Gara-Gara Larangan Impor, Berhasil Bisnis Parfum

378

LARANGAN impor barang jadi termasuk parfum justru membawa berkah buat Syarif Salim Bahanan. Kebijakan itu malah mengantarkan penjual minyak wangi impor ini jadi produsen parfum.

Dengan mengibarkan merek dagang Dobha, pria kelahiran Bogor, 19 Juli 1984, ini memproduksi parfum sejak 2014 lalu. Kini, rata-rata penjualannya saban bulan berkisar 100.000 hingga 200.000 botol. “Omzet per bulan sekitar Rp 3 miliar,” imbuh Syarif.

Buat lulusan sekolah menengah atas (SMA) ini, parfum memang bukan dunia baru. Orangtuanya merupakan pedagang parfum sekaligus oleh-oleh haji. Selepas SMA, ia membantu di toko milik orangtuanya di Bogor selama 17 tahun.Baru pada 2012, Syarif memberanikan diri membuka toko parfum sendiri. Tentu, dengan restu orangtuanya. Dia memberi nama gerainya: Toko Marhaban, dan menjual parfum impor asal Jeddah, Arab Saudi.

Dua tahun kemudian, pasokan parfum mulai terganggu. Soalnya, pemerintah melarang impor barang jadi, termasuk parfum. Alhasil, parfum impor enggak boleh masuk ke Indonesia. “Banyak kontainer yang ketahan di pelabuhan,” kata Syarif yang mendapat pasokan parfum dari importir.

Buntutnya, stok parfum di Toko Marhaban banyak yang kosong. Walhasil, tak sedikit pelanggan kecewa gara-gara tidak bisa membeli minyak wangi. Lalu, muncul ide untuk membuat parfum sendiri.

Bermodal uang Rp 19 juta, Syarif merealisasikan ide tersebut. Sebanyak Rp 15 juta untuk sewa toko dan sisanya Rp 4 juta buat membeli bahan baku, kemasan, serta lainnya. Dan sejatinya, uang itu merupakan hasil penjualan parfum yang belum ia setorkan ke pemasok.

“Saya telepon pemilik parfum, namanya Abdul Aziz. Saya bilang, saya sudah pegang uang bapak tapi mau pinjam dulu untuk modal usaha. Dia membolehkan,” jelas Syarif.

Untuk bahan baku parfum, dia mendatangkan dari Prancis lalu meraciknya lewat proses yang tidak mudah, tentu. Apalagi, ia langsung membuat lima wewangian sekaligus.

Sebab, Syarif ingin menghasilkan parfum berkualitas sama dengan produk impor yang selama ini dia jual. Jelas, dengan kemasan botol yang apik pula. “Prinsip ATM (amati, tiru, dan modifikasi). Tapi untuk kualitas, saya tidak ada kompromi, harus baik,” tegasnya.

Setelah produk jadi, Syarif melakukan tes pasar kecil-kecilan. Ia pun keliling dari satu toko ke toko lain untuk menguji coba produknya. Ini guna mencari tahu, apakah pelanggan toko itu cocok atau tidak dengan parfum buatannya.

Ternyata, sambutannya sangat positif. Terlebih, Syarif menjual produknya dengan harga lebih murah tapi kualitas sama dari barang impor. “Dari situ kami dapat kepercayaan pelanggan,” katanya yang kemudian menggulirkan roda usaha berbendera Dobha.

Kata Dobha dia ambil dari Surat Al-’Adiyat yang artinya terengah-engah. “Kalau cium parfum, kan, sekali dua kali endus, persis kayak sedang terengah-engah,” jelas Syarif.

Begitu penjualan tokonya bagus, ia pun mulai memberanikan diri memasukkan produknya ke gerai parfum yang ada di Jakarta. “Saya pergi ke Tanah Abang, bawa beberapa contoh. Barang saya diterima di salah satu toko parfum dan bisa masuk ke sana,” ujar dia.Ternyata, penjualannya bagus. Di bulan pertama, satu dus parfum habis. Pada bulan kedua, hanya tersisa sedikit. Tapi di bulan ketiga, muncul masalah gara-gara yang mengelola toko berganti. Tidak ada satu pun parfum yang laku.

Bagi Syarif, itu tidak jadi problem sebenarnya. Yang jadi masalah, pengelola toko tersebut mengembalikan barang tanpa kardus sehingga berserakan dan banyak yang hancur. “Saya kalau begini berdoa saja kepada Allah dan mungkin ini jalan Allah untuk meninggikan derajat saya,” sebutnya.

Tak patah arang

Toh, Syarif tak patah arang. Ia tetap semangat mencari toko parfum lain. Kebetulan, dia punya teman yang memiliki toko parfum di daerah Condet, Jakarta Timur. Cuma, empat bulan berjalan, penjualan parfumnya tidak bagus. Si teman pun meminta Syarif untuk menarik barang dari tokonya.

Kebetulan lagi, di sebelah toko temannya, ada gerai parfum. Dia pun memasukkan produknya ke toko itu. Tentu, “Saya minta izin dulu ke teman saya, kan, ada etika ke teman dan saya enggak mau melanggar itu,” tambah Syarif.
Setelah tiga bulan, si pemilik toko mengembalikan produknya lantaran tidak laku.

Penyebabnya, parfum Dobha sama dengan produk impor dari Arab Saudi. “Kata pemilik toko, kalau mau memasukkan produk di tokonya, harus beda,” ujarnya.
Dari situ, Syarif lantas membuat parfum varian Rana Rani. Hasilnya, penjualannya oke. Dan tanpa disangka, si pemilik toko memintanya untuk mengirim kembali produk yang sama dengan parfum impor asal Arab.

“Setelah itu, saya merasa seperti durian runtuh. Dia merupakan jalan rejeki buat saya. Setiap hari dia order, saya sampai kewalahan karena belum ada pabrik karena order luar biasa itu di awal 2015,” imbuh dia.

Hanya, saat permintaan dari toko tersebut sedang tinggi-tingginya, nilai tukar rupiah melemah tajam terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Jelas, Syarif menjadi bingung: menaikkan harga atau tidak. Maklum, bahan baku dan botol kemasan parfum masih impor.
Tapi dengan mantap, dia memutuskan untuk tidak mengerek harga jual produknya. “Saya tetap optimistis. Alhamdulillah rupiah membaik, usaha saya pun membaik,” katanya yang menambahkan, kala dollar negeri Uwak Sam mahal, ia tidak bisa dapat margin usaha.

Bangun pabrik

Memang awalnya, parfum bikinannya jadi opsi kedua. Banyak konsumen masih memilih produk impor. Tapi sekarang, justru Dobha menjadi opsi pertama banyak konsumen.
Dari hanya lima, kini produknya memiliki 200 varian aroma. Cuma, ia mengungkapkan, tak semua aroma memperoleh sambutan positif dari konsumen. “Ada puluhan varian yang enggak laku. Jadi memang, inovasi harus saya lakukan terus menerus,” ujar Syarif.
Menariknya, kebanyakan orang melakukan inovasi saat pasar sedang jenuh. Tetapi tidak buat Syarif. Dia berinovasi saat pasar sedang bagus-bagusnya.
“Saya manfaatkan sifat alamiah manusia. Di otak manusia, tentu ada perasaan penasaran ingin mencoba sesuatu yang baru,” katanya.

Ilmu ini ia dapat dari sang ayah yang juga menjadi mentornya. Dengan memanfaatkan sifat alamiah manusia itu, Syarif yakin, pelanggan akan mencoba varian baru parfumnya.
Untuk menciptakan varian anyar, dia terkadang mencari ide dengan berselancar di dunia mata. Tak jarang pula, mendapat ilham dari teman-temannya. “Jadi, inspirasi bisa dapat dari mana saja,” ucapnya yang juga membuat produk spray berupa pen dan pocket spray.
Tentu, seperti pebisnis kebanyakan, Syarif pernah merugi akibat kena tipu orang. Ia berkisah, pernah ada pembeli dari Sumatra dalam jumlah besar yang meminta untuk kirim barang dulu baru bayar.

Pengiriman pertama dan kedua tidak ada masalah. Si pembeli membayar semua tagihan begitu barang sampai.

Yang ketiga, sebetulnya pembeli itu mengirim uang muka (DP) terlebih dahulu. Namun, setelah barang terkirim, pembeli tadi tidak melunasi sisa pembayaran. Cuma, “Ini hal biasa dalam bisnis,” tegas Syarif.

Selain Sumatra, pembeli parfum Dobha juga dari daerah lain di luar Pulau Jawa. Ini berkat peran 1.500 agen yang tersebar di seluruh Indonesia.
Ribuan agen ini ada di bawah satu agen besar. “Sistem ini penting karena banyak yang mau jadi agen. Supaya enggak repot, saya pegang satu agen saja yang besar itu, jadi dia yang mengurus keagenan,” terangnya.

Dan, bukan cuma dalam negeri, parfum Dobha merambah pasar ekspor, mulai Filipina, Singapura, Malaysia, Pakistan, Nigeria, hingga Somalia.
Seiring permintaan yang menanjak, Syarif pun membangun pabrik di daerah Serpong, Tangerang Selatan pada 2017. Ia berkongsi dengan temannya. “Pabriknya seluas 500 meter persegi. Saya bangun setelah keluar izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM),” tambahnya.

Di tahun yang sama, dia menaikkan status usahanya jadi perseroan terbatas (PT). Namanya: PT Dobha Putra Salim yang berkantor di Bogor. Jumlah pekerjanya total 69 orang. Ke depan, Syarif berencana memproduksi bahan baku parfum dan bukhur atau dupa. “Saya lihat potensi bukhur di Indonesia. Harapannya, juga bisa bikin pabrik di Bogor,” ujarnya yang sudah punya lahan di daerah Cibalagung. (C-003/BBS)***