Teknologi Bikin Akses Klinik dan Sekolah untuk Semua

5

CEO Gojek Nadiem Makarim mengatakan teknologi yang tepat mampu merealisasikan akses untuk semua orang terkait dengan kesehatan dan sekolah.
Dia menuturkan dengan teknologi yang tepat akan merobohkan ‘tembok’ fisik yang membatasi klinik atau sekolah dari akses semua orang. Sehingga, katanya, langkah yang perlu dilakukan adalah memastikan infrastruktur digital sudah berada di arah yang tepat.

“Dengan teknologi yang tepat, layanan cek kesehatan bisa dilakukan di daerah terpencil sekalipun, dan anak-anak di manapun dapat mengakses pendidikan berkualitas,” kata Nadiem seperti dilansir Channel News Asia, Kamis (20/6).Untuk mewujudkannya, lanjut Nadiem, langkah pertama adalah memastikan bahwa fondasi dan infrastruktur digital sudah tepat, karena layanan digital yang paling sederhana pun memerlukan akses listrik dan internet.

Selanjutnya, diperlukan lingkungan bisnis yang kondusif, tak hanya ramah terhadap perubahan teknologi, namun terdapat regulasi dan infrastruktur digital yang mendorong inovasi untuk berkembang.
“Di masa depan yang serba digital, diperlukan kerja sama antarpemerintah yang terbuka terhadap inovasi di sektor publik, serta sektor swasta yang mengembangkan inovasi,” tambah Nadiem.

Nadiem pun mencontohkan soal Halodoc yang memiliki jaringan mitra 20 ribu dokter dan seribu apotik yang dapat membantu 2 juta pengguna untuk akses kesehatan. Halodoc juga bekerja sama dengan Gojek untuk menghubungkan pasien dengan apotik.
Sedangkan untuk pendidikan, pria itu mencontohkan layanan bimbingan belajar daring Mindspark, yang menggunakan adaptive learning. Ini adalah untuk menemukan kebutuhan khusus seorang siswa untuk bimbingan belajar yang lebih mendalam.
“Manfaat lainnya, pembelajaran digital menjadi lebih efisien secara biaya dibandingkan dengan pembelajaran tradisional di sekolah,” katanya.
Nadiem mencontohkan kedua hal itu adalah bagaimana teknologi dapat memecahkan masalah spesifik.

Kolaborasi Pemerintah-Swasta
Di Indonesia, perkembangan aplikasi perangkat lunak untuk perawatan kesehatan dan pendidikan telah menarik minat banyak investor. Namun, untuk mewujudkannya, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta.
Menurut Nadiem, negara yang mengimplementasikan teknologi dengan tepat akan merasakan dampak positif yang luar biasa dari disrupsi digital yang sesungguhnya.
“Mereka akan dapat mentransformasi penuh layanan kesehatan dan pendidikan, sehingga mampu menghasilkan tenaga kerja yang sehat dan mumpuni secara teknologi, dan menjadi pemimpin di Asia. Inilah potensi yang dapat direalisasikan oleh Indonesia jika kita semua siap digital,” paparnya. (C-003/asa)***