”Dipaksa”  ke Kertajati

515

MINGGU pertama pengoperasian Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, masih tampak sepi. Penerbangan dari dan ke Kertajati yang dilayani 26 maskapai masih belum mengungkit Kertajati menjadi bandara sesibuk Bandara Husein Sastranegara di Bandung apalagi dibandingkan dengan Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng.

     Para calon penumpang yang berasal dari Bandung, Cirebon, dan sekitarnya masih agak kikuk ketika akan berangkat ke Kertajati maupun yang baru turun dari pesawat. Mereka agak sulit mendapatkan kendaraan antarmoda. Kendaraan masal trayek Cirebon-Kertrajati masih jarang. Apalagi trayek Kertajati- Tasikmalaya, Ciamis, Brebes, Sumedang belum tersedia dengan jadwal yang pasti. Hanya trayek Bandung-Kertrajati –pp yang sudah terjadwal yakni bus antarmoda yang dilayani Damri. Pelayanan moda angkutan  Kuningan-Majalenfka-Kertajati saja masih jarang.

     Akibat fasilitas dan pelayanan yang masih belum tertata baik itulah penyebab utama, sepinya BIJB Kertajati. Para calon penumpang masih lebih banyak yang memilih Bandara  Soeta. Meskipun harus ”berjibaku” karena macet, mereka merasa lebih nyaman, dan sudah terbiasa, menggunakan Bandara Soeta. Calon penumpang dari Bandung dan sekitarnya, dari Cirebon dan sekitarnya, apalagi yang berdomisili di kota-kotra Jawa Tengah bagian barat, merasa belum terbiasa berangkat/pulang ke/dari Kertajati.

      Melalui peraturan atau regulasi, maskapai penerbangan dapat “dipaksa” eksodus ke Kertajati.  Namun mereka tidak mendapat jaminan, penerbangan dari dan ke Kerjatai akan booming.Sekarang yang ”dipaksa”  nasuk stabplat BIJB itu baru pesawat yang mengambil rute antar-pulau, dari Jawa ke Bali, Sumatera, Kalimantan, NTB, dan sebagainya. Itu pun dibatasi hanya pesawat jet saja. Sedangkan yang masih beroperasi di Bandara HSN Bandung, ialah pesawat berbaling-baling  yang melayani penumpang antar-kota di Jawa dan penerbangan internasional.

      Secara opwe trasional, semua maskapai penerbangan yang biasa mangkal di HSN Bandung, besedia “ngetem,” di BIJB Kertajati. Namun seyogianya pemerintah menjamin, dal;am waktu yang tidak terlalu lama, penerbangan dari dan ke Kertajati itu benar-benar masif. Hampir semua calon penumpang mau naik pesawat dari Kertajati. Sebaliknya mereka bersedia pula masuk Jabar melalui Kertajati. Jaminan itu menjadi penting agar maskapai penebangan serta calon penumpang merasa dimudahkan terbang dan turun di Kertajati.

     Sekarang pemerintrah dapat “memaksa” maskapai dan calon penumpang menggunakan Keergtajati namun pada satju saat, ketika jaminanm dan fasilitas itu tidak terwujud, mereka akan enggan teerbang dan turun   di Majalengka Utyara itu. Dalam waktu yan g tidak tderlalu lana, pemefrintah harus dapat merampungkan semua renvana pembangunan kebandaraan dan infrastruktur lainnya di luar kebandaraan. Infrastruktur yang harus diselesaikan segera itu ialah Jalan Tol Cisumdawu.Pembangunan tol yang membelah Sumedang itu tidak selesai sesuai tatrget. Ternyata masalah klasik, yakni pembebasan tanah masih menjadi kendaala.

     Diharapkan jalan itu tidak hanya sampai ke Dawuan tetapi harus tersanmbung (terkoneksi) dengan BIJB Keertajati. Begitu pula jalur kereta api Rancaekek-Tanjungsari, sebaikinya tidak sependek itu. Jalur kereta api paling ideal, Bandung-Cirebon nelalui jalur Tanjungsari-Sumedang-Cirebon. Agar jalan kereta Api itu terkoneksi dengan BIJB Kertajati, idealnya dibangun stasiun besar di daerah Jatiwangi. Dari sana calon penumpang pesawat terbang diberi fasilitas berupa angfkutan khusus Jatiwanmgi-Kertajati pp. Jalur kereta api bandara itu sebaiknya gratis. Calon penum[ang kereta bandara itu harus dapagt memperlihatkan tiket pesawat,  untuk menggindar I penumpang gelap. ***