harga mulai dari Rp 150.000 atau berbentuk paket bunga kering pernikahan dan suvenirnya hingga mencapai Rp 8,5 juta. Dengan rancangan tersebut, Kartika saban bulan dapat orderan dari 85 klien dengan omzet sekitar Rp 200 juta.
Pemain lainnya adalah Nikita Nathani, pemilik Pretty Preserves. Ia memulai bisnis bunga kering pada awal 2017 setelah menyelesaikan studi di Australia. “Awal mula promosi di Instagram dan banyak yang naksir,” katanya.

Ia pun mulai perbanyak membuat produk bunga kering. Yang terbaru, pada Juli ini ia meluncurkan perhiasan gelang dan kalung dari bunga kering. Hasilnya, tak mau kalah dengan Magnolia Dried Flower, Nikita saban bulang bisa mendapat orderan ratusan aksesori dari bunga kering. Seperti 200 casing ponsel, ratusan gelang dan kalung.
Tekstur bunga yang sudah kering dan lusuh acapkali membuat keindahan bunga menjadi luntur dan menjadi sampah. Tapi, dengan kreativitas, bunga yang sudah kering justru bisa menjadi bahan baku buklet bunga kering hingga ragam aksesori dari bunga kering.
Aktivitas inilah yang digeluti oleh Kartika Puspasari Kusnadi, pemilik Magnolia Dried Flower dan Nikita Nathani, pemilik Pretty Preserves. Kedua perempuan ini sama-sama bergelut di bisnis bunga kering. Meski sama-sama terjun di bisnis serupa, tapi kedua wanita ini punya cara yang beda untuk membuat bunga segar menjadi kering.

Tak Hanya Bunga, Makanan Pun Dirangkai Jadi Buket

Contohnya Kartika, ia menggunakan metode pengeringan dengan mesin pengering. Tujuannya adalah supaya proses pengeringan bunga menjadi lebih cepat dari cara konvensional dan tekstur warna tidak terlalu tergerus. Ia juga memakai cara konvensional dengan memanfaatkan udara dan silika. “Jadi mixed keduanya,” kata Kartika.

Sedangkan Nikita lebih memilih memakai cara konvensional alias alami. “Saya memakai buku, yakni menaruh bunga didalam buku dan didiamkan selama dua minggu,” katanya.
Nikita mengklaim, hasil yang didapat dengan metode pengeringan secara alami bisa tahan lama ketimbang cara yang lain. Yakni bisa mencapai 10 tahun. Supaya tekstur dan bentuk dari bunga kering ini tetap utuh, para perajin, baik itu Nikita dan Kartika, melindungi aneka produk bunga kering, seperti buklet bunga dengan wadah kaca.

Sedangkan untuk bahan baku bunga, kedua pemain mengaku semua jenis bunga bisa menjadi bahan baku bunga kering, terutama untuk membuat buklet bunga. Untuk produk aksesori, biasanya menggunakan bahan baku dari bunga yang berukuran kecil-kecil.
Untuk pemasaran, Nikita masih mengandalkan pemasaran secara digital dengan memanfaatkan media sosial seperti Instagram. Kalau Kartika justru sudah memanfaatkan kedua jalur pemasaran, baik itu online maupun offline dengan adanya workshop yang ada di bilangan Gading Serpong.

Hasilnya, jalur pemasaran Kartika kini sudah menjangkau seluruh Indonesia. Lantaran ada juga pesanan dari luar negeri yang belum bisa ia realisasikan, ia pun berencana bisa menjangkau pasar luar negeri. Namun, ia tidak merinci waktu persis ekspansi pasar tersebut.
Yang jelas, dirinya harus terus bisa berinovasi, terutama dari sisi produk. Ia pun berupaya untuk bisa menciptakan dua produk baru dalam setahun untuk bisa menjaga persaingan bisnis dengan sesama pemain bunga kering. Sedangkan Nikita berencana mempunyai toko offline.
(C-003/Bbs)***