Merintis Giyomi dari Kamar Indekos

10

PADA mulanya, Meldy Prasetyo dan Nadia Prasetyo cuma ingin punya tambahan uang jajan. Itu sebabnya, sambil kuliah, kakak beradik ini berdagang apa saja, mulai jilbab hingga selubung alias casing telepon seluler (ponsel).

Barang dagangan mereka beli dari pusat perbelanjaan yang ada di Surabaya. Lalu, keduanya memotret dan mengunggah foto-foto produk itu ke akun Instagram, bertajuk Giyomi Shop.
Ternyata, yang beli banyak, terutama teman-teman satu kampus Meldy dan Nadia di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Akhirnya, mereka memutuskan untuk memproduksi pakaian sendiri. ”Masih kecil-kecilan, baru 12 potong per model,” kata Nadia.

Kini, dengan mengusung bendera Giyomi.id, saban bulan Meldy dan Nadia memproduksi tak kurang dari 5.000 potong pakaian wanita. Omzetnya, sekitar Rp 400 juta sebulan.
Kedua perempuan kelahiran Trenggalek ini memulai usaha jualan bermacam produk pada 2013. Saat itu, Nadia baru saja masuk kuliah, sedangkan Meldy sudah di tingkat dua. ”Cuma ingin punya tambahan uang jajan, biar enggak ngerepotin orang tua kalau kami mau nonton, makan, beli baju. Alasannya sesimpel itu,” ujar Nadia.

Modal awalnya, Nadia mengungkapkan, hanya ratusan ribu rupiah. ”Itu diambil dari sebagian uang beasiswa. Kak Meldy kan dapat beasiswa,” ungkap perempuan 24 tahun ini.
Lantaran mendapat respons bagus, Meldy dan Nadia mulai mengambil barang ke Pasar Tanah Abang, Jakarta. Sejak itulah mereka fokus cuma jualan produk fesyen perempuan.
Mulanya, mereka hanya menjual pakaian berkerah yang mereka suka. Jadi, ”Kalau enggak laku, ya, dipakai sendiri saja,” kata Nadia tertawa. Karena itu, mereka hanya beli selusin per model.

Ternyata, produk pakaian yang Meldy dan Nadia suka juga disenangi teman-teman satu kampusnya. Alhasil, sebulan sekali, mereka ke Tanah Abang membeli barang dagangan.
Meski memasok barang dari Tanah Abang, sejak awal dua bersaudara ini memberi label ulang (relabeling) dengan merek Giyomi pada produk-produk jualan mereka.
Kata Giyomi mereka ambil dari judul lagu Korea, Gwiyomi.
Meldy memang sangat suka musik Korea. “Karena orang Indonesia susah ngomong Gwiyomi, diubah jadi Giyomi. Kan, nama ini unik, lucu, bikin orang penasaran,” jelas Nadia.

Toko di kamar kos

Selain jualan lewat Instagram, keduanya sering ikut bazar, termasuk membuka lapak di kawasan car free day atau acara dadakan di kampus. Mereka sengaja jualan dari bazar ke bazar untuk lebih memperkenalkan merek Giyomi, dan minimal ada yang jadi pengikut (follower) akun Instagram Giyomi.

Cuma, karena banyak yang tanya soal toko, akhirnya mereka nekad menjadikan kamar kos sebagai gerai offline. “Kamar kos penuh dengan baju-baju yang dicantelin. Karena kan kami belum sanggup sewa tempat,” imbuh Nadia.

Meski cukup laku, pada tahun pertama berdagang, ada juga stok pakaian yang tak habis terjual. Biar laku, Meldy dan Nadio memberikan diskon“atau mengadakan bundling. “Sebetulnya, sudah untung, tapi kalau barang ini enggak keluar, bisa menghambat roda usaha kami, arus kas nggak muter,” ucap Nadia.

Seiring naiknya penjualan dan pelanggan yang bertambah, keduanya mulai memproduksi kemeja sendiri pada 2014. Modal awalnya sekitar Rp 5 juta. Walau banyak order, mereka belum memproduksi dalam skala besar. Sebab, mereka masih mencari penjahit yang cocok.
Menurut Nadia, kalau tidak memproduksi sendiri, maka usaha mode mereka tidak bakal berkembang. ”Kami tidak tahu sampai kapan supplier kami ada. Kalau mereka bangkrut bagaimana, kami juga yang repot,” ujar jebolan Fakultas Vokasi Unair ini.
Dus, dengan memproduksi sendiri, mereka bisa memotong biaya. Ujung-ujungnya harga jual produk bisa lebih murah.

Untuk menemukan penjahit dan bahan baku yang benar-benar sesuai kriteria, Meldy dan Nadia membutuhkan waktu satu tahun. “Sampai kami ke luar Surabaya, ke Jakarta juga ke Bandung,” ungkap Nadia.

Selama setahun masa pencarian penjahit dan bahan baku itu, Nadia dan kakaknya tetap membikin produk sendiri. Tentu, dengan penjahit dan bahan baku yang ada dulu. “Untuk tes pasar, lempar ke pasar, gimana responsnya,” kata Nadia.

Pada 2016, Meldy dan Dania benar-benar memproduksi sendiri sebagian produk dengan cara merekrut penjahit. Saat ini, ada enam penjahit yang bekerja di rumah produksi mereka. Keduanya mempekerjakan satu pengawas untuk mengelola keenam penjahit tersebut.
Nadia mengakui, sampai sekarang sebetulnya urusan penjahit masih menguras pikiran dirinya dan Meldy. “Tapi, sejak punya penjahit, mengura­ngi kepusingan,” sebutnya.

Sementara, sebagian produksi lainnya masih mereka serahkan ke penjahit mitra. Dua tahun belakangan, penjahit mitra hanya boleh mengerjakan pesanan dari Giyomi.id. Selain kemeja, keduanya memproduksi blouse, hoodie, jogger pants, rok, juga waist bag.

Nah, sejalan dengan penjualan yang menanjak, sejak 2014 pula, Meldy dan Nadia mengontrak sebuah rumah yang tak jauh dari kos mereka sebelumnya. Selain untuk tempat tinggal, rumah itu juga buat gerai sekaligus gudang. Keduanya juga merekrut seorang karyawan untuk menjaga toko.

Karena makin ramai pembeli yang datang ke toko, Meldy dan Nadia menyewa rumah yang lebih luas. Sekarang, mereka punya gerai sendiri di daerah Kertajaya Indah Tengah.
Ini merupakan kawasan kampus, di mana ada Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), STIE Perbanas Surabaya, dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Kolaborasi pemasaran

Sejak mengusung merek Giyomi.id pada 2015, Meldy dan Nadia mulai serius dengan branding. Makanya, untuk menghasilkan foto-foto produk yang tampil di akun Instragram, mereka menggunakan model dan fotografer profesional.

Cuma, Nadia menceritakan, mulai tahun 2016, persaingan luar biasa ketat terutama di jalur online. “Dari situ, kami merasa harus punya nilai tambah. Kemudian juga bikin acara yang bikin gaduh. Marketingnya harus ngoyo,” ucap dia.

Ambil contoh, Giyomi.id berkolaborasi dengan merek kosmetik Wardah pada 2017. Mereka sama-sama meluncurkan produk baru di Surabaya. “Kami mengundang influencer, selebgram, dan bagus responsnya,” ungkap Nadia.

Sejauh ini, dan amit-amit, mereka belum pernah mengalami kejadian kena tipu pembeli. Soalnya, keduanya baru mengirim barang jika pembeli sudah mentransfer uang.
Kalau soal stres apalagi di awal-awal usaha, Nadia menuturkan, jangan ditanya lagi. Maklum, mereka masih mengurus segala sesuatu berdua saja. Termasuk, mengemas dan mengirim barang pesanan pembeli.

”Pernah, waktu lagi ujian kuliah, pesanan pas banyak-banyaknya, kami stres banget. Kami belajar sambil nangis, karena merasa enggak sanggup, tertekan,” kenangnya.
Belum lagi kalau ada komplain dari pelanggan. Apa lagi, sering kali bahasanya sangat pedas, bikin sakit hati. ”Tapi, tetap harus kami layani de­ngan ramah, karena kan pembeli adalah raja,” ungkap Nadia.

Keuletan dan kesabaran ini yang kemudian mengantarkan usaha Meldy dan Nadia berkembang cepat. Kini, selain di Surabaya, mereka punya gerai di Malang. Gayomi.id juga ada di Shopee. “Awalnya mau punya website sendiri saja, tetapi rupanya pelanggan lebih suka lewat Shopee,” ujar dia.

Ke depan, dari sisi pemasaran, keduanya berencana akan kembali berkolaborasi dalam peluncuran produk khusus. Untuk produk baru biasa, selalu muncul setiap bulan, tapi tanpa launching besar-besaran.

Saat ini, mereka sedang kolaborasi dengan makeup artist (MuA) Fathi Nurimaniah sebagai endorse produk-produk Giyoni.id. Hasilnya, dalam seminggu, Instagram Giyoni.id bertambah 15.000 pengikut.

”Kami benar-benar pilih-pilih, kami ingin yang jadi endorser punya nilai tambah, juga banyak penggemarnya,” tegas Nadia. (C-003/KNTN)***